Melepaskan Genggaman

Sabtu, 5 April 2014

Ada sebuah kisah yang pernah saya baca dalam sebuah buku renungan. Alkisah ada seorang tua yang sangat menyayangi tanah kelahirannya. Ketika ia meninggal, ia sempat membawa segenggam tanah dari pulau tempat kelahirannya itu. Ia pun tiba di depan pintu surga dan Allah mempersilakannya masuk ke dalam pintu surge, tetapi Allah memintanya untuk meninggalkan tanah yang digenggamnya. Orang tua itu menolak dan berkata, “Aku tidak akan pernah melepaskan tanah ini!”. Waktu pun berlalu dan Allah kembali mengajak orang tua itu untuk masuk ke dalam surga, tetapi orang itu tidak juga mau melepaskan tanah yang digenggamnya. Akhirnya Allah datang dalam rupa seorang anak kecil lalu membujuk orang tua itu untuk masuk ke dalam surga. Pada waktu itu, orang tua itu telah menderita arthritis dan tangannya tidak lagi kuat menggenggam tanah dari pulau tempat kelahirannya. Akhirnya tanah itu pun lepas dari genggamannya dan orang tua itu pun masuk ke surga. Hal pertama yang dilihatnya ialah pulau tempat kelahirannya yang sangat dicintainya.

Kisah ini sepintas mengingatkan saya akan perlunya melepaskan segala sesuatu ketika Tuhan meminta kita untuk melepaskannya. Kita sering tidak sadar bahwa kita menggenggam sesuatu begitu erat karena kita merasa bahwa tanpa hal atau sesuatu itu, kita tidak akan bahagia. Namun, Tuhan punya rencana lain. Tuhan tahu apa yang terbaik untuk hidup kita. Ia pun tahu bahwa apa yang kita genggam dengan erat saat ini bisa jadi tidak akan membawa kita kepada tujuan tertinggi yang telah dirancangNya untuk kita.

Banyak contoh terjadi dalam kehidupan kita. Ada salah seorang teman saya yang begitu mengasihi kekasihnya. Suatu ketika, kekasihnya ingin mengakhiri hubungan mereka. Teman saya begitu sedih dan ia tidak bisa menerima hal itu. Ia masih saja berusaha menghubungi mantan kekasihnya itu, berharap bahwa mereka akan dapat kembali bersama. Sebenarnya saya merasa sedih melihat kondisi seperti itu. Namun, saya pun bisa memahami mengapa teman saya bersikap seperti itu. Tentu tidak mudah untuk menghilangkan perasaan cinta kasih kepada seseorang, apalagi setelah mungkin hubungan itu berlangsung cukup lama. Akan tetapi pada saat seperti itu, seringkali pikiran kita tertutup akan rencana Tuhan. Yang ada dalam benak kita adalah keinginan untuk mempertahankan apa yang kita rasa baik dan kita takut untuk memulai suatu keadaan yang baru. Kita takut ketika kita kehilangan seseorang atau sesuatu yang sudah lama begitu penting untuk kita, kita akan kehilangan jati diri kita, kita akan menjadi bingung dan tidak tahu apa yang akan terjadi.

Saya pernah membaca salah satu ungkapan yang menarik dari sebuah posting teman saya di situs jejaring social. Ungkapan tersebut dalam bahasa Inggris, berbunyi demikian, “Sometimes removing some people out of your life makes room for better people”. Ungkapan ini mengingatkan bahwa setiap pertemuan dan perpisahan selalu mengandung rencana Tuhan. Mungkin saja Tuhan memisahkan kita dengan seseorang untuk mempertemukan kita dengan orang lain yang jauh lebih baik. Hanya saja, kita sering terlanjur nyaman dengan kondisi sebelumnya sehingga kita menjadi takut tidak akan menemukan orang lain yang lebih baik. Padahal kita tahu, ketika satu pintu tertutup, masih ada banyak pintu lain yang bisa terbuka.

Memang secara manusiawi tidak mudah untuk bisa melepaskan dan merelakan sesuatu yang sudah lama ada dalam genggaman kita. Tidak hanya mengenai pasangan hidup, tetapi termasuk juga harta benda duniawi yang sekarang ini sudah sangat melekat dalam hidup kita, seperti handphone atau smartphone. Kadang begitu sulit rasanya untuk hidup tanpa smartphone yang biasanya menemani kegiatan kita. Padahal kalau kita mengingat-ingat kehidupan kita sebelumnya, tanpa keberadaan handphone atau smartphone pun kita masih bisa beraktivitas dengan baik. Hanya saja setelah kita terbiasa memiliki sesuatu, seolah-olah kita tidak bisa hidup tanpanya.

Salah satu pelajaran berharga yang saya dapat ketika SMA adalah pelajaran mengenai sikap lepas bebas yang diteladankan oleh Santo Ignatius de Loyola. Sikap ini mengajarkan kita untuk tidak terikat pada hal apapun di dunia. Kita harus sadar bahwa tanpa hal-hal duniawi yang ada, kita masih dapat hidup dengan baik. Dengan meneladani sikap lepas bebas ini, kita tidak akan mudah terikat dengan hal atau apapun yang ada di dunia. Tanpa smartphone, kita masih bisa menjalani aktivitas kita dengan baik. Tanpa seseorang yang biasanya begitu dekat dan perhatian dengan kita, kita pun masih bisa menjalani kehidupan kita dengan penuh. Hal ini bukan berarti kita tidak peduli dengan apa yang ada di sekitar kita, tetapi lebih pada komitmen kita untuk tidak terlalu terikat pada materi. Hanya pada Allah sajalah kita patut berpegang. Maka ketika Tuhan meminta kita atau membiarkan sesuatu terjadi sehingga apa yang ada dalam genggaman kita, apa yang kita miliki, apa yang selama ini selalu ada untuk kita, lepas dari diri kita, percayalah bahwa itu akan membawa kita pada keadaan yang jauh lebih baik. Semua itu terjadi sesuai dengan rencanaNya. Ia menutup pintu yang satu untuk membawa kita pada pintu berkat yang lain, dan percayalah bahwa berkat yang disediakan Tuhan akan jauh melebihi apa yang bisa kita pikirkan dan kita bayangkan.

Sahabat-sahabat terkasih, marilah kita mencoba untuk bersikap lepas bebas, dan membiarkan rencana Tuhan terjadi dalam hidup kita. Taatilah Tuhan ketika Ia meminta kita untuk melepaskan genggaman kita akan sesuatu atau seseorang, dan percayalah sesuatu atau seseorang yang lebih baik telah disediakan Tuhan untuk kita. AMDG.

 

Advertisements
Uncategorized

One thought on “Melepaskan Genggaman

  1. Pingback: Melepaskan Genggaman | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s