Menjaga Relasi dengan Tuhan

Kamis, 9 Januari 2014
Hari ini saya baru saja mengikuti perayaan Natal bersama se-kabupaten Tuban. Menyenangkan rasanya berkumpul bersama rekan-rekan seiman, sekalipun sebagian besar tidak saya kenal.
Malam hari ini sebenarnya saya berencana untuk tidur lebih awal, karena besok pagi saya harus berangkat kerja lebih awal juga. Namun, ketika bersiap membaca firman Tuhan, tiba-tiba suatu pemikiran melintas dalam benak saya. Saya akan merasa sangat bersalah jika saya tidak menyampaikan apa yang muncul dalam pikiran saya tadi, karena saya percaya Tuhan ingin saya menuangkannya sehingga akan bermanfaat bukan hanya untuk diri saya sendiri, melainkan juga untuk semua orang yang membaca tulisan saya ini.

Sebenarnya apa yang muncul dalam pikiran saya tadi adalah sebuah tema yang sangat biasa. Saya berefleksi dari pengalaman saya selama beberapa hari terakhir. Sejak awal tahun ini, sebenarnya saya masih bisa menjaga dengan cukup baik kebiasaan saya untuk membaca dan merenungkan firman sebelum tidur. Namun, selama beberapa hari terakhir di minggu ini, saya begitu lelah ketika malam tiba. Saya pun beberapa kali sempat tertidur di depan laptop seusai mengerjakan sesuatu yang jelas tidak ada kaitannya dengan merenungkan firman Tuhan. selama hari-hari itu pun, saya mencoba membenarkan diri dan memberi alasan kepada Tuhan dan kepada diri saya sendiri bahwa saya berhak untuk istirahat. Saya juga mencoba meyakinkan diri saya bahwa Tuhan tidak akan marah jika kita tertidur dan lupa berdoa atau membaca firmanNya karena Tuhan pasti memahami kondisi kita. Ya, tentu saja Tuhan kita adalah Tuhan yang Mahapengasih. Kenakalan-kenakalan kecil kita mungkin tidak akan banyak berpengaruh terhadap hubungan kita dengan Dia.

Akan tetapi, malam ini saya seperti ditegur Tuhan. Seringkali ketika saya telah menerima berkat dari Tuhan, saya lupa untuk tetap menjaga relasi yang intim denganNya. Yang sering terjadi adalah, setelah menerima berkat, saya bersyukur kepada Tuhan, berdoa dan bersyukur selama beberapa hari ke depan, tetapi kemudian pusat perhatian saya teralihkan. Saya tidak lagi berfokus kepada Tuhan, tidak lagi menjaga relasi yang intim denganNya seperti pada saat saya belum menerima berkat itu, tetapi saya malah berfokus pada berkat itu sendiri. Nah, nanti ketika suatu saat saya kehilangan berkat itu, atau saya mengalami suatu kejadian yang kurang menyenangkan, barulah saya ingat lagi untuk mendekatkan diri dengan Tuhan.

Saya mencoba membayangkan situasi dimana ada seorang sahabat saya datang kepada saya ketika ia membutuhkan sesuatu dan saya pun berusaha sekeras mungkin membantunya, menyediakan waktu baginya untuk menolongnya menyelesaikan masalahnya atau memperoleh apa yang diharapkannya. Namun, setelah ia mendapatkan apa yang ia harapkan atau setelah masalahnya selesai, ia jadi jarang menghubungi kita, tidak seperti ketika ia membutuhkan pertolongan kita. Bagaimana jika kita ada dalam situasi seperti itu? Tentu kebanyakan dari kita akan merasa jengkel, kesal, dan kecewa. Sebagian mungkin merasa dirinya dimanfaatkan, sebagian mungkin acuh tak aacuh, dan sebagian kecil mungkin akan mendoakan sahabat itu dan bersyukur karena masalahnya telah selesai atau bersyukur karena sahabat kita telah memperoleh apa yang ia harapkan.

Nah, jika dalam situasai itu kita mampu membayangkan akan jadi sebesar apakah rasa kesal kita, mengapa kita tidak bosan-bosan juga berusaha membuat Tuhan kesal? Memang kenakalan-kenakalan kecil yang kita lakukan itu sepertinya tidak berarti, tetapi mengapa kita melakukan hal itu jika kita bisa melakukan yang lebih baik? Saya sempat berkata kepada Tuhan, “Tuhan, saya mohon ampun atas kesalahan-kesalahan saya. Saya sadar saya seharusnya tetap berusaha menjaga relasi yang dekat dengan Engkau dan tidak menomorduakan Engkau,” Saya sebenarnya malu dengan diri saya sendiri, karena saya telah beberapa kali mencari-cari alasan pembenaran diri untuk membenarkan kemalasan saya! Seperti telah saya sebutkan sebelumnya, saya seringkali lebih berfokus pada berkat yang saya terima daripada kepada Tuhan sendiri, yang telah memberikan berkat itu kepada saya.
Selain itu saya pun belajar bahwa apapun yang terjadi dalam hidup saya, itu adalah bagian dari rencana Tuhan untuk membentuk diri saya. Siapapun orang yang masuk dalam hidup kita, pasti datang untuk suatu tujuan, yaitu tujuan Ilahi. Saya percaya, setiap orang yang saya jumpai pasti memiliki perannya masing-masing dalam pembentukan pribadi dan karakter saya. Tuhan ingin saya berkembang menjadi seseorang yang sesuai dengan rancanganNya. Untuk itu, terkadang Ia menghadirkan orang yang pemarah supaya saya berlatih untuk bersabar. Terkadang Ia menghadirkan orang yang malas supaya saya belajar untuk tidak mudah menghakimi orang lain. Terkadang Ia menghadirkan orang yang menyakiti hati kita agar kita terlatih untuk mengampuni. Pada akhirnya, karakter-karakter Ilahi, buah-buah Roh sebagai hasil dari ‘latihan’ dan ‘pelajaran’ kita selama hidup di dunia, itu akan membentuk kita menjadi pribadi yang sesuai dengan rancangan Allah, hanya bila kita dapat hidup sesuai dengan ajaranNya.

Ingat, Tuhan kita adalah Tuhan yang Mahapengasih, sehingga Ia tetap memberkati kita sekalipun kita tidak datang kepadaNya. Ia juga adalah Tuhan yang Mahatahu, sehingga Ia akan membiarkan suatu pencobaan terjadi untuk membentuk diri kita menyerupai hatiNya. AMDG!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s