Godaan Iblis

Rabu, 6 Maret 2013
Sore ini saya ingin membagikan sebuah cerita yang saya peroleh dari salah seorang sahabat saya. Dia memperoleh cerita ini dari khotbah seorang pastor saat perayaan Ekaristi hari Minggu di sebuah gereja Katolik di Brunei Darussalam ketika ia ditugaskan untuk bekerja di sana.
Alkisah ada seseorang yang sudah masuk ke surga. Pada suatu akhir pekan, orang ini bertanya kepada Santo Petrus, apakah boleh dia jalan-jalan ke neraka. Lalu Santo Petrus pun mempersilakannya. Orang ini pun jalan-jalan ke neraka. Di sana ia disambut baik dan dijamu dengan berbagai macam hidangan yang nikmat. Dia begitu senang dengan itu semua. Akirnya ia kembali ke surga. Pada akhir pekan berikutnya, ia ingin kembali berkunjung ke neraka. Sekali lagi ia meminta ijin kepada Santo Petrus dan Santo Petrus pun mempersilakannya. Di neraka, ia kembali dijamu dan disambut dengan sangat baik. Ia sangat senang. Setelah itu ia pun kembali ke surga. Pada akhir pekan berikutnya, sekali lagi ia meminta ijin kepada Santo Petrus untuk berkunjung ke neraka. Santo Petrus pun mempersilakannya lagi, tetapi kali ini sambil berpesan, “Hati-hati, ini ketiga kalinya kamu pergi ke sana,” Orang ini pun nekad kembali berkunjung ke neraka. Anehnya, kali ini dia tidak disambut dengan baik, ia tidak dijamu dengan hidangan-hidangan yang nikmat; ia justru dicampakkan dan dibiarkan begitu saja! Orang ini menjadi sangat heran, lalu ia bertanya kepada iblis, “Mengapa kalian tidak menyambutku lagi dengan baik seperti kedatangan-kedatanganku sebelumnya?” Lalu iblis pun menjawab, “Itu karena kedatanganmu sebelumnya adalah sebagai turis, tetapi sekarang kamu sudah jadi penghuni neraka!”
Kisah ini singkat dan sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Saya pun bertanya kepada teman saya itu, apa pesan dari kisah itu menurut pastor yang menceritakannya. Rupanya pastor ini mengungkapkan tiga hal berkaitan dengan makna cerita tadi. Yang pertama, segala sesuatu yang mudah itu berasal dari iblis. Seperti godaan iblis kepada Yesus di padang gurun. Godaan pertama adalah iblis membujuk Yesus untuk mengubah batu menjadi roti, karena Yesus telah berpuasa selama empat puluh hari. Ini adalah lambang dari cara-cara instan atau jalan pintas untuk memperoleh sesuatu. Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita pun dihadapkan pada godaan untuk menggunakan ‘jalan pintas’ ini. Saat kita masih duduk di bangku sekolah, godaan ini paling sering muncul ketika ujian. “Sudahlah, nyontek saja, toh teman-temanmu juga banyak yang nyontek kok, nggak apa-apa!” Godaan semacam itu mungkin sering datang dalam pikiran kita. Memang jika hanya menginginkan nilai yang bagus dengan cara mudah, ada banyak caranya. Akan tetapi, kita perlu ingat bahwa bukan hanya nilai berupa angka yang tertulis di atas kertas yang kita butuhkan. Lebih dari itu, yang kita perlukan sesungguhnya adalah pelajaran yang kita peroleh di sekolah: pengetahuan, ilmu-ilmu yang bisa menjadi dasar bagi pendidikan kita selanjutnya. Dengan membiasakan diri untuk tidak menggunakan cara mudah dalam memperoleh sesuatu, kita akan terbiasa berjuang, dan itu akan membuat kita jauh lebih kuat dan tahan dalam menghadapi cobaan. Demikian pula dengan godaan untuk korupsi, yang mungkin sering dihadapi para pekerja di perusahaan yang memungkinkan terjadinya praktik korupsi. Posisi-posisi tertentu yang sangat memungkinkan untuk melakukan tindak korupsi pasti sedikit banyak bisa menggoda iman kita, apalagi jika korupsi sudah menjadi kebiasaan di lingkungan kerja kita. Yang lebih parah, ada yang menganggap bahwa justru aneh kalau tidak korupsi sementara teman-teman kerja kita yang lain semuanya korupsi. Korupsi, juga adalah salah satu cara instan untuk memperoleh uang. Siapakah manusia yang tidak membutuhkan uang? Mungkin para biarawan dan biarawati bisa berkata bahwa mereka bisa hidup tanpa uang. Namun, untuk orang awam yang telah memiliki keluarga, memiliki banyak kebutuhan untuk dipenuhi..uang menjadi sesuatu yang sangat penting. Tentu saja ada saat dimana godaan untuk memperoleh uang dengan cara instan seperti korupsi atau berjudi, bisa jadi datang dalam hidup kita. Akan tetapi, kita perlu ingat bahwa semua itu pada akhirnya tidak akan membawa akibat yang baik dalam hidup kita. Begitu banyak dampak negatif dari korupsi dan saya rasa semua orang sudah mengetahuinya. Namun anehnya, sekalipun tahu akan akibatnya, masih banyak saja orang yang melakukan korupsi.

Point yang kedua, segala sesuatu yang tampaknya keren, spektakuler, itu dari iblis. Bukan berarti ketika kita menyaksikan mujizat penyembuhan yang luar biasa lalu kita menghakimi dan mengatakan “Semua yang keren dan spektakuler itu berasal dari iblis!” Hahaha… tentu saja kita tidak melihat dari ‘objek’ nya, tetapi dari motivasi di balik perbuatan itu. Misalnya saja ada seorang yang memperoleh karunia menyembuhkan dari Tuhan. Dengan karunia itu, ia menyembuhkan banyak orang. Apakah hal ini buruk? Tentu saja tidak, bukankah menyembuhkan orang adalah perbuatan yang baik? Namun, yang harus kita cermati adalah motivasi di balik perbuatan baik itu. Saya sendiri pernah mendengar khotbah salah satu pastor di Semarang, yang mengatakan, “Apa yang berasal dari Tuhan selalu memiliki awal, tengah, dan akhir yang baik,” Nah, dalam kasus penyembuhan ini kita harus berhati-hati terhadap motivasi berbuat baik itu. Tentu kita tidak tahu apa motivasi orang lain, dan kita sebaiknya juga tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Lebih baik kita berefleksi sendiri, apakah motivasi kita dalam melakukan perbuatan baik itu karena kita ikhlas, atau karena kita ingin dilihat keren, dilihat baik, dilihat hebat oleh orang lain? Perbuatan baik itu tidak salah, tetapi ketika kita melakukannya hanya untuk memperoleh penghormatan dari orang lain, hal itu menunjukkan bahwa kita telah jatuh dalam godaan iblis. Lalu apa pengaruhnya ketika kita jatuh dalam godaan ‘ingin tampak keren’ ini?
1 “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. 2 Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. 3 Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. 4 Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”(Mat 6:1—4 )

Firman Yesus yang dikutip dari Injil Matius itu mengingatkan kita, bahwa ketika kita melakukan sesuatu untuk dilihat orang, untuk mendapat penghargaan dari orang lain, maka sesungguhnya kita telah mendapatkan ‘upah’ atas perbuatan kita itu, tetapi kita tidak akan memperoleh ‘upah’ dari Tuhan. Jadi, jika Anda bertanya, “Apa yang akan terjadi pada saya jika saya berbuat baik hanya karena saya ingin meninggikan diri saya?” Tentu saya tidak akan mengatakan anda akan kena kutuk, atauu anda akan mendapat kesialan. Yang akan terjadi adalah..Anda tidak akan mendapatkan apa-apa dari Tuhan! Itu saja.
Kemudian poin yang terakhir menyinggung motivasi kita untuk tetap hadir dan mengikuti perayaan Ekaristi di gereja. Teman saya bercerita, pastor yang menceritakan kisah tadi bertanya, “Mengapa Anda masih ke gereja? Bukankah gereja ini sama saja, hanya begini-begini saja?” Jujur saja, pertanyaan itu juga pernah muncul dalam benak saya ketika saya tengah mengalami kesepian dan kebingungan rohani..karena itulah teman saya menceritakan kisah tadi kepada saya hahaha….
Ketika iblis menggoda Yesus untuk yang ketiga kalinya, iblis menyuruh Yesus untuk menyembahnya, maka ia akan menyerahkan seluruh kerajaan di dunia kepadaNya. Godaan ketiga ini melambangkan kekuasaan. Secara pribadi, saya memaknai bahwa seringkali kita ingin berkuasa melebihi kuasa Tuhan. Kita ingin semuanya terjadi dan berjalan sesuai keinginan kita, kita ingin memiliki kekuasaan untuk mengatur segalanya! Bukankah ini berarti kita ingin menjadi ‘tuhan’? Tidak perlu mengambil contoh yang muluk-muluk mengenai godaan kekuasaan. Tidak perlu melihat terlalu jauh kepada orang-orang yang ingin menjadi penguasa hanya untuk memperoleh berbagai hak istimewa dan kekuasaan untuk memerintah dan mengatur banyak hal sekehendaknya. Coba kita renungkan beberapa peristiwa sederhana dalam hidup kita. Contohnya saja, ketika kita memiliki rencana untuk berlibur bersama keluarga, ternyata tiba-tiba hujan turun dan menggagalkan rencana kita. Kita pun mulai bersungut-sungut dan berkata, “Ah..seandainya saja tidak hujan, pasti aku saat ini sedang bersenang-senang berlibur bersama keluargaku” Mungkin kalimat tadi terdengar biasa saja, tetapi bisa jadi di balik itu, ada suatu ketidakpuasan dan sebuah angan-angan, ‘seandainya saya bisa mengatur cuaca, pasti saya akan membuat hari ini tidak hujan’. Nah, bukankah pikiran seperti ini menunjukkan bahwa kita ingin menyaingi kekuasaan Tuhan? Hal kecil dan sederhana lainnya bisa jadi secara tidak sadar menggoda kita untuk ingin memiliki kekuasaan seperti Tuhan. Ketika kita kecewa karena saat kita sedang cuti, ternyata di kantor diadakan pesta, kita kecewa dan mengungkapkan ketidakpuasan kita. Ketika kita menjadi pengunjung ke-99 sementara orang yang mengantri di belakang kita menjadi pengunjung ke-100 di sebuah supermarket dan berhak memperoleh banyak hadiah, kita pun kecewa dan berkata, “Ah! Seandainya aku tadi mengantri lebih lama!” Segala ketidakpuasan itu wajar saja kita rasakan. Namun, kita harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam godaan iblis untuk membiarkan keinginan kita menjadi ‘tuhan’ dalam hidup kita. Hanya Tuhan saja yang berhak berkuasa atas segala sesuatu. Kita sebagai ciptaanNya seharusnya senantiasa percaya kepadaNya dan menaruh hormat kepadaNya yang telah memberikan begitu banyak rahmat dalam hidup kita.
Seperti yang diceritakan oleh teman saya, sang pastor menjelaskan mengapa kita tetap pergi ke gereja? Sekalipun mungkin perayaannya hanya begitu-begitu saja, urutannya pun baku dan selalu sama…tetapi alasan kita pergi ke gereja adalah karena Tuhan pun berkenan hadir dalam setiap perjalanan hidup kita. Kita datang ke Gereja untuk bersyukur kepadaNya, untuk menghormati kuasaNya, untuk menunjukkan penghargaan dan penghormatan kita bahwa Ia adalah satu-satunya Allah yang kita sembah, bahwa tidak ada kuasa lain yang layak menerima penghormatan begitu tinggi selain Dia. Dan Tuhan yang begitu Mahaluarbiasa itu, telah berkenan hadir dalam hidup kita, menyelamatkan kita dari maut dan membimbing kita untuk memiliki hidup yang penuh dan berkelimpahan. Untuk itu semua, sudah selayaknya kita hadir dalam perjamuan yang diadakanNya. Bukankah ketika kita telah mendapat kebaikan dari seseorang, dan orang itu mengadakan pesta lalu mengundang kita, kita akan dengan senang hati datang ke pesta itu? Setidaknya kita merasa ingin menyenangkan hati orang yang telah memberikan kebaikan kepada kita itu. Demikian juga seharusnya, kita datang ke Perjamuan Kudus di Gereja, bukan hanya untuk mengikuti ritual tanpa arti, tetapi setidaknya kita datang untuk menyenangkan hati Tuhan, untuk menunjukkan penghargaan kita kepadaNya.
Semoga kita senantiasa diingatkan dan dikuatkan dalam menjalani hidup yang sarat dengan godaan-godaan ini, dan semoga pada akhirnya kita berhasil menang dari godaan-godaan itu karena kita berpegang pada firman Tuhan yang menyelamatkan! Tuhan memberkati! 

Advertisements

One thought on “Godaan Iblis

  1. Pingback: Godaan Iblis | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s