Refleksi 2013

1 Januari 2014

Selamat Tahun Baru! Tahun baru selalu menjadi event yang dinantikan semua orang. Ya, harapan baru di tahun yang akan datang selalu muncul dalam hati setiap orang. Harapan akan hidup yang lebih baik, harapan akan pertumbuhan kita menjadi manusia yang lebih baik, dan berbagai harapan lainnya muncul menginjak tahun yang baru ini.

Dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas mengenai perayaan Tahun Baru yang sudah pasti meriah di berbagai daerah. Dalam tulisan ini, saya mencoba untuk merefleksikan apa yang saya alami sepanjang tahun 2013 yang lalu. Meskipun tentu tidak semua kejadian dalam hidup saya bisa saya ingat dengan jelas, tetapi peristiwa-peristiwa iman yang membekas dalam batin saya tentu tidak akan saya biarkan berlalu begitu saja tanpa makna.

Selama tahun 2013, saya mengalami banyak sekali pengalaman iman. Bukan pengalaman iman berupa melihat penampakan orang-orang kudus, melainkan pengalaman hidup dimana saya merasa Tuhan sungguh menyertai saya. Selama tahun 2013 saya belajar banyak hal. Ada berbagai perasaan muncul dalam diri saya, sebagian perasaan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Banyak pergumulan saya alami, keraguan, kecemasan, ketakutan, iri hati, kesombongan, sakit hati, kecewa, dan banyak perasaan negatif mewarnai hidup saya selama tahun 2013 yang lalu. Namun, bersamaan dengan perasaan-perasaan negatif itu, saya juga belajar dan mengalami sukacita, kesabaran, kerendahan hati, keikhlasan, harapan, syukur, dan kasih Ilahi. Banyak cobaan saya alami, tetapi bersama dengan berakhirnya cobaan itu, saya mengalami kedekatan yang lebih dalam dengan Sang Juruselamat kita, Yesus Kristus. Sebelumnya mungkin seringkali doa-doa saya terasa hambar dan hubungan saya denganNya hanya seperti hubungan ‘bisnis’. Ya, seringkali kita hidup dengan memisahkan kehidupan iman kita, padahal sesungguhnya dan seharusnya, Tuhan selalu ada dalam setiap peristiwa hidup kita. Ia bukan Tuhan yang hanya perlu kita panggil atau kita temui ketika kita dalam masalah. Ia bukan Tuhan yang hanya akan menjawab panggilan kita…Ia jauh lebih dari itu. Bahkan ketika kita tidak merasakan kehadiranNya, ketika kita tidak merasa membutuhkanNya, ketika kita tidak merasa memanggilNya…Ia tetap hadir. Ia mengawasi kita, melihat setiap perbuatan kita, mengetahui setiap pikiran dan isi hati kita. Ia adalah Tuhan! ini adalah sebuah fakta yang seringkali dilupakan banyak orang.

Ketika saya membaca buku Battlefield of the Mind karya Joyce Meyer yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, saya menemukan banyak sekali hal yang bermanfaat dari buku tersebut. Saya jadi menyadari banyaknya kekeliruan dalam pikiran saya. Salah satunya seperti yang sudah saya sebutkan di atas, kita sering melupakan kehadiran Tuhan. Dari hadirat Tuhan itu sesungguhnya kita baru bisa merasakan dengan nyata kasihNya. Nah, kasih Ilahi inilah yang menjadi salah satu karunia terbesar yang saya sadari di tahun 2013 ini. Saya juga menyadari bahwa inti dari ajaran Kristiani adalah kasih. Kasih seperti apa? Kasih Ilahi! Itulah kasih yang diajarkan Kristus kepada kita. itulah kasih Allah Bapa yang mengutus Sang Juruselamat untuk menebus dosa-dosa kita. itulah kasih Yesus yang rela mati menaati perintah Bapa untuk menanggung dosa manusia. Itulah kasih sejati!

Berapa banyak dari kita yang mampu menerapkan kasih Ilahi itu? Bagi saya pribadi, menerapkan kasih Ilahi itu begitu sulit. Maka benarlah apa yang dikatakan Yesus:

32Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. 33Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. (Luk 6:32-33)

Memahami sebuah ayat mungkin mudah, tetapi menerapkannya seringkali butuh perjuangan keras. Saya sudah sangat sering mendengar ayat mengenai ajaran kasih, tetapi untuk menerapkannya dalam kehidupan saya sendiri ternyata tidak semudah yang saya kira. Cobaan begitu berat dan rasanya begitu sulit untuk mengasihi orang yang telah menyakiti hati kita. Bahkan godaan untuk membalas dendam atau berbuat jahat kepada orang yang telah menyakiti kita, seringkali datang dari orang-orang terdekat. Namun, puji Tuhan, berkat kekuatan dari Roh Kudus, saya cukup berhasil menata hati dan tidak mengikuti apa yang ditawarkan dunia. Mungkin reaksi dari orang-orang terdekat kita itu wajar dan manusiawi. Untuk apa berbuat baik kepada orang yang sudah menyakiti kita? itu hanya akan membuat kita serasa tidak berharga! Akan tetapi, kita dituntut untuk meneladan Yesus, yang berarti kita pun seharusnya meneladan sikapNya yang penuh dengan kasih. Yesus yang dicela, disiksa, dikhianati…tetap tidak menaruh dendam atau benci kepada orang-orang yang telah menyakitiNya. Ia bahkan justru mendoakan mereka, di atas kayu salib, Ia berdoa, 

Luk 23:34  Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Sungguh luar biasa! Betapa tak terpikirkan kasih Yesus kepada manusia. Secara nalar manusia, tentu saja hal ini tidak masuk akal! Di mana harga diri? Di mana keadilan? Namun, Yesus dengan seluruh pengalaman dan pelajaran hidupNya mau mengajarkan sesuatu yang memang tidak masuk akal bagi kita manusia. Kasih mengalahkan segala sesuatu. Satu hal penting yang saya pelajari di tahun 2013: selama masih ada kesombongan dan mementingkan harga diri, kasih kita tidak akan pernah sempurna. Bukankah Yesus sendiri merendahkan diriNya sampai wafat di kayu salib? Mungkin banyak orang pada waktu itu mencerca dan mengolok-olok Yesus. Yesus bisa saja turun dari salib dan menghukum orang-orang yang telah menyiksa dan menyakitiNya, tetapi Ia tidak melakukannya. Ia tetap setia dan taat pada tugasNya, dan Ia begitu mengasihi manusia sampai-sampai Ia tidak keberatan untuk direndahkan sedemikian rupa. Teladan inilah yang mungkin saat ini kurang bisa kita hayati. Kita paham, tetapi kita enggan untuk mengikutinya. Mengapa? Bayangkan seandainya ada seseorang yang menipu kita, misalnya sampai merugikan kita secara material. Tentu pada saat seperti itu akan sangat lumrah jika orang bereaksi marah, melaporkan penipu itu ke polisi, menceritakan keburukan-keburukannya kepada orang lain, mengumpat, dan hal-hal lain untuk melampiaskan emosi. Bahkan rekan-rekan dan kerabat pun ikut mendukung kita untuk menuntut si penipu sampai ke pengadilan agar ia dihukum seberat-beratnya. Kelihatannya wajar, bukan? Seorang penipu, penjahat, tentu harus dihukum. Namun, bagaimana sesudah itu? Apakah ketika si penipu itu telah dihukum dan meminta maaf kepada kita, kita akan mengampuni dengan tulus? Atau kita justru senang karena penipu itu dihukum? Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Andaikan kita yang berada di posisi si penipu itu, apa yang kita harapkan setelah kita meminta maaf dengan tulus dan telah menjalani hukuman sesuai dengan keputusan pengadilan? Hanya kasih yang tulus, pengampunan yang tulus. Namun, apakah itu bisa kita berikan jika kita dikuasai oleh kesombongan bahwa kita adalah pihak yang dirugikan, bahwa kita adalah pihak yang benar, bahwa si penipu itu memang sudah selayaknya dihukum dan menderita?

Seorang Kristiani sejati mungkin akan bertindak melampaui nalar manusia biasa. Seorang Kristiani sejati mungkin akan dianggap aneh, tidak punya harga diri, lemah…namun, itu adalah pandangan dunia. Kita tidak hidup untuk menyenangkan orang lain. Kita hidup untuk menyenangkan Allah. Oleh karena itu, apapun pandangan dunia, itu tidak akan membantu kita ketika nanti Allah meminta pertanggungjawaban kita di akhirat. Perintah Allah sudah jelas, dan telah berulang kali disampaikan oleh Yesus Kristus, Guru kita: kasihilah sesamamu! Maka jika kita adalah pihak yang benar, pihak yang dirugikan, pihak yang disakiti, maka tugas kita tetap adalah mengasihi! Memang hukum harus ditegakkan, namun hendaknya kasih jangan sampai hilang dari hati kita. Mengampuni dengan tulus, mengasihi orang yang telah menipu kita, bahkan memberinya kesempatan untuk berubah dan bekerja sama kembali dengan kita, adalah pilihan yang bisa kita ambil sebagai seorang murid Kristus. Bagaimana jika kita ditipu lagi? Sekali lagi, perintah Allah dan ajaran Yesus tetap sama, tidak berubah dari dulu hingga kapan pun: kasihilah sesamamu!

Mungkin Anda mulai berpikir, jika kita berbuat demikian tentu kita adalah orang bodoh dan orang-orang lain pun akan mengolok-olok kita karena hal itu. Ya, mungkin saja. Akan tetapi, bukankah Tuhan Yesus pun diolok-olok di atas bukit tetapi Ia tidak bergeming? Ia setia pada kasihNya: kasih yang tak terbatas, kasih yang tak berkesudahan.  Ilustrasi tadi mungkin terlalu ekstrim, tetapi jika Anda memiliki kemampuan untuk melakukannya, mengapa tidak kita coba? Mungkin pilihan Anda bisa berbeda…mungkin Anda tidak bisa bekerja sama kembali dengan orang yang pernah mengecewakan Anda, tetapi Anda tetap bisa mengasihinya. Anda bisa menunjukkan bahwa sekalipun Anda tidak bisa bekerja sama lagi dengannya, Anda akan dengan tulus membantunya jika ia ingin berubah menjadi lebih baik.

Seperti yang sudah saya sebutkan, orang Kristen sejati mungkin akan dianggap bodoh oleh dunia ini, tetapi ingat, Bapa Surgawi yang melihat ketulusan kasih itu, tengah tersenyum bahagia, puas dengan pilihan yang Anda ambil.

Satu hal lagi yang perlu kita ingat, belajar mengasihi seperti Tuhan tentu tidak bisa kita hayati serta merta. Butuh proses belajar untuk mengasihi tanpa batas, dan pelajaran itu akan berlangsung seumur hidup kita. Berbagai cobaan mungkin akan datang dalam hidup kita, menguji iman kita, menguji kasih kita. Namun, percayalah bahwa selama kita percaya kepada Tuhan, Ia akan menunjukkan apa yang harus kita lakukan di tengah pencobaan. Dalam bukunya The Purpose of Driven Life, Rick Warren mengatakan bahwa semua buah masak secara perlahan-lahan, demikian juga buah-buah roh dalam hidup kita. Butuh proses untuk bisa mengembangkan buah-buah Roh dalam hidup kita. Untuk itu, kita seharusnya bersabar dalam setiap pencobaan. Cobalah untuk melihat apa yang ingin diajarkan Tuhan melalui setiap pencobaan dan persoalan hidup yang kita alami. Mungkin Allah ingin kita belajar tentang ketaatan dengan memberikan rentetan masalah yang seperti tidak ada habisnya. Mungkin Allah ingin kita belajar tentang kesabaran dengan menunda mengabulkan doa-doa permohonan kita. Mungkin Allah ingin kita belajar tentang kasih Ilahi, dengan mengirimkan orang-orang yang menyakiti hati kita.

Akhirnya, saya percaya apapun yang terjadi selama tahun 2013, setiap pengalaman hidup, baik yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, saya percaya ada maksud baik Tuhan di dalamnya. Everything happened for a purpose. Meskipun saat ini kita mungkin belum juga tahu apa tujuan dari setiap pencobaan yang kita alami, percayalah Tuhan tidak akan membiarkan sesuatu terjadi jika tidak demi tujuan yang mulia. Sekalipun mungkin terkadang kita akan jatuh kembali dalam dosa, mengambil pilihan yang salah, merasa bahwa kita telah mengecewakan Tuhan…percayalah Tuhan tidak akan pernah berhenti mengasihi kita. AMDG!

35Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?

 38Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, 39atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Rm 8:35,38-39)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s