Mengatasi Kesesakan Hati ~ Learn from David

Mazmur 22 cukup dikenal sebagai ungkapan Daud ketika berada dalam kesesakan. Tampak jelas di bagian awal Mazmur tersebut, betapa Daud merasakan kesesakan hati yang teramat sangat bahkan ia berkata, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.” Sungguh terasa kesesakan hati Daud yang merasa ditinggalkan Tuhan. Ia merasa Tuhan tidak menolongnya.
Rasa frustasi, stress, dan kesesakan hati yang mendalam sering kali juga kita alami dalam kehidupan ini. Saya sadar, begitu mudah memuji Tuhan dan mengungkapkan syukur kita kepadaNya ketika kita mengalami hal-hal yang membahagiakan, ketika semua yang terjadi dan kita alami berjalan dengan baik, sesuai dengan apa yang kita harapkan…tetapi begitu sulit ketika apa yang terjadi adalah sebaliknya.
Beberapa kali saya merasakan kesesakan hati yang mendalam. Saya sadar, apa yang saya rasakan sebenarnya adalah pilihan saya sendiri untuk merasakannya atau tidak. Tidak seperti sakit fisik yang mungkin tidak bisa kita cegah atau kita atur, sakit hati sesungguhnya adalah pilihan kita untuk tetap berfokus kepada rasa sakit itu atau membiarkannya berlalu.
Buku-buku spiritual yang pernah saya baca sebelumnya sangat membantu ketika saya merasakan sakit hati dan kesesakan. Salah satu buku yang pernah saya baca mengungkapkan, bahwa kebahagiaan adalah sepenuhnya hak kita, dan tidak tergantung dari apa yang ada di luar diri kita. Sekalipun kita mengalami ‘hari yang sangat buruk’, jika kita tetap teguh memantapkan hati untuk merasa bahagia dan tidak berfokus pada hal-hal yang menyakitkan hati kita, niscaya kita akan tetap bisa merasakan kebahagiaan itu.
Namun, seringkali sebagai manusia, kita merasa berhak untuk larut dalam kesesakan dan sakit hati. Seperti halnya dalam Mazmur 22, pada ayat-ayat awal tampak Daud mengungkapkan kesesakannya, ketakutannya dan keputusasaannya, seolah Tuhan tidak mau menolongnya. Namun, pada ayat-ayat terakhir (mulai ayat 22) tampak harapan muncul dalam hati Daud. Ketika membuat tulisan ini, saya sedikit bisa lebih memahami apa yang dirasakan Daud (mungkin) ketika ia menuliskan Mazmur tersebut. Awalnya memang perasaan saya pun diliputi rasa sedih, sesak, dan bertanya-tanya mengapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi pada saya. Namun, semakin saya berusaha mengungkapkan kesesakan dan kesedihan yang saya rasakan, pada akhirnya seolah seberkas cahaya muncul dan menerangi hati dan pikiran saya. Cahaya yang menuntun saya untuk bisa melihat terang dalam kegelapan, cahaya yang membawa saya perlahan keluar dari kesesakan saya dan membimbing saya untuk mencoba melihat apa yang saya alami dari jauh. Saya sadar, kesesakan yang saya alami bukanlah kesalahan orang lain. Kesesakan yang saya alami, sekalipun itu muncul dari perilaku atau perkataan orang lain, sebenarnya adalah pilihan saya sendiri untuk tetap berfokus pada kesesakan itu atau membiarkannya berlalu.
Salah satu ungkapan terkenal dalam Buddhis yang saya ingat adalah ‘ini pun akan berlalu’. Kegembiraan, kesedihan, kelegaan, kesesakan, semua itu akan berlalu. Menurut saya ini sungguh adalah sebuah ungkapan yang bijak dan mengingatkan kita bahwa segalanya tidak akan abadi. Sering kali kita lupa dan larut dalam perasaan atau suasana tertentu, kita merasa seolah kita akan berada dalam suasana atau perasaan itu selamanya. Namun, pengalaman hidup kita sendiri telah membuktikan bahwa semua perasaan itu tidak bertahan selamanya. Jika banyak orang memberikan penghiburan dengan berkata “waktu yang akan menyembuhkan segalanya”, saya rasa itu benar juga. Ketika kita terus menjalani hidup ini dengan setia, dan tidak berfokus pada perasaan negatif yang pernah kita alami, perlahan perasaan negatif itu perlahan akan hilang dan kita pun akan melupakannya. Hal-hal baru, orang-orang baru, bahkan masalah baru, akan membantu kita untuk melepaskan fokus kita dari perasaan negatif yang mungkin pernah kita alami.
Jadi, ketika merasakan kesesakan hati, cobalah untuk mengungkapkan perasaan itu kepada Tuhan. Perlahan Roh Kudusnya akan membimbing dan memberikan penghiburan, membantu kita untuk menyadari bahwa kesesakan hati itu pun akan berlalu. Janganlah berfokus pada keinginan untuk membalas dendam atau keinginan untuk mempertahankan pendapat demi harga diri, tetapi berfokuslah pada penyembuhan hati…AMDG.

Terus berada dalam kesesakan tidak akan mengubah keadaan. Berusaha untuk mengampuni, ikhlas, dan membiarkan kesesakan itu berlalu, jauh lebih bijaksana daripada membiarkan kesesakan hati menguasai dan mengontrol hidup kita.

Advertisements

One thought on “Mengatasi Kesesakan Hati ~ Learn from David

  1. Pingback: Mengatasi Kesesakan Hati ~ Learn from David | Makjoel's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s