God’s Answer for Our Prayer

Ketika Tuhan menjawab ‘ya’ atas doamu, Ia tengah menguatkan imanmu,

Ketika Tuhan menjawab ‘tidak’, Ia telah menyediakan yang lebih baik untukmu,

Ketika Tuhan belum menjawab doamu, Ia ingin mengajarkanmu untuk bersabar….

 

Beberapa kali saya mendengar kalimat di atas, baik langsung dari teman maupun dari tulisan-tulisan yang saya baca. Setiap kali mendengar atau membaca kalimat tersebut, saya merasa tersentuh dan dikuatkan, terlebih pada saat-saat dimana Tuhan belum menjawab doa saya atau ketika Tuhan menjawab ‘tidak’ atas doa saya.

Begitu sulit memahami rencana Tuhan, bahkan memang dengan pikiran kita tidak akan bisa memahami rencananya. Seringkali ketika sedang berada dalam masa-masa sulit, kita bertanya, mengapa hal ini terjadi pada kita? Bahkan terkadang kita merasa bahwa apa yang kita alami begitu berat, begitu menyedihkan dan bahkan seolah menghancurkan hidup kita. Pada saat-saat seperti itu kita merasa kecewa dengan keputusan Tuhan. Ketika kita telah merasa selalu berdoa dengan tekun dan melaksanakan perintah-perintahNya dan larangan-laranganNya tetapi Tuhan belum juga menjawab doa kita atau bahkan Tuhan menjawab ‘tidak’ atas doa-doa kita…saat itu sangat mungkin kita mengalami krisis iman.

Sangat manusiawi dan sangat wajar menurut saya, ketika hal-hal seperti itu terjadi dalam kehidupan. Kita adalah manusia yang tidak sempurna. Hati kita begitu mudah tergoda oleh dosa dan prasangka negatif, baik kepada sesama maupun kepada Tuhan. Pikiran kita begitu mudah memikirkan hal-hal yang buruk baik tentang orang lain maupun tentang Tuhan. Itulah manusia, itulah diri kita. Kita harus jujur mengakui bahwa memang kerap kali kita jatuh dalam prasangka-prasangka negatif dan kecewa terhadap keputusan Tuhan. Namun, sesakit apapun yang kita rasakan, seberat apapun beban yang kita pikul, ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan, yaitu bahwa Tuhan selalu menyertai kita.

Baik kita sadari atau tidak, Tuhan selalu ada di sisi kita. He’s everywhere and everytime with us. Dalam salah satu ceramah Joyce Meyer dengan judul Moving Beyond Worries and Anxiety, ia mencoba mengingatkan kita bahwa Tuhan selalu ada di sini, bersama kita, saat ini, dan bahwa Ia adalah Tuhan. Kadang kita lupa akan hal ini. Kita merasa sendirian ketika menghadapi masalah, dan seringkali kecewa serta cemas akan berbagai hal. Seolah tidak ada lagi harapan. Namun, jika kita menyadari dan ingat bahwa Tuhan selalu beserta kita dan bahwa Ia adalah Tuhan yang mampu menjadikan segalanya seturut kehendakNya…masih perlukah rasa cemas dan kecewa itu? Tuhan begitu mengasihi kita, dan Ia tidak akan pernah memberikan cobaan melebihi kekuatan kita. Jika persoalan yang kita alami saat ini terasa begitu berat, itu berarti kekuatan kita masih lebih besar dibandingkan persoalan-persoalan itu.

Seringkali kita bertanya-tanya, mengapa Tuhan membiarkan kita mengalami pencobaan, mengapa Ia membiarkan kita menanti untuk waktu yang lama atas terkabulnya sebuah doa. Sejujurnya, semua pertanyaan itu pun seringkali saya alami. Setelah saya renungkan, rupanya pertanyaan-pertanyaan itu muncul dari keraguan dalam hati saya. Saya merasa ragu apakah Tuhan sungguh akan menjawab doa saya, dan saya takut jika ternyata jawaban Tuhan tidak seperti yang saya inginkan. Mungkin banyak di antara kita yang sering merasakan hal yang sama. Ketidakpastian selalu mendatangkan keraguan, dan inilah yang menyebabkan hati kita tidak tenang sehingga seringkali hati dan pikiran kita dipenuhi dengan prasangka-prasangka atas rencana Tuhan.

Sesungguhnya, ada dua kesalahan besar yang saya lakukan dari keraguan dan ketakutan saya itu. Yang pertama adalah keraguan dalam hati saya akan kepastian jawaban dari Tuhan. Keraguan ini sering muncul ketika kita merasa Tuhan tidak kunjung menjawab doa-doa kita. Mungkin pada awalnya kita merasa bersemangat dan yakin Tuhan akan menjawab doa-doa kita, sehingga kita pun berdoa dengan tekun. Namun, seiring berjalannya waktu, ketika kita merasa jawaban Tuhan atas doa-doa kita belum juga kita terima, keyakinan kita mulai luntur dan keraguan mulai merasuki hati dan pikiran kita. Inilah kesalahan pertama kita. Jika setiap kali berdoa kita mengamini bahwa Tuhan itu ada, dan jika kita mengaku bahwa kita percaya bahwa Ia adalah Tuhan yang Mahabaik dan Mahakuasa, mengapa kita masih juga meragukan kuasaNya? Mengapa masih juga kita ragu bahwa Ia akan memberikan jawaban yang terbaik atas doa-doa kita?

Kesalahan kedua adalah ketakutan kita jika Tuhan menjawab ‘tidak’ atas doa permohonan kita. Nah, untuk yang satu ini, kadang kita bahkan bisa merasa sakit hati dengan keputusan Tuhan. Kita seringkali mengaggap bahwa apa yang kita inginkan, apa yang kita mohonkan, apa yang kita doakan, adalah yang terbaik untuk diri kita. Namun, benarkah demikian? Siapakah di antara kita yang mengetahui masa depan dan tahu dengan pasti bahwa apa yang kita minta adalah yang terbaik untuk kita, tidak hanya untuk saat ini, tetapi juga untuk masa yang akan datang? Saya rasa tidak ada seorang pun yang tahu akan hal ini. Bahkan mereka yang disebut-sebut memiliki kemampuan meramal pun, pasti tidak tahu dengan pasti apa yang terbaik bagi mereka. Lalu siapakah yang tahu apa yang terbaik bagi kita? Ia, tidak lain adalah Sang Pencipta kita, Tuhan Yang Mahakuasa. Hanya Ia, Sang Pencipta kita lah, yang tahu apa yang terbaik bagi kita. Seperti halnya ketika kita membuat sebuah lukisan, kitalah yang menilai apa yang kurang dari lukisan itu, lalu menambahkannya dan membuatnya tampak lebih indah. Suatu ciptaan tidak akan bisa melebihi kemampuan Penciptanya. Demikianlah pula hidup kita. Ketika apa yang kita alami terasa tidak sesuai dengan keinginan kita, kita harus ingat bahwa semua hal terjadi karena suatu alasan. Dan jika kita yakin dan percaya bahwa Tuhan selalu menyertai kita, Ia tidak akan pernah memberikan rancangan yang jahat dalam hidup kita. Setiap peristiwa dan pengalaman yang kita alami pasti akan membawa kita untuk mengalami sesuatu yang jauh lebih indah daripada yang kita minta sebelumnya.

Sebuah pengalaman pribadi yang sungguh membuat saya percaya bahwa rencana Tuhan itu jauh lebih besar dan lebih indah daripada rencana kita, adalah ketika saya mencari pekerjaan. Awalnya saya meminta begitu banyak syarat kepada Tuhan, supaya saya bisa diterima bekerja di perusahaan A dengan berbagai macam alasan. Pada akhirnya, saya memang diterima bekerja di sana. Namun, saya merasa ada sesuatu yang kurang dalam pekerjaan saya. Saya sering merasa bahwa bukan di situ seharusnya saya berkarya. Akibatnya, ketika muncul tantangan dan hambatan dalam pekerjaan saya, saya pun menyadari bahwa ini bukan jalan yang dipilihkan Tuhan untuk saya, tetapi ini adalah jalan pilihan saya. Salah satu kalimat yang menyentuh saya dalam sebuah persekutuan doa yang pernah saya ikuti, berkaitan dengan jalan Tuhan adalah: “Sebenarnya Tuhan telah menyediakan jalan emas untuk kita, tetapi seringkali kita memilih jalan perak atau jalan perunggu,” Secara implisit, kalimat tersebut menyadarkan saya bahwa seringkali kita memaksakan keinginan kita kepada Tuhan, karena menurut kita inilah yang terbaik. Kita tidak mau membuka diri akan kemungkinan lain, padahal Tuhan telah menyediakan pilihan yang jauh lebih baik bagi kita. Dan lanjutan dari kalimat di atas adalah: “Dan ketika Tuhan ingin kita kembali ke jalan emas itu, Ia akan menarik kita kembali, bahkan mungkin dengan cara-cara yang keras supaya kita dapat kembali dan menempuh ‘jalan emas’ yang telah disediakanNya bagi kita,”

Ketika saya memohon kepada Tuhan untuk diberikan jalan dan pekerjaan baru yang lebih baik, saya menunggu cukup lama. Baru setelah satu tahun lebih satu bulan, Tuhan menjawab doa saya. Bahkan persis seperti kalimat yang saya dengar dalam persekutuan doa itu, Ia menarik saya untuk kembali kepadaNya dan berjalan di jalan pilihanNya dengan caraNya yang tak terselami oleh akal pikiran kita. Memang, ketika saya mengalami peristiwa dimana Tuhan ‘menarik’ saya untuk kembali kepadaNya, awalnya saya merasa sedih, kecewa, dan tidak tahu mengapa Tuhan membiarkan hal itu terjadi. Namun, setelah kini saya mengalami kuasaNya, setelah saya menemukan jawabanNya, dimana Ia menempatkan saya di sebuah tempat yang jauh lebih baik, dimana saya merasa Tuhan selalu menyertai setiap langkah saya, saya pun menjadi sadar bahwa kejadian buruk yang saya alami dulu merupakan awal dari perjalanan saya di ‘jalan emas’ Tuhan.

Ketika saya menyerahkan diri seutuhnya pada rencana Tuhan, membiarkan Ia merangkai hidup saya seturut dengan kehendakNya, yang saya alami adalah sungguh kebahagiaan dan rasa syukur yang tak terkira. Memang, tantangan dan hambatan masih terjadi dan saya alami, tetapi di tengah semua itu, pengalaman saya di masa lalu menjadi pengingat saya bahwa Tuhan selalu punya rencana yang terbaik. Sekalipun hingga kita mungkin Tuhan belum juga menjawab doa-doa kita, sekalipun Tuhan menjawab ‘tidak’ untuk doa-doa kita, dengan yakin kita harus mengamini bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia PASTI akan menjawab doa-doa kita menurut rancanganNya, dan jika ternyata Ia menjawab ‘tidak’, percayalah bahwa Ia memiliki rancangan lain yang jauh lebih baik daripada apa yang kita pikirkan. Semoga kita senantiasa dikuatkan untuk selalu setia, percaya, dan berharap kepadaNya! Amin J

Advertisements

One thought on “God’s Answer for Our Prayer

  1. Pingback: God’s Answer for Our Prayer « Makjoel’s Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s