Refleksi Baksos TPA Tanjung Rejo

Sebuah tulisan lama…semoga bermanfaat 🙂

 

Sunday, 24 July 2011

Hari ini saya mengikuti sebuah acara bakti sosial yang diadakan oleh Persekutuan Doa (PD) Rafael–yang merupakan PD di bawah naungan Gereja Katolik—di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Tanjung Rejo, Kudus. Kami berangkat dari gereja pukul 05.30 WIB dan kembali ke gereja lagi setelah acara selesai (dan setelah makan siang) pukul 14.00 WIB.

Bakti sosial yang kami ikuti ini bukan bakti sosial biasa. Mengapa? Karena kami tidak sekedar membagikan makanan atau sembako, tetapi kami juga diajak untuk terjun langsung ke TPA dan ikut merasakan menjadi pemulung.

Seperti acara di televisi “Jika Aku Menjadi”, kami dibagi menjadi 5 kelompok dan masing-masing kelompok dibekali dengan sebuah karung untuk mengumpulkan sampah. Kami sebenarnya masih bingung, sampah seperti apa yang biasanya diambil oleh para pemulung. Beruntung selama kami memulung, kami diberi petunjuk oleh para pemulung di sana.

 

Satu hal yang tidak bisa saya lupakan adalah kondisi di TPA tersebut. karena sampah yang banyak dicari adalah jenis plastik, kami pun mencari plastik sebanyak-banyaknya. Namun, sebagian sampah di sana sudah busuk karena terlalu lama tertimbun. Hasilnya, kami sering menemukan plastik yang sudah dihinggapi belatung. Satu hal lagi, aroma khas TPA tersebut benar-benar menusuk hidung. Bahkan masker yang kami pakai pun tidak sanggup menghalangi aroma yang kuat itu.

Berbagai macam sampah ada di sana. Mulai dari bungkus nasi, plastik bungkus makanan, bekas pembalut, popok, bahkan ada bangkai binatang. Bisa dibayangkan seperti apa kondisi di TPA tersebut. Saya sendiri sempat merasa mual setelah mencium bau busuk yang menyengat itu. Namun, saya dan teman-teman tetap berusaha untuk mengumpulkan sampah untuk nantinya diberikan kepada para pemulung di sana.

Kami yang totalnya berjumlah 20 orang berusaha mengumpulkan sampah selama kurang lebih dua jam. Akhirnya, penuh sudah karung-karung yang kami bawa. Kami memang tidak tahu dan tidak membayangkan berapa nilai nominal rupiah dari sampah yang berhasil kami kumpulkan. Namun, ketika sampah yang kami kumpulkan dipilah-pilah dan dihitung nilai rupiahnya, ternyata total sampah yang berhasil kami kumpulkan bernilai Rp 4.000,00. Empat ribu rupiah! Bayangkan pekerjaan yang kami lakukan, 20 orang, selama 2 jam, hanya menghasilkan uang empat ribu rupiah! Saya dan teman-teman tentu kaget dengan hasil itu. Namun, satu hal yang mengena dalam hati kami, adalah betapa sulitnya mencari rupiah melalui pekerjaan para pemulung itu.

Saya pun mencoba berefleksi, memang pekerjaan mereka seolah tidak berarti. Bahkan penghasilan yang mereka dapatkan dari sampah yang berhasil mereka kumpulkan pun pasti sangat kurang. Namun, bayangkan jika tidak ada mereka. Truk sampah datang ke lokasi itu tiap harinya sekitar 3—4 kali, dengan membawa satu bak penuh sampah. Jika tidak ada para pemulung yang mencari sampah-sampah untuk didaur ulang, berapa kira-kira lahan yang dibutuhkan untuk menampung sampah-sampah itu? Seberapa tinggi tumpukan sampah yang kira-kira akan dihasilkan jika sampah-sampah itu dibiarkan begitu saja?

Padahal pekerjaan mereka tentu tidak mudah dan sangat beresiko. Bayangkan sampah-sampah yang beranekamacam itu. Kami bahkan sempat menemukan bekas jarum suntik. Tentu saja TPA merupakan tempat yang sangat rawan untuk penyebaran penyakit. Bahkan bangkai binatang pun dibuang di sana sampai dihinggapi belatung-belatung, bercampur dengan sampah-sampah yang lain.

Namun, satu hal yang kami sayangkan adalah ketidaktertiban saat pembagian makanan dan paket sembako. Ketidaktertiban itu menyebabkan sebagian orang tidak mendapatkan paket dan makanan. Padahal, kami sudah mengumumkan bahwa tiap keluarga hanya boleh mendapat satu paket. Namun, masih ada saja yang mencurangi dengan menyuruh anggota keluarga yang berbeda-beda untuk mengambil paket, padahal anggota keluarganya yang lain sudah mendapat. Akibatnya, ada yang tidak kebagian paket.

Saya menyadari bahwa keinginan mereka yang begitu kuat untuk mendapatkan paket itu mungkin juga didasari oleh kondisi hidup mereka yang berkekurangan. Akan tetapi, bagi saya, orang baik tetap orang baik, seperti apapun kondisinya. Hati yang murni tidak akan berbohong. Bahkan ketika ada teman yang berlaku curang, orang-orang yang memang memiliki hati yang tulus dan murni tidak akan ikut-ikutan. Mereka ikut mengantri dengan tertib dan sesuai aturan.

Apapun yang terjadi hari ini, saya benar-benar mendapat pengalaman hidup yang mungkin tidak akan terlupakan. Saya tidak menyesal mengikuti bakti sosial hari ini. Sekalipun harus berkotor-kotor, saya sungguh mendapat pengalaman yang berharga. Semoga saja pengalaman ini dapat bermanfaat, baik bagi kami para peserta baksos, maupun bagi para pemulung dan pengurus TPA Tanjung Rejo.

Semoga dengan pengalaman ini kami menjadi lebih peka terhadap sesama kami yang membutuhkan dan kami juga menjadi lebih prihatin dengan lingkungan, khususnya mengenai sistem pembuangan sampah yang mungkin perlu dibenahi (seperti pembagian sampah kering, sampah organik, dll) dan sepertinya sudah mulai digalakkan dewasa ini.

At last, semoga kegiatan kami hari ini sungguh dapat menjadi persembahan demi kemuliaan Tuhan yang semakin besar. AMDG!

 

Advertisements

One thought on “Refleksi Baksos TPA Tanjung Rejo

  1. Pingback: Refleksi Baksos TPA Tanjung Rejo « Makjoel’s Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s