Mencari Panggilan Hidup dan Kebahagiaan

Hari ini saya baru saja menyelesaikan membaca sebuah buku karya Jon Gordon yang berjudul The Seed. Awalnya saya tertarik membeli buku ini setelah membaca ringkasan di bagian belakang buku tersebut, ditambah lagi profil sang penulis yang termasuk salah satu penulis buku motivasi di seluruh dunia. Salah satu karyanya yang juga pernah saya baca setahun yang lalu berjudul The Shark and the Goldenfish, juga telah memberikan banyak hal yang memperkaya nilai-nilai kehidupan saya.

Kini saya kembali mendapat pelajaran berharga melalui salah satu karyanya. Sedikit saya bahas mengenai buku luar biasa berjudul The Seed ini. Buku setebal 259 halaman ini berisi kisah motivasi. Seperti halnya cara Jon Gordon memberikan motivasi di bukunya The Shark and the Goldenfish, Jon Gordon memasukkan nilai-nilai motivasi itu dalam sebuah cerita narasi yang apik. Dikisahkan tentang seorang karyawan bernama Josh yang sedang mengalami kegalauan dalam hal pekerjaannya. Ia bingung apakah pekerjaannya saat ini adalah yang terbaik untuknya? Buku ini mengisahkan perjalanan Josh ditemani anjing kesayangannya, Dharma, yang berusaha mencari panggilan hidupnya. Di awal perjalanannya itu ia bertemu dengan seorang petani tua yang memberinya sebutir benih. Petani itu berkata bahwa jika Josh ingin menemukan panggilan hidupnya, ia harus mencari tempat terbaik untuk menanam benih itu. Ketika ia telah menemukan tempatnya, maka ia pun akan menemukan panggilan hidupnya. Kisah usaha Josh untuk mencari tempat terbaik dimana ia bisa menanam benih (seed) tersebut membawanya berkeliling, dari tempat-tempat yang pernah menjadi masa lalunya, panggilan wawancara di perusahaan lain, sampai ke tempatnya saat ini hingga akhirnya Josh menyadari bahwa kita tidak bisa menanam benih itu di masa lalu atau masa depan. Satu-satunya tempat dimana dia bisa menanamnya adalah masa kini. Setelah perjalanan panjang, akhirnya Josh pun berhasil menemukan tempat yang menjadi panggilan hidupnya.

Ketika saya membaca buku ini saya pun secara spontan kembali merenungkan jalan hidup saya. Terkadang saya pun bingung dan ragu, apakah jalan hidup yang saya ambil ini sudah tepat? Apakah pekerjaan saya saat ini adalah benar-benar pekerjaan yang terbaik untuk saya? Ada beberapa pertanyaan yang bisa direnungkan ketika kita mengalami kebimbangan seperti yang dialami Josh dalam buku tersebut. Pertanyaan-pertanyaan ini dapat ditemukan dalam buku The Seed halaman 143:

  • Apakah aku telah mempelajari segala hal yang bisa aku pelajari di pekerjaanku saat ini?
  • Apakah masih ada kesempatan bagiku untuk bertumbuh di sini?
  • Apakah aku telah mencurahkan segenap hati dan jiwaku dalam pekerjaanku untuk melakukan yang terbaik yang bisa aku lakukan?
  • Apakah aku sudah mengerahkan segenap kemampuanku?

Kadang kita terpengaruh oleh kondisi di sekitar kita, dimana orang-orang di sekitar kita seringkali mengungkapkan ketidakpuasannya akan kondisi di tempat kerjanya. Hal itu secara langsung maupun tidak, bisa saja mempengaruhi penilaian kita terhadap pekerjaan kita. Di tempat kerja saya sebelumnya, frekuensi keluar masuknya karyawan cukup tinggi dan sebagian besar yang keluar mengungkapkan ketidakpuasannya atas kondisi kerja di perusahaan tersebut. Apalagi waktu itu kondisi tempat kerja saya juga tidak begitu baik. Banyak tantangan yang harus dihadapi untuk membangkitkan kembali semangat kerja para karyawannya. Saya pun pernah berpikir bahwa seharusnya perusahaan ini bisa lebih baik, seharusnya karyawan layak mendapat fasilitas yang lebih baik, dan lain-lain. Pemikiran-pemikiran yang tumbuh akibat pengaruh orang lain ini secara tidak sadar membuat saya pun mulai berpikir untuk pindah ke perusahaan lain yang saya harap bisa memberikan kebahagiaan yang lebih besar, pekerjaan yang sungguh-sungguh menjadi panggilan hidup saya.

Namun, ketika mengikuti perjalanan Josh dalam buku The Seed ini, saya pun sadar bahwa kadang saya sendiri juga bingung dengan panggilan hidup saya. Ketika waktu itu saya masih bekerja di perusahaan yang lama, saya sering berdoa dan memohon petunjuk kepada Tuhan. Saya percaya dan berharap, jika memang tempat kerja saya itu adalah tempat terbaik dan ladang yang disediakan Tuhan untuk saya, maka Tuhan akan memberikan tanda. Demikian pula sebaliknya, jika tempat itu bukan yang terbaik, dan Tuhan punya rencana lain untuk saya, pasti Ia akan membukakan jalan.

Jon Gordon mengajak kita untuk lebih menghargai tempat kita bekerja saat ini. Bekerjalah dengan segenap hati dan pikiran di manapun kita berada, sampai pada batas dimana kita tidak bisa mengembangkan diri lagi di tempat itu. Dan jika memang kita ditentukan untuk mengembangkan diri di tempat lain, sesuatu akan terjadi untuk membuat kita pindah dari pekerjaan kita.

Kalimat di atas sangat menyentuh hati saya, karena memang demikianlah yang terjadi. Tuhan punya rencanaNya yang terkadang tidak kita sadari. Dan dengan caraNya yang tidak terduga Ia menuntun kita agar kita dapat berjalan di jalanNya.

Di tengah doa-doa saya, ternyata akhirnya Tuhan menjawab doa itu. Sesuatu terjadi, sesuatu yang akhirnya mendorong saya untuk keluar dari tempat kerja saya yang lama. Dan Tuhan telah menyediakan ladang yang baru, tempat kerja saya saat ini. Ketika saya melihat kembali peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, saya semakin percaya bahwa Tuhan sungguh punya rencana dan Dia mampu menjadikan apapun untuk melaksanakan rencana itu, termasuk dalam kehidupan kita. Mungkin ada hal-hal yang buruk yang kita alami saat ini, mungkin kondisi perusahaan tempat kita bekerja sedang kurang baik, mungkin banyak orang di sekitar kita yang mengeluh dan berebut mencari tempat kerja baru… Ketika itu semua mempengaruhi penilaian kita terhadap pekerjaan kita saat ini, tidak ada salahnya kita menanyakan keempat pertanyaan tadi kepada diri kita sendiri. Tidak ada yang salah dengan pindah pekerjaan, tidak ada yang salah ketika kita ingin mengembangkan diri menjadi lebih baik. Namun, saat ini, berkarya dan melakukan yang terbaik di tempat di mana kita berada, adalah salah satu hal bijak yang bisa kita lakukan. Alih-alih membayangkan fasilitas-fasilitas menggiurkan yang ada di perusahaan lain, gaji atau jabatan yang lebih tinggi yang ditawarkan di tempat lain, berusaha untuk mengembangkan diri menjadi semakin baik niscaya akan membentuk diri kita menjadi layak untuk memperoleh lebih baik. Ketika semua yang diperlukan untuk mempersiapkan diri kita menerima segala yang lebih baik telah kita miliki, ketika kita telah ditempa dengan berbagai pengalaman yang berharga, ketika kita layak untuk menerima lebih dari apa yang kita terima saat ini, maka Tuhan akan mengatur segalanya. Alam semesta yang diciptakan Tuhan, akan membukakan jalannya untuk kita.

Jon Gordon juga menuliskan, bahwa semesta ditentukan oleh GPT (God’s Perfect Timing), atau ‘waktu Tuhan yang tepat’. Ada waktu untuk segala sesuatu terjadi. Ada proses yang harus dilalui agar kita bisa dibentuk dan dipersiapkan untuk masa depan. Proses ini tidak bisa dipercepat. Ketergesaan hanya membuat kita mengambil peluarng yang sesungguhnya kita belum siap menerimanya dan akhirnya menyebabkan kegagalan.

Akhirnya, marilah berusaha melakukan yang terbaik di manapun kita bekerja, berusaha mengembangkan diri kita dan orang lain di sekitar kita, menanamkan benih kemampuan dan kemauan kita dengan sepenuh hati saat ini. Menjalani proses yang telah ditentukan untuk kita jalani dengan sabar dan sepenuh hati, maka kebahagiaan akan datang dan segala hal baik yang bahkan jauh melebihi apa yang kita pikirkan, akan datang pada saat yang tepat-God’s Perfect Timing-.

Advertisements

4 thoughts on “Mencari Panggilan Hidup dan Kebahagiaan

  1. Pingback: Mencari Panggilan Hidup dan Kebahagiaan « Makjoel’s Blog

  2. Pingback: Kesetiaan Perempuan dalam “Mengawini Ibu” | bijak.net

  3. Thanks kak. Udah mnginspirasi. Sejujurnya aku juga dah slese baca the seed namun masih kurang mngerti apa mksd yg bnr2 ingin disampaikan buku ini. Thanks ya kak aku dag paham sekarang. God bless you kak
    Philippians 4: 13

    • Sama-sama Martinus, puji Tuhan kalau tulisanku bisa bermanfaat :). God bless you too, terima kasih juga buat ayat penguatnya, ini ayat yang dari kemarin juga keingat terus dan jadi pegangan hidupku 🙂 Yer 29:11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s