If Only We Know…

Seandainya kita bisa mengetahui jalan hidup kita, seperti menyaksikan sebuah film yang sudah bisa kita tebak akhirnya….

Selama dua puluh tahun lebih saya menjalani kehidupan, rasanya tidak pernah saya berada di persimpangan jalan yang sangat membingungkan. Sekalipun saya kerap berada di persimpangan itu, saya selalu bisa memilih dengan mantap, meski awalnya mungkin ada keraguan. Namun, dalam menjalani pilihan saya itu, rasanya semua seperti sudah digariskan dan saya pun menjalaninya tanpa keraguan. Ya, begitulah saya menjalani hidup saya selama dua puluh tiga tahun ini. Sesekali saya sempat bertanya, apakah ini jalan yang terbaik untuk saya, tetapi jawaban atas pertanyaan saya itu seakan datang dengan cepat. Itulah juga yang membuat saya tidak ragu menjalani apa yang sudah saya pilih.

Banyak orang berkata, kehidupan sebenarnya baru akan dirasakan ketika kita terjun ke masyarakat, ketika kita mulai menjadi orang dewasa yang menatap masa depan dan memiliki jutaan pilihan, tentang bagaimana kita akan menjalani hidup kita. Kini saya menyadari bahwa perkataan itu ada benarnya. Pilihan-pilihan yang saya alami, persimpangan-persimpangan yang saya temui selama saya sekolah dan kuliah, mungkin akan memberi pengaruh cukup signifikan dalam hidup saya, tetapi tidak cukup signifikan untuk menandingi pilihan dan persimpangan yang saya jumpai saat saya memasuki dunia kerja.

Berjuta pilihan muncul. Tidak hanya ribuan, ya, jutaan. Bahkan dalam satu hari saja, ada begitu banyak pilihan yang saya temui. Dan pilihan-pilihan itu tidak semata menyangkut diri saya sendiri. Tidak jarang pilihan itu juga melibatkan kepentingan dan pribadi orang lain. Pilihan seperti itu, lebih sulit lagi untuk diputuskan.

Ketika berada di persimpangan jalan, dan kita tidak tahu arah mana yang harus kita tempuh, apa yang harus kita lakukan?

Berdoa…banyak orang berkata, doa adalah jawaban. Namun, tidak banyak juga orang yang bilang, mereka sudah berdoa begitu lama, tapi belum mendapat jawaban. Jika memang demikian, maka doa bukanlah jawaban. Lalu darimana kita bisa memperoleh jawaban itu? Darimana kita bisa mendapat petunjuk tentang arah yang tepat? Darimana kita bisa meminta petunjuk, ketika tidak seorang pun yang tahu apa yang ada di setiap simpangan jalan itu?

Ya, hidup ini bagaikan jalan yang entah di mana ujungnya, entah apa yang ada di sepanjang jalan itu, entah apa yang akan kita alami selama kita berjalan di sana. Tidak seorang pun tahu jalan mana yang terbaik untuk orang lain. Karena bahkan, orang itu sendiri tidak tahu jalan mana yang terbaik untuknya.

Apa yang bisa dilakukan manusia hanyalah memperkirakan dan memperhitungkan resiko yang ada. Namun, mengenai akhir dari jalan itu, apakah jalan yang kita pilih itu akan membawa kita pada akhir yang bahagia, tidak ada yang bisa memberikan jaminan.

Selama ini, saya berpikir bahwa kita HARUS memilih SATU jalan yang benar dari awal, dan ketika kita mulai merasa bahwa jalan itu salah, kita harus segera kembali dan memilih jalan yang lain, jalan yang benar. Namun, yang saya alami sekarang adalah, saya merasa jalan ini sepertinya bukan jalan yang terbaik untuk saya, tetapi saya bisa menikmati apa yang ada dalam perjalanan saya ini. Bahkan timbul pikiran, untuk terus mencoba menjalani jalan ini hingga akhir.

Hati saya mulai gundah dan pikiran saya pun terpecah. Saya seperti berada di persimpangan jalan yang sangat panjang. Rasanya ketika saya salah memilih, akan sulit untuk kembali dan menemukan jalan yang benar.

Di satu sisi, saya ingin menggapai impian saya. Saya adalah seseorang yang idealis dan saya memiliki cita-cita yang tinggi dalam hal karier saya. Saya tahu, jalan yang sekarang saya lalui tidak akan membawa saya mencapai impian saya itu. Namun, saya juga berpikir, apakah saya harus berhenti memikirkan jalan yang lain dan menjalani hidup saya seperti sekarang—sekalipun saya harus siap membuang semua impian saya.

Saya menginginkan kesuksesan dalam karier, namun saya juga mendambakan hidup yang nyaman. Tidak bisakah saya memperoleh keduanya? Saya bingung dan terus bertanya. Bahkan dalam doa pun saya bertanya kepada Tuhan, saya minta diberikan petunjuk, jalan mana yang harus saya tempuh.

Dua hari yang lalu, ketika saya mengikuti misa di gereja, ada sebuah ayat yang seperti menyapa saya, dan menjawab pertanyaan saya: Mat 14:31 : Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”

Saat membaca dan mendengar firman itu, saya seperti ditegur oleh Tuhan. Bukankah saya sendiri sering dan berkali-kali memberi semangat kepada teman-teman saya agar selalu percaya kepada Tuhan, bahwa Ia akan senantiasa memberikan yang terbaik untuk kita. Namun, ternyata di dalam hati saya sendiri ada sebuah keraguan akan kuasa Tuhan. Padahal, Tuhan mampu berbuat apa pun. Tuhan sanggup.

Tidak ada alasan untuk merasa bimbang, kecuali jika kita memang kurang percaya. Saya memang tidak tahu, jalan mana yang akan membawa saya menuju kesempurnaan hidup yang sejati, tetapi saya diajak untuk selalu percaya kepada Nya. Ia yang akan membimbing saya menuju jalanNya, jalan kehidupan, jalan yang pasti akan membawa saya pada hidup yang sejati.

Yang harus kita lakukan hanyalah berusaha yang terbaik untuk apa yang kita harapkan, dan selalu percaya kepadaNya. Hanya dengan demikianlah kita akan mampu menjalani hidup kita sekarang dengan bersyukur, sambil tetap berharap dan percaya pada kuasaNya.

Advertisements
Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s