Mencari Kesempurnaan

Ketika saya duduk di bangku kuliah, saya ingat sekali seorang dosen pernah mengatakan hal ini ketika kami membahas tentang Thermodinamika, “Di dunia ini tidak ada yang sempurna/ideal, jadi jangan menunggu untuk mendapatkan sesuatu yang sempurna/ideal”. Seperti proses-proses dalam thermodinamika yang diasumsikan ideal, padahal sejatinya tidak ideal, demikian pula apa yang terjadi dan ada dalam kehidupan kita.

Salah satu kisah menarik mengenai orang yang mencari kesempurnaan/keidealan ini saya temukan dari buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2! karya Ajahn Brahm. Berikut ceritanya,

Seorang pemuda yang hidup di Perth telah sampai usia saat ia merasa harus mencari pasangan hidup. Jadi ia mencari-cari gadis sempurna di seluruh negeri untuk dinikahi. setelah berhari-hari, berminggu-minggu mencari, ia bertemu dengan gadis yang sangat cantik-jenis gadis yang bisa menghiasi sampul majalah perempuan bahkan tanpa make-up atau kosmetik!

Namun, meski dia kelihatan sempurna, pemuda itu tak bisa menikahinya. Sebab…gadis itu tidak bisa masak! Jadi pemuda itu pun pergi. Gadis ini tak cukup sempurna baginya.

Lalu ia mencari lagi, selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan akhirnya ia menemukan gadis yang bahkan lebih cantik lagi, dan kali ini masakan gadis itu luar biasa lezat—lebih baik dari yang bisa Anda dapatkan di restoran terbaik Australia, bahkan lebih baik dari yang bisa Anda dapatkan dari restoran keluarga. Gadis ini bahkan menjalankan usaha restorannya sendiri!

Namun pemuda ini tak bisa menikahinya pula. Sebab…kekurangan gadis itu adalah…dia bodoh. Dia tak bisa menjalin percakapan sama sekali, sama sekali tidak cerdas. Dia belum menamatkan pendidikan, segala yang ia tahu Cuma memasak! Jadi pemuda itu pun pergi. Gadis ini tak cukup sempurna baginya.

Maka ia mencari selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, hingga ia akhirnya menemukan gadis yang satu ini! Ia begitu cantik, masakannya melebihi restoran bintang lima, bahkan ia punya tiga restoran sendiri: ala Thai, ala Jepang, dan ala Itali. Dan ia begitu cerdas, ia punya dua gelar doktor, pengetahuannya begitu luas, bisa menjalin percakapan begitu hebat, begitu baik, begitu welas asih. Ia sempurna!

Tapi, pemuda kita ini tak bisa menikahinya. Sebab…gadis ini mencari pria yang sempurna!

Kisah ini sangat menarik bagi saya. Tidak saya sangkal bahwa selama ini saya sering mengidamkan kesempurnaan dalam berbagai hal, baik dalam karir maupun kehidupan pribadi. Ketika ada sesuatu yang mengurangi kesempurnaan itu saya menjadi gelisah dan ingin mengubahnya agar menjadi sesuatu yang ideal. Namun, akhirnya hal itu hanya membuat saya lelah dan apa yang saya dapat? Mungkin kepuasan sesaat, tapi pada akhirnya kebahagiaan yang saya peroleh dari segenap usaha saya untuk membuat sesuatu menjadi sempurna itu tidak bertahan lama.

Ada sebuah filosofi menarik yang saya pelajari dari kehidupan ini. Mengubah sesuatu, berarti kita memerlukan banyak energi untuk melakukannya. Namun jika kita menerima sesuatu seperti apa adanya, kita memperoleh lebih banyak energi. ‘Energi’ yang ditimbulkan oleh perasaan damai di dalam hati itulah yang sejatinya memberikan efek kebahagiaan yang bertahan jauh lebih lama.

Sesungguhnya, alam telah menyediakan segalanya untuk kita, dan percayalah kita tidak akan kekurangan apapun, karena Tuhan yang menciptakan kita adalah Tuhan yang sangat cerdas—Ia tahu dan sangat teliti dengan apa yang diciptakanNya. Semua diciptakan seimbang dan selaras. Hanya jika kita mau untuk hidup seimbang maka kita tidak akan merasa kekurangan. Namun, adalah sifat dasar manusia yang tidak pernah puas. Sifat ini sering dikategorikan sebagai salah satu sifat yang positif karena akan mendorong orang untuk terus maju dan berkembang. Tentu saja perkembangan merupakan hal yang positif, namun memaksakan sesuatu untuk menjadi sempurna, menunggu dan berharap akan adanya kesempurnaan adalah sesuatu yang sia-sia.

Kisah di atas seperti halnya seseorang yang ingin membeli barang berharga. Suatu ketika ia telah menemukan ‘perak’ tapi ia mengharapkan ‘emas’ dan ketika ia telah menemukan ‘emas’ ia mengharapkan ‘platina’ dan ketika ia telah menemukan ‘platina’ ia tidak punya cukup uang untuk membelinya. Jika saja pria tadi menerima gadis pertama yang dijumpainya, mungkin saja ia akan hidup bahagia dengan seorang istri yang sangat cantik ada di sisinya. Namun, ia bisa saja melewatkan kesempatan bertemu dengan gadis yang kedua..yang jika ia menikahinya, selain ia punya istri yang cantik, pintar memasak pula…demikian seterusnya. Itulah pemikiran kita sebagai manusia. Masa depan memang tak pasti, mungkin saja jika kita memilih A, akan ada pilihan lain yang lebih baik yang kita lewatkan, namun mengapa berdiam diri sambil menunggu yang tak pasti? Bukankah jauh lebih baik bersyukur atas apa yang ada dan menikmati hidup dengan saling belajar menerima kenyataan bahwa memang tak ada yang sempurna di dunia ini?

Kesempurnaan yang kita lihat mungkin juga hanya sebuah ilusi, ilusi yang tercipta atas hasil pemikiran dan keinginan kita sendiri. Pasangan yang tampaknya cantik, pintar memasak, cerdas..belum tentu akan memberikan kebahagiaan yang lebih besar daripada pasangan yang tidak begitu cantik, tidak begitu pintar memasak, dan tidak begitu cerdas, bukan? Kita semua tahu bahwa masa depan itu tidak pasti. Benar, masa depan itu tidak pasti. Oleh karena itu, untuk apa repot memikirkan sesuatu yang tidak pasti? Menjalani apa yang ada dengan sebaik-baiknya dan menikmati waktu yang ada sekarang bersama dengan orang-orang di sekitar kita, benda-benda di sekitar kita..mungkin ini jauh lebih berharga daripada sekedar bermimpi tentang masa depan yang sempurna.

Hari ini akan berlalu, esok pun akan berlalu. Kesempurnaan yang kita temukan hari ini mungkin besok tak lagi sempurna. Karena itu, jalanilah hari ini dengan segala kualitas yang disediakannya untuk kita hari ini juga. Besok, jalanilah dengan segala kualitas kehidupan yang disediakan besok. Kesempurnaan hanya ada di tangan Sang Pencipta. Kita manusia, sangat wajar dan manusiawi jika kita berharap akan menjadi sempurna karena kita memang tidak sempurna. Seperti halnya orang kaya yang tidak berharap menjadi kaya, atau seorang bangsawan yang tidak berharap menjadi bangsawan—karena mereka telah memilikinya. Orang kaya tidak perlu berharap dan memimpikan kekayaan karena ia memang sudah kaya. Seorang bangsawan tidak perlu berharap dan bermimpi menjadi bangsawan karena ia memang adalah seorang bangsawan. Maka, semakin dekat seseorang dan kesempurnaan, seharusnya semakin ia tidak mendambakan kesempurnaan itu.

Memang sulit untuk menerapkan sikap hati yang menerima dengan tulus ikhlas apa yang ada dalam kehidupan kita, namun marilah belajar menerima hidup ini..menerima setiap kelemahan yang kita temukan, baik dalam diri kita maupun orang lain, dan marilah tetap hidup dengan gembira, menjalani hidup yang ada seadanya tanpa menantikan kesempurnaan itu datang dalam hidup kita.

 

Advertisements
Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s