‘Hidup untuk Bekerja’ atau ‘Bekerja untuk Hidup’?

Lagi-lagi di sebuah siang hari dengan cuaca berawan. Tiba-tiba saja sesuatu menggerakkan hati saya untuk membuat sebuah tulisan.

Beberapa hari yang lalu, saya mulai membaca sebuah buku berjudul The Power of The Mind to Heal karya Joan dan Miroslav Borysenko yang keduanya merupakan pasangan suami-istri dokter dengan gelar Ph.D. Keduanya berkonsentrasi pada sebuah cabang ilmu medis yang disebut psikoneuroimunologi. Memang, saya belum selesai membaca buku setebal 331 halaman ini, tetapi sedikit yang sudah saya tangkap adalah bahwa buku ini membahas hubungan antara pikiran dengan kesehatan kita.
Salah satu bagian yang baru saja saya baca dan sangat menarik perhatian saya adalah bagian ini:

Studi terhadap orang-orang yang berumur panjang (kebalikan dari mereka yang mati muda) menunjukkan bahwa bekerja lebih dari 40 jam seminggu (terutama jika pekerjaan yang anda lakukan kurang berarti bagi anda), mengalami kesepian terus-menerus, dan tidur rata-rata kurang dari delapan jam, erat hubungannya cepat tua dan mati prematur (lebih cepat dari usia/waktu sebenarnya).
Penulis buku itu menjelaskan bahwa, pikiran yang negatif dapat mengurangi kekebalan tubuh kita sehingga lebih mudah terserang penyakit. Stress akibat pekerjaan, kesepian, dan kurang istirahat dapat merupakan hal-hal negatif yang sangat jelas, tidak baik dampaknya bagi tubuh kita.
Sungguh menyedihkan, ketika saya menyampaikan hal ini pada salah seorang sahabat karib saya, dia langsung menyahut, “Wah kalau begitu saya akan mati prematur dong,”
Saya menyadari mengapa sahabat saya itu begitu mudah menyimpulkan demikian. Dia sedang berada di tengah perjalanan meniti kariernya dan begitu banyak tugas pekerjaan dibebankan kepadanya. Tempat kerjanya yang jauh dari kota asalnya mengharuskan ia tinggal di rumah kos di kota tersebut. Kota tersebut adalah kota industri yang tentu saja, tidak dapat dibandingkan dengan kota asalnya atau kota besar lainnya. Dia tidak memiliki teman karib di kota itu. Hampir setiap hari ia pulang melebihi jam pulang kerja seharusnya dan ketika pulang, ia telah lelah. Kehidupannya berjalan seperti itu. Dia sering mengeluhkan bahwa ia merasa jenuh dengan hidup yang seperti itu. Jam kerja yang lebih panjang daripada jam kerja seharusnya dan kesepian yang terus-menerus yang telah dirasakannya selama kurang lebih satu setengah tahun ini membuatnya dengan mudah berkata, “Wah kalau begitu saya akan mati prematur dong,”

Sebelumnya, saya sempat membaca sebuah buku yang unik karya Fred Gratzon, The Lazy Way to Success yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Malas tapi Sukses. Dalam bukunya itu, Fred Gratzon mengkritik orang-orang yang selalu menekankan pentingnya kerja keras seolah hidup ini harus kita lalui dengan bekerja keras seumur hidup kita. Ia pun membantah bahwa kesuksesan terbesar akan datang melalui kerja keras. Salah besar! Kesuksesan akan datang melalui kemalasan. Bagaimana bisa? Awalnya saya pun ragu dengan pendapatnya, karena saya merasa termasuk salah seorang pendukung teori ‘sukses berasal dari kerja keras’. Namun, setelah membaca bukunya, saya pun mengerti apa yang dimaksudkan penulis unik ini. Fred mengajak kita untuk bekerja sesuai dengan apa yang ingin kita lakukan. Bekerja bukan lagi sebuah beban, melainkan kebebasan! Bekerjalah di suatu bidang dimana Anda merasa begitu menikmati dan tenggelam dalam pekerjaan itu, sampai-sampai (jika begitu ekstrimnya) Anda akan rela bekerja tanpa dibayar! Jika ada pekerjaan seperti itu, ambillah! Pekerjaan tidak seharusnya mengekang, tetapi pekerjaan seharusnya membebaskan pikiran seseorang sehingga ia bisa menjadi lebih kreatif dan dengan demikian sukses pun akan datang menghampiri.

Tentu saja hal ini kontras sekali dengan apa yang terjadi dewasa ini. Kita seringkali mendapati (atau bahkan mengalami sendiri) orang yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk bekerja. Alasannya? Tentu saja untuk mendapat penghasilan, untuk sukses, dan lain-lain. Bahkan perusahaan akan senang dengan karyawan yang mau bekerja overtime setiap hari (kalau bisa, tanpa dibayar). Begitu kerasnya persaingan hidup sehingga orang berusaha lebih keras untuk bisa mengimbangi kemajuan zaman. Ketika kita bekerja dan melihat rekan kerja kita tengah bersantai, pasti akan sangat manusiawi dan wajar jika kita berpikir, “Mengapa orang itu tidak bekerja pada jam kerja? Bukankah kita dibayar untuk bekerja??” dan ketika kita telah menyelesaikan suatu pekerjaan, sesaat kita merasa lega karena ‘terbebas’ tapi atasan kita dengan segera memberikan tugas yang baru…dan kita pun kembali harus menghela napas dan menunda waktu untuk bersantai agar bisa segera menyelesaikan pekerjaan itu. Ketika pekerjaan itu selesai, apakah kita bisa bersantai? Ooo tentu tidak! Pekerjaan kita selalu siap dengan tugas-tugas baru untuk kita kerjakan. Lalu ketika akhirnya kita bisa pulang, kita sudah terlalu lelah untuk berinteraksi dengan keluarga kita atau orang lain sehingga kita langsung makan malam lalu tidur. Begitu yang terjadi hampir setiap hari. Ya, hampir setiap hari, karena terkadang di hari libur pun ada telpon mendadak dari kantor yang mengharuskan kita untuk datang ke kantor lagi.

Membayangkan rutinitas seperti ini tentu saja bisa membuat kita stress. Namun, apakah kita akan berhenti dari pekerjaan kita sekalipun hal seperti itu yang terjadi? Tidak, kalau kita berhenti begitu saja artinya kita ini lemah! Tentu banyak yang akan berpikir begitu bukan? Namun, berhenti dari sebuah pekerjaan juga bukan hal yang tabu. Mengapa harus bertahan untuk sesuatu yang hanya akan menyakiti diri kita sendiri? Namun, mencari-cari pekerjaan yang nyaman untuk diri kita juga bukan sesuatu yang mudah. Lalu bagaimana?
Ajahn Brahm dalam bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya”mengajak kita untuk mengubah sudut pandang kita terhadap pekerjaan. Jika selama ini kita melihat pekerjaan kita sebagai sebuah beban dan ‘penjara’ yang membuat kebebasan kita terbelenggu, seolah kita begitu kuat terikat dengan pekerjaan kita sehingga kita mengesampingkan hal lain, marilah mencoba mengubahnya. Pekerjaan bukanlah ‘penjara’. Jika kita sering merasa ‘saya tidak ingin bekerja di sini’ ubahlah menjadi ‘saya ingin bekerja di sini’, bukan lagi ‘saya harus bekerja seperti ini’ tapi ‘saya ingin bekerja seperti ini’
Apa intinya? Intinya adalah mengubah cara pandang diri kita terhadap sesuatu. Berusaha bersyukur atas apa yang ada dan kita miliki. Bukan hal mudah memang. Saya sendiri sering merasa tidak puas dengan kehidupan yang saya jalani. Saya sering merasa ingin menggapai banyak hal. Namun, saya pun kadang diingatkan bahwa kebahagiaan tidak muncul dari hal-hal yang saya inginkan itu. Kebahagiaan dan kedamaian akan muncul dari dalam diri kita jika kita memutuskan untuk mensyukuri hidup ini apa adanya. Untuk apa bekerja terlalu keras jika apa yang kita kejar hanyalah materi semata? Coba renungkan cerita di bawah ini. Cerita ini adalah sebuah cerita yang sangat menarik dan menyentuh hati, kutipan dari buku Ajahn Brahm, Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya.

Di sebuah desa nelayan Meksiko yang tenteram, seorang Amerika yang sedang berlibur melihat seorang nelayan setempat baru saja pulang dari melaut pada pagi hari. Si Amerika, seorang profesor sukses di sebuah perguruan tinggi bergengsi di AS, tidak tahan untuk tidak memberikan sedikit wejangan gratis kepada si nelayan Meksiko.
“Hai!” sapa si Amerika. “Mengapa pagi-pagi sudah pulang dari melaut?”
“Karena saya sudah mendapat cukup ikan, Senor,” jawab si Meksiko yang ramah itu, “cukup untuk memberi makan keluarga saya dan sedikit kelebihannya untuk dijual. Sekarang saya akan makan siang bersama istri saya dan, setelah tidur siang sejenak, saya akan bermain-main bersama anak-anak saya. Lalu, setelah makan malam, saya akan pergi ke kedai, meneguk sedikit tequila dan bermain gitar bersama teman-teman saya. Itu cukup untuk saya, Senor.”
“Dengarkan saya, kawan,” ujar si profesor bisnis. “Jika kamu tetap melaut sampai larut sore, dengan mudah kamu akan mendapatkan tangkapan dua kali lipat. Kamu dapat menjual kelebihannya, menabung uangnya, dan dalam waktu enam bulan, atau sembilan bulan, kamu akan mampu membeli perahu yang lebih bagus dan lebih besar dan menggaji beberapa awak. Kemudian kamu akan mampu menangkap ikan empat kali lebih banyak. Pikirkanlah berapa banyak tambahanuang yang kamu dapatkan! Dalam satu atau dua tahun, kamu akan punya modal untuk membeli perahu kedua dan menggaji awak-awak lain. Jika kamu mengikuti perencanaan bisnis ini, dalam waktu enam atau tujuh tahun kamu akan bangga menjadi pemilik sebuah armada penangkap ikan yang besar. Coba bayangkan itu! Lalu kamu sebaiknya memindahkan kantor pusatmu ke Mexico City atau bahkan ke L.A.. setelah tiga atau empat tahun di L. A., perusahaanmu bisa go public dan membuatmu sebagai CEO dengan paket penghasilan dan hak pembagian saham yang istimewa. Dalam beberapa tahun—dengarkan ini!—kamu memulai skema pembelian kembali sham-saham, yang akan menjadikanmu seorang mulltijutawan! Saya ini profesor terkenal di sebuah sekolah bisnis di Amerika. Saya tahu soal-soal beginian!”
Si nelayan Meksiko itu mendengarkan dengan khusyuk apa yang dikatakan oleh profesor Amerika itu dengan menggebu-gebu. Ketika profesor selesai bicara, si Meksiko bertanya, “Tetapi, Senor Profesor, apa yang bisa saya lakukan dengan berjuta-juta dolar itu?”
Yang mengejutkan, si profesor Amerika itu belum memikirkan rencana bisnisnya sejauh itu. Jadi, dengan segera dia mereka-reka apa yang bisa dilakukan jika seseorang dengan jutaan dolarnya.
“Amigo! Dengan semua duit itu, kamu bisa pensiun. Yeah! Pensiun seumur hidup. Kamu bisa membeli sebuah vila kecil di sebuah desa nelayan yang indah seperti ini, dan membeli sebuah perahu kecil untuk pergi memancing pada pagi hari. Setiap hari kamu bisa makan siang bersama istrimu, dan tidur siang sejenak setelahnya, tanpa perlu mengkhawatirkan apapun. Pada sore hari kamu dapat melewatkan saat-saat berkualitas bersama anak-anakmu dan, setelah makan malam, bermain gitar bersama teman-temanmu, meneguk tequila. Yeah, dengan semua uang itu, kawan, kamu bisa pensiun dan hidup senang!”
“Tetapi, Senor Profesor, kan sekarang ini saya sudah bisa begitu?”

Lalu di akhir cerita itu, Ajahn Brahm menambahkan, “Mengapa kia percaya bahwa kita harus bekerja begitu keras dan menjadi kaya raya terlebih dahulu, barulah kita bisa merasa berkecukupan?

Saya tidak mengajak teman-teman untuk bermalas-malasan atau bergonta-ganti pekerjaan mencari pekerjaan yang enak. Saya tegaskan sekali lagi, kalau dengan pemikiran kita ingin mencari pekerjaan yang enak, di zaman sekarang ini saya rasa kemungkinan untuk memperoleh pekerjaan seperti itu hampir tidak ada. Saya ingin mengajak teman-teman untuk melihat kembali, apa sebenarnya yang menjadi prioritas utama dalam hidup Anda. Jika memang teman-teman ingin mengejar kesuksesan dalam karier, maka kejarlah! Tapi ingat, tidak dengan bekerja membabi buta. Kita harus ingat bahwa Tuhan tidak menciptakan kita hanya untuk bekerja. Bahkan Tuhan pun beristirahat setelah menciptakan alam semesta bukan? Karena itu bekerja dan berusaha pun hendaknya diimbangi dengan istirahat yang cukup. Jika memang merasa mampu untuk lembur, lembur pun tak masalah. Yang penting, kita melakukannya dengan penuh syukur. Kita memang ingin melakukannya, bukan harus melakukannya. Dengan mengubah cara pandang kita yang kelihatannya sepele ini, ternyata dampaknya akan sangat besar. Suatu kegiatan yang kita lakukan karena kita ingin akan dapat kita nikmati, sedangkan kegiatan yang hanya kita rasakan sebagai sebuah kewajiban atau keharusan, hanya akan mengekang diri kita dan seolah-olah menjadi penjara buat kita. Jika memang ingin sukses dalam karier, bekerjalah dengan rasa syukur senantiasa!

Namun, jika prioritas kita adalah kehidupan keluarga, tentu saja kita harus menjadikan keluarga kita sebagai prioritas dalam kehidupan kita. Jangan sampai pekerjaan kita akan membuat kita menelantarkan keluarga. Jangan sampai waktu kita habis hanya untuk mengejar materi, sementara keluarga kita tidak pernah mendapat kasih sayang yang mereka harapkan dari kita.

Jika Anda seperti saya, yang berpikir bahwa kedua hal itu harus sejalan (karier dan keluarga) maka carilah pekerjaan yang memungkinkan untuk itu dan berusahalah membagi waktu sebijaksana mungkin. Tidak selalu urusan pekerjaan harus diutamakan dan tidak selalu urusan keluarga yang harus dimenangkan. Setiap masalah dapat kita buat prioritasnya dan kita berikan perhatian lebih banyak pada prioritas kita. Memang, mencari pekerjaan yang sesuai, seperti yang sudah dua kali saya sebutkan di atas, adalah hal yang sulit. Maka, prinsip mensyukuri pekerjaan juga harus selalu kita terapkan. Jika ada pekerjaan yang menawarkan gaji tinggi dan fasilitas lengkap tapi mengharuskan kita untuk lembur setiap hari dan hampir tidak ada libur, mengapa kita tidak memilih pekerjaan lain yang menawarkan gaji—yang meskipun tidak tinggi, tetapi masih wajar dan cukup baik—tapi kita bisa memberi waktu dan perhatian yang cukup untuk keluarga kita?

Teman-teman, marilah mencoba menggali apa yang sebenarnya paling penting bagi kita. Apakah kita rela mengorbankan hidup kita dan waktu yang kita miliki hanya untuk bekerja keras demi mendapat materi? Ada satu hal yang harus kita ingat: Uang tidak bisa membeli segalanya. Bahkan kesehatan sekalipun—yang menurut sebagian orang dapat dibeli dengan uang, nyatanya tidak juga. Seseorang yang terkena sakit parah akibat terlalu keras memaksa dirinya untuk bekerja, belum tentu bisa mengembalikan kesehatannya dengan uang yang ia peroleh dari hasil kerjanya itu.

Selamat bekerja sesuai dengan porsinya! GBU.

Advertisements

One thought on “‘Hidup untuk Bekerja’ atau ‘Bekerja untuk Hidup’?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s