Memilih untuk Bahagia

Siang ini di hari Jumat, tidak seperti yang biasanya saya lakukan—setidaknya selama kurang lebih setahun terakhir ini—saya menyempatkan diri membuat tulisan ini. Sudah hampir dua minggu saya ‘istirahat’ dari pekerjaan kantor dan di sela waktu saya mencari pekerjaan yang baru dan menunggu panggilan untuk tes, saya mengisi waktu saya dengan membaca beberapa buku. Beberapa hari yang lalu, salah seorang teman baik saya berkata kepada saya bahwa dengan mengungkapkan apa yang kita dapat dari sebuah buku maka kita akan lebih mudah menerapkannya. Maka di sinilah saya, mencoba membuat tulisan yang semoga dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.

Beberapa bulan yang lalu, saya membaca sebuah buku yang sangat menarik. Buku yang tidak biasa, tidak seperti buku-buku inspirasi lainnya yang menawarkan cara-cara untuk sukses, cara-cara untuk bahagia, cara-cara untuk kaya, dan hal-hal duniawi lainnya. Mungkin agak terlambat bagi saya karena buku ini sebenarnya sudah cukup lama diterbitkan. Buku tersebut berjudul Awareness, kumpulan hasil perenungan Anthony de Mello yang dirangkai dengan apik dan diedit menjadi sebuah buku panduan spiritual.

Tulisan ini bukan resensi dari buku tersebut. Saya hanya ingin mengawali tulisan ini dengan sebuah buku yang mengubah cara pandang saya terhadap hidup pada umumnya, dan terhadap kebahagiaan khususnya.

Bagaimana kita memandang kebahagiaan selama ini? Banyak orang yang berkata ‘kalau saya memiliki barang itu saya pasti akan bahagia’, ‘kalau saya menikah dengan orang itu pasti saya akan bahagia’ atau ‘kalau saya bisa jadi seperti orang itu pasti saya akan bahagia’

Begitu banyak syarat yang kita ajukan untuk bahagia. Namun, sungguhkah kita akan bahagia dengan memenuhi semua syarat itu? Mungkin pada awalnya iya, tapi berapa lama kebahagiaan yang tercipta dari kepemilikian atas hal-hal duniawi itu bertahan? Seingat saya, tidak cukup lama.

Pada pokok bahasan ke-24 dalam Awareness, Anthony de Mello menyebutkan, “Kebahagiaan yang sejati adalah tanpa sebab.” dan “Kebahagiaan merupakan keadaan alami dari anak-anak kecil, yang memiliki kerajaan Allah, sampai suatu saat diri mereka dicemari dan dinodai oleh kebodohan masyarakat dan budaya.” Pernyataan ini mungkin terasa sangat menusuk hati. Namun, jika dengan jujur kita merenungkannya, pernyataan tersebut memang benar adanya.

Saya sering memberi syarat untuk merasa bahagia. Saya akan lebih bahagia jika saya bisa mencapai kesuksesan tertentu. Saya akan bahagia jika saya dapat memiliki barang tertentu. Namun, faktanya, setelah saya memiliki semuanya itu, kebahagiaannya tidak berlangsung lama. Saya segera menginginkan hal lain yang lebih lagi..dan akan seterusnya begitu. Jika kita tidak sadar akan makna kebahagiaan yang sejati, kita akan terus terjebak dalam pengertian kebahagiaan yang bersyarat dan jika demikian, sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa menemukan dan merasakan kebahagiaan sejati.

Merasa bahagia atau tidak, sesungguhnya adalah pilihan kita.  Dalam situasi seperti apapun, kita bisa memilih untuk merasa bahagia atau sebaliknya. Ketika seseorang membicarakan hal buruk tentang kita, kita bisa memilih untuk tetap tenang dan merasa bahagia, atau merusak kebahagiaan kita dengan marah dan membenci orang itu. Semuanya adalah pilihan kita sendiri. Sayangnya, kecenderungan dan pengaruh dari lingkungan di sekitar kita seringkali mendorong kita untuk memilih hal yang keliru. Ketika seseorang berbicara hal buruk tentang kita, bukankah kita punya pilihan untuk memaafkannya atau malah menghardiknya? Dalam situasi seperti itu, orang cenderung akan marah atau menyimpan dendam kepada orang yang telah menjelek-jelekkan dirinya. Bahkan teman-teman di sekitar kita pun mungkin mendorong kita untuk melakukan itu, dengan kata-kata seperti, “Masa’ kamu diam saja diperlakukan seperti itu?” atau  “Kamu harus membalas perbuatannya!”

Sangat sedikit di antara kita yang mungkin akan seketika memaafkan orang yang telah menjelek-jelekkan kita. Sangat sulit memang untuk berperilaku sebaliknya dari kebiasaan umum. Namun, sekali lagi, dalam situasi apapun sebenarnya kita punya pilihan untuk bahagia. Dengan memaafkan secara tulus, hati kita akan terasa damai dan tenang. Itulah kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati tidak akan kita dapatkan dengan menghardik atau membalas perbuatan orang yang telah menjelek-jelekkan kita. Mengklarifikasi adalah sesuatu yang wajib dilakukan, tetapi tidak harus disertai dengan emosi apalagi balas dendam.

Saya sempat menyaksikan sebuah acara di Metro TV yang dipandu oleh Desi Anwar. Kebetulan pada episode yang saya tonton, Desi Anwar melakukan wawancara dengan beberapa orang yang dianggap telah menemukan makna kebahagiaan sejati. Ketika mengamati dan mendengarkan jawaban orang-orang itu, saya merasa kagum. Dari wajah mereka tampak ketenangan dan kedamaian. Begitu pula yang tercermin dari jawaban-jawaban mereka. Inti dari apa yang mereka sampaikan sama: Kebahagiaan tidak muncul dari luar diri kita, tetapi dari dalam diri kita sendiri. Kitalah yang menentukan kebahagiaan kita.

Baru-baru ini saya membaca sebuah buku kumpulan cerita Ajahn Brahm. Seperti halnya yang saya rasakan ketika membaca buku kumpulan cerita Anthony de Mello, saya merasakan sesuatu yang berbeda. Saya merasa pintu-pintu yang terbuka dalam pikiran saya. Seolah selama ini saya hidup dalam pikiran yang tertutup dan cara pandang yang sangat sempit mengenai hidup. Namun, cara orang-orang istimewa ini memaknai kehidupan sungguh luar biasa. Mereka mungkin telah menemukan dan mempraktikkan kebahagiaan yang sejati dalam hidup mereka.

Menemukan kebahagiaan sejati bukan berarti kita tidak akan ditimpa masalah atau kesulitan. Masalah atau kesulitan pasti akan tetap ada. Semuanya sama seperti biasanya. Disibukkan dengan urusan pekerjaan, menghadapi klien kerja dan rekan kerja yang mungkin agak sulit diajak bekerja sama, menghadapi atasan yang keras, menghadapi pelanggan yang banyak komplain…semuanya sama. Namun, ada satu hal yang akan berbeda, yaitu cara pandang kita terhadap masalah atau kesulitan itu sendiri. Memilih untuk bahagia tidak berarti menghindari setiap masalah yang muncul. Justru dengan memilih untuk bahagia, kita akan mampu melewati setiap persoalan hidup dengan lebih tenang. Persoalan yang datang, janganlah kita anggap sebagai musuh. Percayalah setiap persoalan selalu disertai dengan pelajaran dan pasti ada jalan keluarnya. Terimalah masalah itu hadir dalam hidup kita dan bukalah diri kita untuk menerima masalah itu. Semakin kita menolak dan menghindari, maka masalah itu bukannya akan selesai melainkan malah akan semakin besar dan tak kunjung selesai.

Rick Warren, dalam  bukunya God’s Answers to Life’s Difficult Questions, memberikan arahan yang lebih praktis mengenai bagaimana kita sebaiknya menyikapi persoalan-persoalan yang terjadi dalam hidup. Salah satu bagian yang cukup menarik bagi saya adalah pembahasan mengenai bagaimana kita menangani persoalan-persoalan yang terjadi dalam hidup kita.

Ada enam prinsip yang dapat dipraktikkan untuk menangani persoalan yang terjadi menurut Rick Warren. Prinsip pertama adalah Kenali musuh. Kita sering salah mengira bahwa musuh kita adalah orang lain, padahal sebenarnya kerap kali musuh kita sebenarnya adalah sikap kita sendiri.  Peristiwa yang terjadi sering tidak cukup kuat untuk menjatuhkan kita, tetapi respon kita terhadap masalah yang terjadi. Prinsip kedua adalah membawa persoalan kita kepada Tuhan. Jika kita percaya bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang Mahakuasa, seharusnya kita tidak perlu khawatir dan dengan menyerahkan persoalan itu ke dalam tanganNya, percayalah Tuhan akan menolong kita pada saat yang tepat. Prinsip ketiga adalah mengakui ketidakmampuan kita. Seringkali kita merasa sombong dengan kemampuan kita sendiri, tetapi di saat ternyata persoalan terasa sangat berat, kita menjadi putus asa dan bingung harus berbuat apa. Ingatlah bahwa sebagai manusia, kita sangat terbatas, tetapi kekuatan Tuhan kita sangat tidak terbatas. Prinsip keempat adalah bergantung kepada sumber-sumber Allah. Kita sering memilih bergantung pada hal-hal lain atau ‘allah-allah lain dalam usaha memecahkan persoalan kita. Mengapa masih ragu akan kemampuan Tuhan? Percayalah kepadaNya dan bahwa kuasaNya jauh melebihi kuasa-kuasa lain yang ada. Prinsip kelima adalah rileks di dalam iman. Kita tidak menopang Allah; Dialah yang menopang kita. Rilekslah dalam iman dan biarkan Allah bekerja melalui diri kita menurut caraNya. Prinsip keenam adalah bersyukur kepada Allah terlebih dahulu—bahkan sebelum masalah yang kita hadapi selesai—karena kita percaya bahwa tidak ada situasi yang tidak dapat Ia tangani.

Ada sebuah kutipan puisi yang sangat indah yang ditampilkan dalam kumpulan buku Ajahn Brahm Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya:

Terlalu berlebihan berharap untuk hidup tanpa rasa sakit,

Adalah salah berharap untuk hidup tanpa rasa sakit,

Karena rasa sakit adalah pertahanan tubuh kita.

Tak pedulli seberapa tak sukanya kita,

Dan tak ada yang suka rasa sakit,

Rasa sakit itu penting,

Dan kepada rasa sakitlah kita harus berterima kasih.

 

Bagaimana lagi kita bisa tahu

Untuk menarik tangan kita dari api?

Jari kita dari belati?

Kaki kita dari duri?

Jadi rasa sakit itu penting

Dan kepada rasa sakitlah kita harus berterima kasih.

….

Jonathan Wilson-Fuller

Sepenggal puisi di atas ditulis Jonathan saat ia berusia 9 tahun.

Betapa indahnya hidup ini jika kita mampu merasakan kebahagiaan sejati dalam diri kita. Berteman dengan setiap persoalan yang hadir dan menyikapinya dengan bijaksana, tetap merasa bahagia sekalipun berbagai persoalan datang menerpa.

Percayalah kita mampu. Semua itu hanya membutuhkan keberanian dari diri kita sendiri untuk memilih. Jadi, maukah Anda merasakan kebahagiaan sejati?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s