Hidupmu Berharga!

Buluh yang terkulai takkan dipatahkanNya, Dia ‘kan jadikan indah, sungguh lebih berharga. Sumbu yang t’lah pudar takkan dipadamkanNya, Dia ‘kan jadikan terang untuk kemuliaanNya,”

Sahabat-sahabat terkasih tentu ada yang sudah mengenal cuplikan lirik di atas. Saya pribadi baru mengetahui lirik itu ketika saya mengikuti sebuah KKR di Kudus. Tema KKR saat itu adalah “Life without Regrets” yang diadakan oleh Persekutuan Doa Disciples Kudus. Lagu itu dinyanyikan berulang kali. Ketika mendengar refren dari lagu “Hidupmu Berharga” itu hati saya langsung terharu. Saat itu saya merasa, saya seperti buluh yang terkulai dan sumbu yang telah pudar. Saya seperti nyaris tidak punya harapan. Saya tidak tahu apa yang dapat saya perbuat. Saya merasa apakah hidup saya berarti?

Namun, melalui pujian itu, Tuhan seperti menyadarkan saya. Dia menegur saya dan berkata, “Hidupmu berharga bagiKu,” dan bukan hanya berharga, bahkan Dia akan menjadikan diri kita yang rapuh ini jauh lebih indah daripada sebelumnya.

Sahabat-sahabat terkasih, saya yakin dewasa ini banyak di antara kita yang sering merasa putus asa, tertekan, merasa seolah tidak ada harapan dan merasa hidup kita tidak berarti.

Saya sering merasa masalah dan kesulitan datang tiada henti. Saya sering merasa tidak bisa berbuat banyak dalam pekerjaan saya, dan tidak jarang saya merasa menjadi beban bagi orang lain. Saat itu saya sungguh merasa putus asa dan kehilangan semangat. Saya yakin banyak teman yang juga merasakan hal itu. Beberapa teman saya juga menceritakan perasaan tertekan mereka, rasa frustasi, karena lingkungan kerja yang tidak nyaman, atasan yang seenaknya, sikap senior yang sulit diajak bekerja sama, dan lain-lain. Dan saya merasa cukup beruntung karena saya merasa diterima dengan baik di lingkungan kerja saya. Saya pun sadar, ternyata banyak teman saya yang jauh lebih tertekan daripada saya. Mungkin masalah mereka jauh lebih besar daripada yang saya hadapi.

Melalui tulisan ini, saya tidak bermaksud menggurui. Saya hanya akan menuliskan apa yang saya rasakan. Saya tidak mengatakan bahwa apa yang saya tulis di sini adalah kebenaran. Sekali lagi, yang saya tulis di sini adalah apa yang saya rasakan.

Saya sendiri merasakan menjadi sumbu yang telah pudar. Saya merasa tidak punya semangat lagi dalam pekerjaan saya. Saya merasa berangkat kerja seperti berangkat sekolah. Yang penting saya masuk, mengerjakan apa yang ditugaskan kepada saya, lalu saya pulang. Saya kehilangan sebagian besar semangat saya untuk mencoba hal-hal baru dan belajar hal-hal baru. Saya juga merasa keberadaan saya tidak berarti di tempat kerja saya. Toh tanpa adanya saya pun, pasti semuanya akan baik-baik saya. Keberadaan saya tidak membawa perbedaan apapun. Apa artinya saya di sini? Perasaan itu terus-menerus melingkupi hati saya pada masa-masa awal saya bekerja.

Namun, apa yang terjadi selanjutnya sungguh membuat saya terharu. Suatu ketika, saya mendapatkan sebuah proyek, proyek kecil, karena hanya membuat beberapa warna sampel. Namun, proyek itu saya kerjakan dengan tekun dan akhirnya proyek itu berbuah menjadi sebuah order, yang pada akhirnya membeirkan omzet untuk unit saya yang kala itu sedang dilanda krisis. Saya mulai merasa bangga, sekaipun saya sadar masih banyak kekurangan dan kesalahan yang saya lakukan. Hal yang membuat saya terkejut sesungguhnya bukanlah keberhasilan proyek kecil saya menjadi sebuah order, melainkan kata-kata dari teman sekantor saya. Beliau berkata, “Nanti seandainya saya pensiun, saya ingin Anda yang menggantikan saya di posisi ini, saya percaya Anda bisa,”

Ketika mendengar kata-kata itu hati saya sangat bergejolak. Di satu sisi saya merasa bangga, tapi di sisi lain saya juga takut akan tanggung jawab yang begitu besar jika saya harus menggantikan Beliau. Namun, lebih daripada itu, saya berpikir, siapakah saya? Saya hanya seorang sarjana yang baru saja lulus, belum lama bekerja, mengapa saya bisa mendengar kata-kata itu? saat merenungkan kembali peristiwa itu, saya baru mengerti arti dari kalimat lagu di atas.

“Sumbu yang t’lah pudar takkan dipadamkanNya, Dia ‘kan jadikan terang untuk kemuliaanNya” Ya, kita semua yang merasa seperti hampir kehilangan harapan, kita semua yang merasa tidak berarti, merasa seperti sumbu yang nyaris kehilangan nyalanya, ada satu hal yang harus kita ingat: Jangan hilang harapan! Sekecil apapun nyala api itu, pertahankan, jangan sampai padam! Jika nyala itu padam, akan sulit untuk menghidupkannya lagi, tetapi jika ada sedikit saja nyala di sumbu itu, dengan pertolonganNya, nyala itu akan mampu berubah menjadi terang yang bercahaya, menerangi sekitarnya.

Apapun hal yang membuat kita tertekan, yang membuat kita merasa putus asa dan merasa hidup kita tidak berarti, percayalah, hal itu tidak lebih besar daripada kuasa Tuhan!

Apapun yang dikatakan orang lain tentang kita, percayalah bahwa hidup kita berharga bagi Allah! Bukankah kita sudah ditebus dengan darah yang mahal? Kita, manusia yang penuh kekurangan ini, ditebus dengan pengorbanan darah Putra Allah sendiri. Bayangkan, Bapa mana yang rela mengorbankan puteranya untuk orang lain—jika orang lain itu tidak dikasihiNya?

Sahabat-sahabat terkasih, sesulit apapun kondisi kita saat ini, seberat apapun jalan hidup yang harus kita lalui, percayalah selalu kepadaNya. Pertahankan, dan selalu berharaplah kepadaNya! Dia tidak pernah mengingkari janjiNya. Dan ketika kita telah lemah seperti buluh yang terkulai, percayalah Ia tidak akan membuang kita. Ia tidak akan mematahkan semangat kita, malahan Ia akan menjadikan kita jauh lebih indah. Ketika kita merasa nyala semangat kita nyaris padam, tetaplah berharap padaNya, karena Ia akan menjadikan kita nyala-nyala terang yang mampu menerangi sekitar kita, sehingga hidup kita dapat menjadi kemuliaan bagi nama Allah.

Di kala hati kita sedih, ingatlah betapa berharganya hidup kita yang telah ditebus dengan darah Sang Anak Domba Allah. Jangan menyia-nyiakan hidup kita yang begitu berharga dengan tidak melakukan apapun. Berusaha, berharaplah, berdoalah, percayalah! Dan…sabarlah menanti berkatNya datang.

“Hidupmu berharga bagi Allah, tiada yang tak berkenan di hadapanNya

Diciptakan kau sturut gambarNya, sungguh terlalu indah kau bagi Dia.

Dia berikan kasihNya bagi kita, Dia t’lah relakan segala-galanya

Dia disalib tuk tebus dosa kita, karna hidupmu sangatlah berharga.

Buluh yang terkulai, takkan dipatahkanNya

Dia ‘kan jadikan indah sungguh lebih berharga

Sumbu yang t’lah pudar takkan dipadamkanNya

Dia ‘kan jadikan terang untuk kemuliaanNya”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s