Membangun dan Menjaga Relasi

Sahabat-sahabat terkasih, pada kesempatan ini saya ingin berbagi pengalaman mengenai hubungan/relasi. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa pada awal masa sekolah, saya nyaris tidak memiliki teman. Saya memang termasuk anak yang pendiam dan tertutup, bahkan hingga saat ini pun saya masih termasuk pendiam dan tertutup. Pada awal masa sekolah, saya sungguh sangat kurang bersosialisasi. Saya datang ke sekolah, belajar, lalu pulang. Saya jarang bermain dan bergaul dengan teman-teman. Hal itu terus berlanjut hingga saya memasuki usia 9 tahun. Saat itulah mungkin Tuhan mulai ‘memoles’ saya. Tuhan memberikan teman-teman kepada saya, bukan lewat permainan atau hobi, namun lewat prestasi akademik. Bukan maksud saya untuk menyombongkan diri, tetapi saya merasa bahwa teman-teman mulai memperhatikan saya ketika prestasi akademik saya cukup menonjol di kelas. Bahkan akhirnya, saya memiliki beberapa sahabat dan tidak lagi menjadi ‘seorang diri’ di sekolah. Ketika SMP, saya mulai memiliki sahabat yang lebih akrab. Saya pun sering menjadi tempat curhat teman-teman dan sahabat-sahabat saya.
Sebenarnya saya merasa bahwa saya tidak berbuat banyak. Seringkali saya tidak bisa memberikan solusi untuk persoalan yang dihadapi teman-teman saya, tetapi mereka tidak pernah bosan menceritakan isi hatinya untuk saya.
Ketika saya beranjak dewasa, saya mulai menekuni hobi yang hingga saat ini masih saya lakukan, yaitu membaca buku-buku psikologi. Dari situ saya mendapat banyak masukan, terutama masukan untuk mengembangkan diri dan hidup dengan harmonis. Dari salah satu buku yang pernah saya baca, dikatakan bahwa: Hal terbaik yang bisa Anda lakukan ketika sahabat Anda menceritakan masalahnya kepada Anda adalah mendengarkannya dengan sepenuh hati.
Tidak perlu banyak berkomentar, tidak perlu banyak memberi nasihat. Dengarkan dengan baik, maka hal itu akan menjadi sangat berarti untuk sahabat Anda. Saat itu saya mulai mengerti, mengapa banyak teman yang senang bercerita kepada saya. Mungkin hal itu karena saya selalu mendengarkan cerita mereka dengan sungguh-sungguh. Sekalipun mungkin saya tidak terlalu memahami cerita mereka, saya tetap mendengarkan. Dan seiring dengan berjalannya waktu, saya pun menyadari kebahagiaan yang diperoleh ketika cerita kita didengarkan dengan sungguh-sungguh oleh orang lain. Kita merasa diperhatikan, kita merasa berarti. Bayangkan jika saat kita bercerita dengan sungguh-sungguh, orang yang mendengar cerita kita malah sibuk berkutat dengan handphonenya. Pasti hal itu sangat tidak menyenangkan, dan itu akan membuat kita malas untuk bercerita kepada orang itu.
Di dunia ini memang tidak banyak orang yang bisa menjadi pendengar yang baik, bahkan lebih sulit lagi jika Anda ingin mencari orang yang mau meluangkan waktunya hanya untuk mendengar cerita Anda. Namun, ketika Anda menemukannya, peliharalah hubungan yang baik dengan orang itu—selain karena ia akan tahu rahasia Anda—mereka adalah satu dari beberapa pendengar yang baik.
Namun, perlu saya ingatkan bahwa kita tidak perlu juga menyerahkan seluruh waktu kita hanya untuk mendengarkan curhat orang lain. Kita hanya punya 24 jam sehari, dan kita harus mempergunakan waktu itu dengan sebaik-baiknya. Jadi, pandai-pandailah mengatur waktu itu, agar kehidupan kita seimbang, artinya kita dapat berkembang, dan juga dapat berguna bagi orang lain.
Lalu bagaimana menjalin relasi yang baik dengan orang lain? Sebenarnya kuncinya hanya satu: membuka hati. Ya, membangun relasi yang baik diawali dengan kesediaan kita untuk membuka hati terhadap orang lain. Artinya, kita mau menerima orang itu dan mau berbagi pengalaman dengan orang lain. Relasi yang dibangun tanpa ada kesediaan untuk saling membuka hati tidak akan bertahan menjadi relasi yang baik. Yang kedua, tidak perlu takut membangun relasi dengan orang lain. Saya beberapa kali ditegur oleh sahabat-sahabat saya yang merasa saya membangun relasi dengan orang yang salah. Namun, saya selalu berpendapat bahwa penilaian seseorang terhadap yang lain tidak mungkin sama. Saya pun memiliki penilaian sendiri terhadap seseorang. Memang, penilaian dari orang lain akan menjadi referensi bagi saya juga, tetapi pada akhirnya, yang memutuskan adalah diri saya sendiri. Dengan siapa saya berteman pun adalah hak saya. Hingga saat ini, ada beberapa teman yang mulai bisa menerima pemikiran saya itu, meski mungkin beberapa masih belum bisa menerima.
Salah satu hal unik yang pernah terjadi waktu saya sekolah, saya bersahabat dengan dua orang teman, dan tanpa sepengetahuan saya, rupanya dua orang ini sebenarnya tidak cocok satu sama lain. Namun, ketika menghabiskan waktu bersama saya, mereka tampak baik-baik saja. Mungkin mereka ingin menjaga perasaan satu sama lain dan merasa sungkan dengan saya, tetapi saya merasa itu adalah sebuah langkah awal untuk memperbaiki hubungan. Mungkin orang yang selama ini hanya kita kenal 5%nya saja sudah kita anggap atau kita beri cap yang kurang baik, padahal jika kita mengenal 95% sisanya, mungkin kita baru akan mengetahui bahwa ternyata orang itu baik. Percayalah, tidak ada hubungan yang akan sia-sia jika kita membangunnya. Meskipun mungkin akan ada banyak masalah dan persoalan yang terjadi, hingga akhirnya mungkin kita akan memutuskan hubungan itu, tapi tetaplah percaya bahwa dalam proses menjalani relasi itu, kita juga telah mendapat banyak pengalaman dan pelajaran untuk kita, terutama dalam hal membangun relasi. Kesalahan yang pernah kita lakukan pada relasi kita sebelumnya, jangan sampai kembali terulang di relasi kita yang lain.
Sejauh ini, saya tidak pernah menyesal membangun relasi, terutama dengan orang-orang yang menjadi sahabat-sahabat saya. Meski dalam relasi tidak ada yang abadi, dan mungkin relasi kita dengan seserong hanya akan berlangsung untuk waktu yang singkat, semua itu tetaplah berarti. Baik atau buruk, semuanya itu akan memperkaya pengalaman kita dalam membangun relasi dengan orang lain.
Sahabat-sahabat terkasih, semoga kita pun tidak takut untuk membangun relasi dengan orang lain, sekalipun orang itu tersingkir dan dikucilkan dalam masyarakat. Justru dengan membangun relasi dengan orang-orang yang tersingkir itu, kita akan mampu menunjukkan identitas diri kita sebagai anak-anak Terang dan sebagai pembawa damai bagi orang-orang di sekitar kita.
Semoga Tuhan selalu menganugerahkan hati yang terbuka dan kemauan yang kuat bagi kita untuk membangun relasi yang baik dengan orang lain. Dan semoga setiap relasi yang kita bangun, akan dapat mengembangkan diri kita, bermanfaat bagi orang lain, dan akan semakin memuliakan nama Allah.

Advertisements
Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s