Green Grass

Kita sering mendengar orang berkata, “Rumput tetangga lebih hijau”.
Mungkin kita sering merasa bahwa kehidupan orang lain lebih baik daripada kita. Ya, wajar saja sih kita merasa begitu. Sudah rahasia umum bahwa orang lebih mudah melihat keburukan daripada kebaikan, termasuk kebaikan dan kekurangan yang ada dalam dirinya sendiri.
Berkaca dari pengalaman saya sendiri, saya sering merasa dan berpikir bahwa kehidupan orang lain jauh lebih baik daripada saya. Banyak teman saya hidup dalam kemewahan, serbakecukupan, keluarganya bahagia, kedua orang tuanya rukun, bahkan mereka diberkahi dengan talenta yang tidak saya miliki. Misalnya kemampuan bermain alat musik atau olah raga. Saya sering merasa Tuhan ini tidak adil pada saya. Kalau boleh memilih, mungkin saya akan memilih menjadi seperti teman saya yang hidupnya serba kerkecukupan, punya banyak bakat, lagi!
Namun, saya kembali ditegur melalui ingatan saya akan tulisan saya sendiri beberapa tahun yang lalu, yaitu refleksi pribadi saya tentang perbedaan bakat yang dimiliki seorang dengan yang lain. Waktu itu saya menulis bahwa semua orang diberkahi dengan bakat, meskipun porsinya tidak sama. Bukan berarti Tuhan tidak adil, Tuhan memberikan bakat tertentu dengan porsi yang berbeda. Misalnya saya yang tidak bisa olah raga, diberi kemampuan lebih di bidang akdemik. Demikian juga mungkin ada teman saya yang kurang baik di bidang akdemik, tetapi bisa melakukan olah raga yang tidak bisa saya lakukan. Namun, bukan berarti saya tidak bisa olah raga sama sekali, demikian juga teman saya bukannya tidak punya kemampuan di bidan akademi. Kita semua punya kemampuan dan bakat, tetapi tidak semua dari bakat itu dapat kita kuasai. Justru itulah sisi kemanusiaan kita: sisi dimana kita tidak sempurna dan oleh karena itu kita berserah kepada Tuhan agar kelak kita dapat mencapai kesempurnaan sepertiNya.
Saya jadi berpikir kembali, mungkin jika saya menjalani kehidupan yang dialami teman saya tadi, saya tidak akan merasa nyaman. Saya seharusnya sudah cukup bersyukur dengan bakat dan kemampuan yang telah dikaruniakan Tuhan kepada saya. Keluarga yang menyayangi saya, hidup yang tidak pernah kekurangan meskipun tidak mewah, dan banyak hal lain yang sebenarnya pantas saya syukuri, bukan untuk saya bandingkan dengan kehidupan orang lain. Sekali lagi, setiap orang memiliki kehidupannya masing-masing.
Oleh karena itu, mulai sekarang janganlah hanya memandang rumput tetangga yang lebih hijau. Kalaupun benar rumput tetangga memang lebih hijau daripada rumput kita, biarkanlah selama bunga di halaman kita tetap tumbuh dan berkembang. Janganlah iri dengan suburnya rumput tetangga sampai-sampai kita lupa merawat tanaman yang ada di halaman kita sendiri. Artinya, janganlah kita iri terhadap kesuksesan dan kehidupan orang lain, tetapi jaga dan kembangkanlah talenta yang kita miliki: talenta yang telah diberikan Tuhan kepada kita sehingga talenta itu berkembang dan menjadi kebahagiaan bagi kita. Karena satu saat kita akan sadar bahwa bunga yang berkembang setelah kita tanam dan kita rawat akan jauh lebih indah daripada rumput tetangga. Let’s praise God for His gifts for us! GBU!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s