Hati-hati Menggunakan Plastik untuk Kemasan Makanan

Oleh : Richardus Widodo
Dosen Teknologi Pangan – Fakultas Industri Pangan UNTAG Surabaya

Penggunaan bungkus atau kemasan plastik di masyarakat semakin meningkat. Kemasan plastik dianggap murah dan praktis untuk pembungkus, termasuk pembungkus makanan. Alasan lain menggunakan plastik untuk pembungkus makanan karena pembungkus non-plastik seperti kertas pengemas maupun daun dianggap sulit diperoleh dan mudah rusak dibanding kemasan plastik. Sekarang roti, biskuit, mi instan, juga air mineral menggunakan plastik sebagai pembungkus. Tidak hanya produk pabrikan, dalam kehidupan sehari-hari pedagang makanan juga cenderung menggunakan plastik untuk membungkus makanan. Perhatikan saja kalau kita beli jajanan gorengan maka penjual langsung memasukkan jajanan yang masih panas itu ke pembungkus plastik yang lebih kita kenal sebagai “tas kresek”. Juga kalau kita beli makanan berkuah seperti bakso atau soto, penjual memasukkan kuah panasnya langsung ke bungkus plastik.

Di negara-negara maju justru dihindari

Tahukah anda bahwa di Amerika dan Eropa penggunaan plastik untuk pembungkus makanan diupayakan untuk dihindari? Alasannya ada dua, pertama dari berbagai penelitian di luar negeri disebutkan, sejumlah bahan plastik bersifat racun (toksik). Polystirena (PS) misalnya, diketahui bersifat karsinogenik yang bisa memicu timbulnya kanker. Demikian juga bahan lainnya seperti poly-vinyl-chlorida (PVC) dan vinylidene chloride resin mengandung dioksin, suatu zat yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Bahan-bahan seperti itu pada kemasan makanan mudah bermigrasi atau berpindah ke makanan, yang jika dikonsumsi akhirnya juga akan masuk pada jaringan tubuh. Faktor yang menyebabkan mudah bermigrasinya bahan tersebut adalah lemahnya ikatan struktur plastik, yaitu residu (sisa) monomer plastik. Migrasi sisa monomer plastik makin besar jika makanan yang dibungkus mengandung kadar asam tinggi, seperti sari buah, sirup, minuman berkarbonasi, makanan bersuhu tinggi, seperti kuah bakso, jajanan gorengan, juga makanan berkadar lemak tinggi, seperti kuah soto dan sebagainya. Perpindahan bahan tersebut ke dalam makanan juga dipengaruhi lamanya kontak makanan dengan plastik, makin lama kontak residu juga makin banyak.

Alasan kedua, penggunaan plastik yang begitu luas dapat menjadi masalah lingkungan yang sangat kompleks. Sampah plastik tidak mudah terurai dibandingkan dengan sampah organik. Di Indonesia dan negara-negara berkembang plastik bekas pakai mendominasi sampah. Hal ini dapat kita lihat di kota-kota besar, termasuk Surabaya. Membakar sampah plastik juga bukan penyelesaian yang baik karena residu dan asap plastik sangat beracun.

Di Eropa dan Amerika kemasan untuk belanja lebih populer menggunakan kertas atau karton (disini seperti kertas semen) yang dibentuk seperti tas. Jika terpaksa menggunakan plastik harus dilapisi dengan pembungkus jenis lain seperti kertas atau aluminium foil, jadi kemasan plastik tidak kontak langsung dengan makanan.

Ada yang berbahaya ada yang tidak

Memang tidak semua jenis plastik tidak dapat digunakan sebagai pembungkus makanan. Kemasan plastik dari bahan polyethylene (PE) dan polypropilene (PP) diketahui tidak berbahaya. Plastik PE umumnya berwarna bening baik yang lemas atau kaku seperti kemasan air mineral (gelas dan botol).

Sedangkan yang berbahaya adalah plastik PS dan PVC. PS yang berbentuk styrofoam (gabus putih seperti untuk pembungkus peralatan elektronik) sekarang banyak digunakan untuk pembungkus produk fast food. Bahkan pengusaha katering menggunakannya sebagai pengganti dus / kotak. Plastik yang mengandung PVC adalah plastik yang bening dan kaku, plastik wrapper yang sangat tipis yang biasanya digunakan untuk mengemas sayur dan buah. Sebuah penelitian menghasilkan data bahwa sari jeruk dan minyak goreng yang dikemas dengan plastik yang terbuat dari PVC dapat mengandung monomer vinyl clorida sampai 40 ppb (part per bilion).

Bagaimana menyikapinya ?

Aturan mengenai kemasan yang aman sebenarnya sudah diatur dalam UU Pangan dan UU Perlindungan Konsumen, hanya peraturan teknisnya rupanya belum seluruhnya dibuat. Untuk itu sebaiknya konsumen sendiri berupaya mencegah keburukan kemasan plastik bagi kesehatannya :

1. Gunakan plastik PE dan PP untuk pembungkus makanan.

2. Hindari penggunaan plastik yang mengandung monomer vinyl chloride, polystirena atau acrylonitryl untuk makanan. Termasuk juga penggunaan kemasan styrofoam yang biasanya berbentuk gelas atau mangkuk, apalagi jika makanan di dalamnya disiram dengan air panas.

3. Pengusaha katering sebaiknya kembali menggunakan kotak karton dan pelapis plastik PE/PP, jangan dibiasakan menggunakan kotak styrofoam, lebih-lebih untuk makanan berkuah dan panas.

4. Jangan menggunakan plastik ketika memanaskan makanan, terutama plastik yang dibuat dari PVC atau PS. Untuk memasak dengan oven microwave gunakan jenis kemasan food grade yang khusus digunakan untuk oven microwave.

5. Hindari membungkus makanan yang masih panas dengan wadah plastik.

6. Hindari membungkus makanan dengan plastik hasil daur ulang (recycle). Hati-hati “tas kresek” umumnya jenis ini.

7. Paling aman gunakan bahan-bahan alami untuk pembungkus makanan, misalnya daun pisang, daun jati, atau janur. Juga daun lontar dan klobot jagung. Selain bahan alami ini aman untuk manusia dan lingkungan juga bisa menjadi pembungkus yang punya ciri khas dan menjadi produk potensial untuk dikembangkan secara ekonomis.
Original source: http://www.untag-sby.ac.id/index.php?mod=berita&id=64

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s