In God We Trust

Seringkali kita merasa hidup ini begitu susah, persoalan demi persoalan datang tak kunjung berhenti. Saat seperti itulah kita begitu stress dan merasa tertekan. Ingin sekali rasanya kita membuang semua persoalan yang kita alami, tetapi kita tidak bisa. Masalah itu seperti beban yang tidak dapat kita lepas, padahal selalu ada kesempatan bagi kita untuk berhenti menopang beban itu seorang diri.
Kisah yang akan saya tulis di bawah ini adalah sebuah kisah nyata. Kisah ini saya tulis sebagai salah satu wujud rasa syukur saya dan sebagai kesaksian akan kemurahan hati Tuhan yang seringkali tidak kita sadari. Dengan membaca kisah ini, saya sangat berharap siapapun yang membacanya akan kembali diingatkan bahwa Tuhan sungguh ada dan Dia begitu baik. Tidak peduli keyakinan atau agama apapun yang kita anut, percayalah senantiasa bahwa Tuhan yang kita yakini dan kita imani itu benar-benar ada dan senantiasa memberikan rencana yang indah dalam hidup kita.
***
Suatu hari di bulan Februari 2009, minggu terakhir liburan saya pada semester itu, saya baru saja pulang setelah memberikan bimbingan belajar di sebuah tempat bimbel dekat rumah saya. Waktu saya pulang, saya melihat ayah saya duduk di depan rumah seperti biasanya. Dari ibu saya, saya tahu bahwa ayah saya akan berangkat ke Jakarta. Ayah saya bekerja sebagai wiraswasta, menyewakan kendaraan untuk mengangkut barang dalam dan luar kota. Karena sifatnya yang keras, ayah saya tidak suka mempercayakan kendaraannya kepada sopir sehingga beliau sendirilah yang setiap hari mengendarai mobil demi mencukupi kebutuhan keluarga kami. Tiba-tiba ayah saya duduk di sofa dan mengeluh badannya capek lalu tiba-tiba bicaranya menjadi cedal dan tangan serta kaki kanannya lemas. Ibu saya sangat panik melihat kondisi ayah saya yang tiba-tiba seperti itu. Kemudian saya dan kakak saya memanggil dokter yang dengan baik hati mau datang ke rumah kami. Dokter mengatakan bahwa ayah saya terkena stroke. Dokter meminta kami segera memanggil ambulance agar ayah saya segera mendapat perawatan. Akhirnya, ayah saya diopname di rumah sakit.
Selama menunggu di rumah sakit, kerap terbesit dalam benak saya, bagaimana jadinya kehidupan keluarga kami karena ayah adalah tulang punggung keluarga. Belum lagi biaya rumah sakit yang pasti tidak sedikit. Namun, ada ketenangan yang menyelimuti hati saya setiap kekhawatiran itu muncul. Ibu saya berkata kepada saya, “Untung saja kejadian ini sebelum ayah berangkat ke Jakarta,” Sebuah kalimat yang kemudian membuat saya sadar, betapa baiknya Tuhan. Bayangkan bagaimana jika kejadian ini terjadi ketika ayah di tengah perjalanan, siapa yang akan menolong? Bahkan mungkin keadannya akan bisa jauh lebih parah daripada sekarang. Namun, ini baru satu kebaikan yang saya sadari hari itu. Beberapa hari sebelum kejadian itu, tante saya yang baru saja menjual rumahnya menitipkan uang muka penjualan rumahnya kepada ayah saya. Ketika mengetahui kondisi ayah saya, tante saya mempersilakan menggunakan uang tersebut untuk biaya pengobatan dan rumah sakit. Saya kemudian berpikir, bagaimana seandainya tidak ada uang itu, dan bagaimana seandainya saya tidak mempunyai seorang tante yang murah hati? Saat itu saya berpikir, benar-benar Tuhan sudah merencanakan segalanya dan mempersiapkan segala sesuatu sesuai dengan rencanaNya.
Setelah keluar dari rumah sakit, ayah saya menjadi lebih sering berdoa dan ingin dibaptis. Sebelumnya, ayah saya mungkin termasuk orang yang workaholic dan cenderung mengesampingkan urusan iman. Beliau dulunya adalah seorang simpatisan katolik. Pencapaian terbesar dalam hal iman yang dialami ayah saya setelah ia sakit adalah ia akhirnya dibaptis. Sungguh, jika bukan karena rencana dan rahmat Tuhan, mungkin sampai sekarang ayah saya tidak akan mendapat keselamatan.
Satu lagi kekhawatiran saya yang telah dijawab pula oleh Tuhan adalah masalah ekonomi dalam keluarga kami. Setelah ayah saya sakit, mau tidak mau ayah mempercayakan mobilnya dikendarai sopir. Namun yang luar biasa adalah setelah ayah sakit, usahanya tidak mengalami kemunduran, bahkan lebih baik daripada sebelumya. Seperti yang dikatakan oleh seseorang kepada saya, “Kamu tidak usah khawatir akan apapun, Tuhan sudah mengatur dan akan memberikan yang terbaik,”
Sekali lagi, yang saya ceritakan ini bukan untuk mempromosikan agama/kepercayaan tertentu, tetapi saya hanya ingin berbagi rasa syukur. Saya ingin semua orang yang sedang mengalami kesusahan dan kekhawatiran, pada saat mereka membaca cerita ini, mereka menemukan kekuatan baru dan kepercayaan bahwa Tuhan selalu menyertai kita, Tuhan selalu melihat apa yang kita alami dan lebih dari itu, Tuhan selalu memberikan rencana yang indah bagi kita. Mungkin kita tidak bisa melihat keindahan rencana itu sekarang, tetapi bersabarlah dan jalani hidup dengan selalu setia dan tidak berhenti berdoa, pasti pada saatnya nanti kita akan melihat betapa indah rencana yang disusunNya bagi kita.
Jadi, jika saat ini Anda yang membaca kisah ini masih merasa takut, cemas, khawatir, sedih, bingung, dan tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat, sejenak hening dan berdoalah. Serahkan semua yang menjadi beban hidup Anda kepadaNya, karena Dia tidak akan pernah membiarkan kita menjalani beban hidup kita sendirian. Percayalah, apapun masalah yang kita hadapi akan selalu mendapat jalan keluar. Dan masalah-masalah itu kelak akan berbuah menjadi anugerah yang tak terkira nilainya.
***

Advertisements

One thought on “In God We Trust

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s