PENGENALAN PLTN DARI BATAN, YOGYAKARTA

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 18 Maret 2009, saya bersama teman-teman dari Teknik Kimia Universitas Diponegoro Semarang melakukan kunjungan industri ke BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) di Yogyakarta. Kami diterima dengan ramah oleh staf BATAN dan mendapatkan penjelasan tentang teknologi nuklir, termasuk proses pemanfaatan Uranium-235 hingga menjadi energi nuklir.
Sebelumnya, saya membayangkan reactor nuklir berupa reactor yang sangat tinggi terletak di atas tanah, tetapi yang saya perkirakan itu ternyata keliru. Reactor nuklir itu tidak terletak di atas tanah, malah kami harus melongok ke bawah untuk melihat tube-tube untuk reaksi nuklir. Reactor nuklir itu terendam di air sedalam kurang lebih 6 m.

reaktornuklir1

Core of CROCUS, suatu reaktor nuklir kecil untuk penelitian di EPFL, Swiss. (gambar diambil dari http://wapedia.mobi/id/Reaksi_kimia )

Air tersebut berfungsi sebagai moderator yaitu sebagai medium yang dapat memperlambat neutron karena neutron akan kehilangan sebagian energinya selama menumbuk atom-atom hidrogen dari air. Selain itu airjuga berfungsi sebagai pendingin reaktor.
Seorang staf yang menjelaskan tentang prinsip kerja reaktor nuklir mengatakan bahwa beliau sudah bertahun-tahun bekerja di BATAN dan beliau mengaku tidak ada kelainan akibat radiasi seperti yang ditakutan banyak orang. Beliau menyampaikan bahwa kondisi kesehatan setiap karyawan sangat diperhatikan. Kami bahkan melihat laboratorium untuk mengecek kondisi dan fungsi ginjal di BATAN Yogyakarta.

Penanganan Limbah Radioaktif
Penanganan limbah radioaktif umumnya mengikuti prinsip:
1.memperkecil volumenya dengan cara evaporasi, insenerasi, kompaksi
2.mengolah menjadi bentuk stabil untuk untuk memudahkandalam transportasi dan penyimpanan
3.menyimpan limbah yang telah diolah di tempat yang terisolasi
Gas radioaktif yang dapat keluar dari sistem reaktor tetap terkungkung dalam sistem pengungkung PLTN dan sudah melalui sistem ventilasi dengan filter yang berlapis-lapis. Gas yang dilepas melalui cerobong aktivitasnya sangat kecil (sekitar 2 milicurie/tahun).
Pegolahan limbah cair dengan evaporasi lalu dipadatkan dengan semen atau gelas masif dalam wadah kedap air, tahan banting. Pengolahan limbah padat dengan pembakaran untuk memperkecil volume, selanjutnya disementasi. Limbah yang tidak dapat dibakar ditekan dan dipadatkan dalam drum dengan semen.
Limbah radioaktif yang telah diolah disimpan secara sementara (10-50 tahun) di gudang penyimpanan limbah yang kedap air sebelum disimpan secara lestari. Tempat penyimpanan limbah dipilih di lokasi khusus dengan kondisi geologi yang stabil dan secara ekonomi tidak bermanfaat. (“Pengenalan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir”,Pusat Pemasyarakatan IPTEK Nuklir dan Kerja Sama Badan Tenaga Nuklir Nasional)

BATAN Yogyakarta masih merupakan lembaga penelitian sehingga skalanya kecil. Kekhawatiran masyarakat akan bahaya radiasi nuklir memang sangat wajar, tetapi dengan mempertimbangkan sumber energi minyak yang semakin menipis dan sisi positif dari energi nuklir, energi nuklir dapat menjadi salah satu sumber energi alternatif. Satu hal yang masih menjadi kekhawatiran adalah Sumber Daya Manusia. Apakah SDM di Indonesia sanggup menjalankan PLTN dengan baik sehingga kekhawatiran masyarakat akan bahaya bocor/ledakan reaktor nuklir dapat diatasi? Inilah tantangan bagi kita semua, baik sebagai masyarakat terdidik yang berkaitan dengan bidang teknik kimia maupun masyarakat yang masih awam dengan teknologi nuklir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s