Sloppy Girl

Sloppy Girl

Riska!!!” suara teriakan mama terdengar begitu keras sampai ke dalam kamarku. Dengan malas aku membuka pintu kamar. Terlihat mama sudah berdiri tepat di depan pintu sambil berkacak pinggang.

Ada apa sih, Ma?” tanyaku sambil mengusap mata.

Kamu masih juga tanya ‘ada apa’?! Kamu tahu di mana baju baru yang mama beli kemarin sore?” tanya mama. Aku mengernyutkan dahi. Sejenak aku berusaha mengingat, tapi rasanya otakku sudah sangat malas untuk berpikir.

Nggak tahu, memangnya kenapa, Ma?” tanyaku lagi. Mama tampak geram mendengar jawabanku. “Jadi kamu benar-benar lupa?” tanya mama untuk kesekian kalinya. Aku mengangguk.

Tiba-tiba mama menyodorkan sesuatu kepadaku. Oh, rupanya sebuah gaun. Tampaknya masih bagus, tapi ketika aku melihat keseluruhan gaun itu, ada lubang besar di bagian punggungnya. Aku tertawa melihat gaun itu.

Idih…mama norak banget sih, masa’ gaun kaya’ sundel bolong gini masih disimpan…” kataku sambil tertawa geli. Mama bukannya ikut tertawa, melainkan memandangku dengan mata melotot.

Riska, kamu nggak ingat kalau kemarin sore Mama minta kamu menyetrika gaun ini?” tanya mama lagi. Tiba-tiba aku ingat bahwa kemarin mama memang memintaku menyetrika gaun baru itu. Pantas saja rasanya aku sudah tidak asing dengan gaun itu.

Eh…iya ya? Aduh, sori banget, Ma…aku benar-benar lupa. Soalnya kemarin waktu aku menyetrika, tiba-tiba Anas telpon…lalu aku lupa kalau tadinya sedang menyetrika…”

Mama hanya geleng-geleng kepala mendengar jawabanku.

Riska, kalau Cuma untuk gaun itu sih Mama nggak akan semarah ini, tapi kamu lupa mematikan setrika itu sampai kemarin malam. Untung saja papa yang baru pulang dari luar kota segera mematikannya saat kamu sudah tidur!” kata mama lagi. Aku hanya bisa mendengar dan menerima semua perkataan Mama dengan kepala tertunduk. “Maaf, Ma…” ucapku lirih. “Ya sudahlah, lain kali hati-hati ya!” pesan Mama. Aku pun mengangguk pelan.

Hah…lagi-lagi kejadian seperti ini terjadi. Ya, ini bukan pertama kalinya aku melakukan perbuatan-perbuatan bodoh seperti membiarkan setrika menyala sampai malam atau lupa mematikan kran bak mandi sampai kamar mandi banjir. Seisi rumah ini sudah tahu akan sifatku yang terlalu ceroboh itu, bahkan mereka juga sering meledekku, terutama kakak laki-lakiku, Kak Aldi.

Hei, sloppy! Lagi-lagi kamu bikin masalah ya?” kata kakakku yang tiba-tiba muncul dari kamar sebelah. Aku tidak menggubris perkataannya dan segera kembali naik ke atas tempat tidur. Kesal karena sindirannya tidak kugubris, kakakku mengikutiku dan menggelitikku. Aku pun tertawa keras sekali. “Kak, sudah dong!” teriakku. Akhirnya kakakku berhenti dan aku menggunakan kesempatan itu untuk mengusirnya keluar dari kamarku.

Galak amat, sih! Kalau kamu begitu terus, kamu nggak akan dapat pacar lho!” kata kakakku sesaat sebelum aku menutup pintu kamar. Pacar? Siapa yang butuh pacar? Begitu gumamku dalam hati.

Hari ini hari Minggu, hari dimana aku biasa menghabiskan waktu di rumah untuk istirahat…ya, hampir setengah hari kuhabiskan untuk tidur siang. Aku tidak tahu sejak kapan kebiasaan ini muncul, tetapi setiap hari Minggu aku selalu menyempatkan diri untuk tidur siang. Kalau aku tidak melakukannya, hari-hari berikutnya aku pasti diserang rasa ngantuk setiap siang.

Riska, nanti tolong matikan kran bak mandi kalau airnya sudah penuh, ya.” Pesan mama. “Ris, jangan lupa lantai ruang tamu dipel, ya!” pesan Papa. “Ris, jangan lupa telpon Pak Warsito, minta lampu di ruang tengah diganti. Kamu juga hati-hati kalau lewat ruang tengah, soalnya lampu itu kayaknya sudah hampir jatuh deh,” pesan Kak Aldi. Aku hanya mengiyakan semua pesan mereka. Yah…hari ini aku harus menjaga rumah karena kedua orang tuaku harus menghadiri pesta pernikahan salah seorang saudara kami dan Kak Aldi bertugas mengantar kedua orang tuaku ke pesta itu. Bagaimana dengan aku? Aku sih nggak begitu suka berkumpul di pesta-pesta semacam itu. Jadi, dengan sukarela aku menawarkan diri untuk menjaga rumah. Awalnya mama merasa khawatir juga meninggalkanku sendirian di rumah, tetapi setelah aku mengatakan bahwa temanku akan datang untuk belajar bersama, mama pun setuju.

Sambil menunggu kedatangan temanku, aku berniat menyelesaikan tugas-tugas yang dipesankan oleh papa, mama, dan Kak Aldi kepadaku. Pertama, aku mengambil kain pel lengkap dengan ember dan pembersih lantai. Aku mengisi ember itu dengan air dari bak mandi sambil memastikan apakah air di bak sudah penuh atau belum. Setelah menuangkan pembersih lantai ruang tamu, aku bersiap-siap untuk mengepel. Tiba-tiba terdengar dering telepon dari ruang tengah. Aku pun bergegas mengangkatnya. Rupanya telepon dari temanku, Anas.

Halo, ada apa, Nas?” tanyaku. “Ris, sori banget aku hari ini nggak bisa ke rumahmu, soalnya tiba-tiba mamaku minta diantar ke rumah tanteku,” kata Anas. Aku sedikit kecewa mendengar kabar itu, tapi mau bagaimana lagi. “Oh ya sudah nggak apa-apa, lain kali aja kamu ke sini,” kataku.

Aku menghela napas lalu menghempaskan diri ke sofa. Yah…aku bakal sendirian deh sampai sore…. Tiba-tiba aku baru ingat harus menelepon Pak Warsito, petugas yang akan memperbaiki lampu di ruang tengah. Memang lampu di ruang tengah itu sudah sangat berbahaya. Aku saja selalu menepi ketika harus melewati ruang tengah. Maklum, lampu itu sudah ada sejak keluarga kami belum menempati rumah ini. Modelnya saja model lampu kuno yang digantung di tengah langit-langit. Dengan sigap aku segera menelpon Pak Warsito dan hendak memintanya untuk segera memperbaiki lampu rumah kami, tetapi tiba-tiba terbesit di pikiranku beberapa pemikiran aneh. Aku, cewek, seorang diri di rumah ini, dan aku malah mau memanggil seorang tukang ke rumah? Kalau Pak Warsito benar-benar datang, berarti aku Cuma berduaan dengan Pak Warsito di rumah ini dong?? Nggak, nggak, aku nggak mau. Akhirnya kubatalkan niatku menelpon Pak Warsito. Biarlah selama beberapa saat lampu itu tetap seperti itu. Nanti kalau Kak Aldi pulang, baru aku akan menelpon Pak Warsito.

Akhirnya jam dinding menunjukkan pukul dua belas siang. Ah…waktu yang nyaman sekali untuk tidur. Setelah memastikan pintu rumah terkunci, aku segera naik ke kamarku di lantai dua dan memulai tidur siangku yang sangat panjang.

Beberapa jam pun berlalu. Aku masih terlelap dengan nyenyak sampai tiba-tiba teriakan mama lagi-lagi memaksaku untuk bangun dari tempat tidur.

Riska!!!” teriak mama. Kali ini teriakannya sangat keras. Bahkan aku yakin tetangga di seberang rumah kami pun dapat mendengar teriakan mama.

Ada apa, sih, Ma? Kayak orang mau dirampok aja,” tanyaku sambil berjalan turun ke ruang tengah. Begitu aku menginjakkan kaki di ruang tengah, aku terperangah. Sama seperti wajah papa, mama, dan Kak Aldi, aku pun melongo melihat apa yang ada di ruang tengah rumah kami.

Entah bagaimana ceritanya, seorang lelaki berpakaian hitam-hitam tampak terbaring di lantai ruang tengah yang sudah tergenang air dan lampu ruang tengah kami tampak berada tepat di atas kepala lelaki itu. Lelaki itu tidak sadarkan diri. Tidak jauh dari tubuh lelaki itu, tampak sebuah kantong besar yang ternyata berisi beberapa barang elektronik, perhiasan, dan sejumlah uang.

Astaga!” kata papa. “Ini pasti pencuri yang sejak kemarin dicari-cari oleh hansip di lingkungan kita!” kata papa lagi.

Pencuri?” tanya mama, aku, dan Kak Aldi secara serentak.

Ya, tadi pagi Papa diberitahu bahwa kemarin malam rumah Pak Karyo, tetangga kita, dimasuki pencuri berpakaian serba hitam dan pencuri itu berhasil kabur,” jawab papa.

Pa, sebaiknya kita cepat lapor polisi deh!” kata mama yang sejak tadi menggenggam tangan papa erat-erat.

Ya, Papa akan segera telpon,” Kemudian dengan sigap papa menelpon polisi. Sementara itu, Kak Aldi mengikat tangan dan kaki pencuri itu agar ia tidak bisa kabur. Untungnya, pencuri itu tidak membawa senjata.

Beberapa saat kemudian, Pak RT, beberapa hansip, dan polisi datang ke rumah kami lalu membawa pergi pencuri yang baru setengah sadar itu. Konon saat diinterogasi, pencuri itu mengaku bahwa ia sebenarnya mau mencuri di rumah kami, tetapi ketika berhasil masuk ke ruang tamu, ia terpeleset karena lantainya licin dan kepalanya membentur lantai. Setelah beberapa saat ia pun sadar dan berhasil berdiri. Namun, ketika ia sadar, lantai ruangan telah tergenang air yang berasal dari air bak mandi. Ia tetap berniat mengambil barang-barang berharga di rumah kami, tetapi tiba-tiba salah satu barang curiannya terjatuh dari kantong yang dibawanya. Barang itu terbawa arus air sampai ke ruang tengah. Di sanalah kepalanya tertimpa lampu ruang tengah kami. Setelah itu ia pingsan dan tidak tahu apa yang terjadi.

Setelah semua urusan pencuri itu selesai, Kak Aldi segera menelpon Pak War untuk mengganti lampu ruang tengah. Mama pun memanggil beberapa orang untuk membantu membereskan barang-barang yang terbawa aliran air dari bak mandi.

Hari ini aku tidak berhasil menyelesaikan tugas-tugas yang dipesankan oleh semua anggota keluargaku, tetapi mereka diam saja. Mungkin mereka tidak tahu harus berkomentar apa, sama sepertiku yang tidak tahu harus bangga atau malu karena tugas-tugas yang tidak kuselesaikan hari ini.

Anyway, it’d happened according to God’s will!

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s