<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Makjoel's Blog</title>
	<atom:link href="http://makjoel.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://makjoel.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Nov 2011 05:38:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='makjoel.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Makjoel's Blog</title>
		<link>http://makjoel.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://makjoel.wordpress.com/osd.xml" title="Makjoel&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://makjoel.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>‘Hidup untuk Bekerja’ atau ‘Bekerja untuk Hidup’?</title>
		<link>http://makjoel.wordpress.com/2011/11/10/%e2%80%98hidup-untuk-bekerja%e2%80%99-atau-%e2%80%98bekerja-untuk-hidup%e2%80%99-2/</link>
		<comments>http://makjoel.wordpress.com/2011/11/10/%e2%80%98hidup-untuk-bekerja%e2%80%99-atau-%e2%80%98bekerja-untuk-hidup%e2%80%99-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Nov 2011 05:38:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>makjoel</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://makjoel.wordpress.com/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[‘Hidup untuk Bekerja’ atau ‘Bekerja untuk Hidup’?.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=makjoel.wordpress.com&amp;blog=6950483&amp;post=241&amp;subd=makjoel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://wp.me/pta8z-3Q">‘Hidup untuk Bekerja’ atau ‘Bekerja untuk Hidup’?</a>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/makjoel.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/makjoel.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/makjoel.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/makjoel.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/makjoel.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/makjoel.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/makjoel.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/makjoel.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/makjoel.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/makjoel.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/makjoel.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/makjoel.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/makjoel.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/makjoel.wordpress.com/241/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=makjoel.wordpress.com&amp;blog=6950483&amp;post=241&amp;subd=makjoel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://makjoel.wordpress.com/2011/11/10/%e2%80%98hidup-untuk-bekerja%e2%80%99-atau-%e2%80%98bekerja-untuk-hidup%e2%80%99-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e3e8dd37a469579c7d9915ce9ea4435f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">makjoel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>‘Hidup untuk Bekerja’ atau ‘Bekerja untuk Hidup’?</title>
		<link>http://makjoel.wordpress.com/2011/11/10/%e2%80%98hidup-untuk-bekerja%e2%80%99-atau-%e2%80%98bekerja-untuk-hidup%e2%80%99/</link>
		<comments>http://makjoel.wordpress.com/2011/11/10/%e2%80%98hidup-untuk-bekerja%e2%80%99-atau-%e2%80%98bekerja-untuk-hidup%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Nov 2011 05:36:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>makjoel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://makjoel.wordpress.com/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[Lagi-lagi di sebuah siang hari dengan cuaca berawan. Tiba-tiba saja sesuatu menggerakkan hati saya untuk membuat sebuah tulisan. Beberapa hari yang lalu, saya mulai membaca sebuah buku berjudul The Power of The Mind to Heal karya Joan dan Miroslav Borysenko yang keduanya merupakan pasangan suami-istri dokter dengan gelar Ph.D. Keduanya berkonsentrasi pada sebuah cabang ilmu medis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=makjoel.wordpress.com&amp;blog=6950483&amp;post=238&amp;subd=makjoel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Lagi-lagi di sebuah siang hari dengan cuaca berawan. Tiba-tiba saja sesuatu menggerakkan hati saya untuk membuat sebuah tulisan.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa hari yang lalu, saya mulai membaca sebuah buku berjudul <em>The Power of The Mind to Hea</em>l karya Joan dan Miroslav Borysenko yang keduanya merupakan pasangan suami-istri dokter dengan gelar Ph.D. Keduanya berkonsentrasi pada sebuah cabang ilmu medis yang disebut psikoneuroimunologi. Memang, saya belum selesai membaca buku setebal 331 halaman ini, tetapi sedikit yang sudah saya tangkap adalah bahwa buku ini membahas hubungan antara pikiran dengan kesehatan kita.<br />
Salah satu bagian yang baru saja saya baca dan sangat menarik perhatian saya adalah bagian ini:<br />
<em></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Studi terhadap orang-orang yang berumur panjang (kebalikan dari mereka yang mati muda) menunjukkan bahwa bekerja lebih dari 40 jam seminggu (terutama jika pekerjaan yang anda lakukan kurang berarti bagi anda), mengalami kesepian terus-menerus, dan tidur rata-rata kurang dari delapan jam, erat hubungannya cepat tua dan mati prematur (lebih cepat dari usia/waktu sebenarnya).</em><br />
<em> Penulis buku itu menjelaskan bahwa, pikiran yang negatif dapat mengurangi kekebalan tubuh kita sehingga lebih mudah terserang penyakit. Stress akibat pekerjaan, kesepian, dan kurang istirahat dapat merupakan hal-hal negatif yang sangat jelas, tidak baik dampaknya bagi tubuh kita.</em> <span id="more-238"></span><br />
Sungguh menyedihkan, ketika saya menyampaikan hal ini pada salah seorang sahabat karib saya, dia langsung menyahut, “Wah kalau begitu saya akan mati prematur dong,”<br />
Saya menyadari mengapa sahabat saya itu begitu mudah menyimpulkan demikian. Dia sedang berada di tengah perjalanan meniti kariernya dan begitu banyak tugas pekerjaan dibebankan kepadanya. Tempat kerjanya yang jauh dari kota asalnya mengharuskan ia tinggal di rumah kos di kota tersebut. Kota tersebut adalah kota industri yang tentu saja, tidak dapat dibandingkan dengan kota asalnya atau kota besar lainnya. Dia tidak memiliki teman karib di kota itu. Hampir setiap hari ia pulang melebihi jam pulang kerja seharusnya dan ketika pulang, ia telah lelah. Kehidupannya berjalan seperti itu. Dia sering mengeluhkan bahwa ia merasa jenuh dengan hidup yang seperti itu. Jam kerja yang lebih panjang daripada jam kerja seharusnya dan kesepian yang terus-menerus yang telah dirasakannya selama kurang lebih satu setengah tahun ini membuatnya dengan mudah berkata, “Wah kalau begitu saya akan mati prematur dong,”</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelumnya, saya sempat membaca sebuah buku yang unik karya Fred Gratzon, <em>The Lazy Way to Success</em> yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi <em>Malas tapi Sukses.</em> Dalam bukunya itu, Fred Gratzon mengkritik orang-orang yang selalu menekankan pentingnya kerja keras seolah hidup ini harus kita lalui dengan bekerja keras seumur hidup kita. Ia pun membantah bahwa kesuksesan terbesar akan datang melalui kerja keras. Salah besar! Kesuksesan akan datang melalui kemalasan. Bagaimana bisa? Awalnya saya pun ragu dengan pendapatnya, karena saya merasa termasuk salah seorang pendukung teori ‘sukses berasal dari kerja keras’. Namun, setelah membaca bukunya, saya pun mengerti apa yang dimaksudkan penulis unik ini. Fred mengajak kita untuk bekerja sesuai dengan apa yang ingin kita lakukan. Bekerja bukan lagi sebuah beban, melainkan kebebasan! Bekerjalah di suatu bidang dimana Anda merasa begitu menikmati dan tenggelam dalam pekerjaan itu, sampai-sampai (jika begitu ekstrimnya) Anda akan rela bekerja tanpa dibayar! Jika ada pekerjaan seperti itu, ambillah! Pekerjaan tidak seharusnya mengekang, tetapi pekerjaan seharusnya membebaskan pikiran seseorang sehingga ia bisa menjadi lebih kreatif dan dengan demikian sukses pun akan datang menghampiri.</p>
<p style="text-align:justify;">
Tentu saja hal ini kontras sekali dengan apa yang terjadi dewasa ini. Kita seringkali mendapati (atau bahkan mengalami sendiri) orang yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk bekerja. Alasannya? Tentu saja untuk mendapat penghasilan, untuk sukses, dan lain-lain. Bahkan perusahaan akan senang dengan karyawan yang mau bekerja overtime setiap hari (kalau bisa, tanpa dibayar). Begitu kerasnya persaingan hidup sehingga orang berusaha lebih keras untuk bisa mengimbangi kemajuan zaman. Ketika kita bekerja dan melihat rekan kerja kita tengah bersantai, pasti akan sangat manusiawi dan wajar jika kita berpikir, “Mengapa orang itu tidak bekerja pada jam kerja? Bukankah kita dibayar untuk bekerja??” dan ketika kita telah menyelesaikan suatu pekerjaan, sesaat kita merasa lega karena ‘terbebas’ tapi atasan kita dengan segera memberikan tugas yang baru…dan kita pun kembali harus menghela napas dan menunda waktu untuk bersantai agar bisa segera menyelesaikan pekerjaan itu. Ketika pekerjaan itu selesai, apakah kita bisa bersantai? Ooo tentu tidak! Pekerjaan kita selalu siap dengan tugas-tugas baru untuk kita kerjakan. Lalu ketika akhirnya kita bisa pulang, kita sudah terlalu lelah untuk berinteraksi dengan keluarga kita atau orang lain sehingga kita langsung makan malam lalu tidur. Begitu yang terjadi hampir setiap hari. Ya, hampir setiap hari, karena terkadang di hari libur pun ada telpon mendadak dari kantor yang mengharuskan kita untuk datang ke kantor lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">
Membayangkan rutinitas seperti ini tentu saja bisa membuat kita stress. Namun, apakah kita akan berhenti dari pekerjaan kita sekalipun hal seperti itu yang terjadi? Tidak, kalau kita berhenti begitu saja artinya kita ini lemah! Tentu banyak yang akan berpikir begitu bukan? Namun, berhenti dari sebuah pekerjaan juga bukan hal yang tabu. Mengapa harus bertahan untuk sesuatu yang hanya akan menyakiti diri kita sendiri? Namun, mencari-cari pekerjaan yang nyaman untuk diri kita juga bukan sesuatu yang mudah. Lalu bagaimana?<br />
Ajahn Brahm dalam bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul <em>Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya”</em>mengajak kita untuk mengubah sudut pandang kita terhadap pekerjaan. Jika selama ini kita melihat pekerjaan kita sebagai sebuah beban dan ‘penjara’ yang membuat kebebasan kita terbelenggu, seolah kita begitu kuat terikat dengan pekerjaan kita sehingga kita mengesampingkan hal lain, marilah mencoba mengubahnya. Pekerjaan bukanlah ‘penjara’. Jika kita sering merasa ‘saya tidak ingin bekerja di sini’ ubahlah menjadi ‘saya ingin bekerja di sini’, bukan lagi ‘saya harus bekerja seperti ini’ tapi ‘saya ingin bekerja seperti ini’<br />
Apa intinya? Intinya adalah mengubah cara pandang diri kita terhadap sesuatu. Berusaha bersyukur atas apa yang ada dan kita miliki. Bukan hal mudah memang. Saya sendiri sering merasa tidak puas dengan kehidupan yang saya jalani. Saya sering merasa ingin menggapai banyak hal. Namun, saya pun kadang diingatkan bahwa kebahagiaan tidak muncul dari hal-hal yang saya inginkan itu. Kebahagiaan dan kedamaian akan muncul dari dalam diri kita jika kita memutuskan untuk mensyukuri hidup ini apa adanya. Untuk apa bekerja terlalu keras jika apa yang kita kejar hanyalah materi semata? Coba renungkan cerita di bawah ini. Cerita ini adalah sebuah cerita yang sangat menarik dan menyentuh hati, kutipan dari buku Ajahn Brahm, <em>Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">
<em>Di sebuah desa nelayan Meksiko yang tenteram, seorang Amerika yang sedang berlibur melihat seorang nelayan setempat baru saja pulang dari melaut pada pagi hari. Si Amerika, seorang profesor sukses di sebuah perguruan tinggi bergengsi di AS, tidak tahan untuk tidak memberikan sedikit wejangan gratis kepada si nelayan Meksiko.</em><br />
<em> “Hai!” sapa si Amerika. “Mengapa pagi-pagi sudah pulang dari melaut?”</em><br />
<em> “Karena saya sudah mendapat cukup ikan, Senor,” jawab si Meksiko yang ramah itu, “cukup untuk memberi makan keluarga saya dan sedikit kelebihannya untuk dijual. Sekarang saya akan makan siang bersama istri saya dan, setelah tidur siang sejenak, saya akan bermain-main bersama anak-anak saya. Lalu, setelah makan malam, saya akan pergi ke kedai, meneguk sedikit tequila dan bermain gitar bersama teman-teman saya. Itu cukup untuk saya, Senor.”</em><br />
<em> “Dengarkan saya, kawan,” ujar si profesor bisnis. “Jika kamu tetap melaut sampai larut sore, dengan mudah kamu akan mendapatkan tangkapan dua kali lipat. Kamu dapat menjual kelebihannya, menabung uangnya, dan dalam waktu enam bulan, atau sembilan bulan, kamu akan mampu membeli perahu yang lebih bagus dan lebih besar dan menggaji beberapa awak. Kemudian kamu akan mampu menangkap ikan empat kali lebih banyak. Pikirkanlah berapa banyak tambahanuang yang kamu dapatkan! Dalam satu atau dua tahun, kamu akan punya modal untuk membeli perahu kedua dan menggaji awak-awak lain. Jika kamu mengikuti perencanaan bisnis ini, dalam waktu enam atau tujuh tahun kamu akan bangga menjadi pemilik sebuah armada penangkap ikan yang besar. Coba bayangkan itu! Lalu kamu sebaiknya memindahkan kantor pusatmu ke Mexico City atau bahkan ke L.A.. setelah tiga atau empat tahun di L. A., perusahaanmu bisa go public dan membuatmu sebagai CEO dengan paket penghasilan dan hak pembagian saham yang istimewa. Dalam beberapa tahun—dengarkan ini!—kamu memulai skema pembelian kembali sham-saham, yang akan menjadikanmu seorang mulltijutawan! Saya ini profesor terkenal di sebuah sekolah bisnis di Amerika. Saya tahu soal-soal beginian!”</em><br />
<em> Si nelayan Meksiko itu mendengarkan dengan khusyuk apa yang dikatakan oleh profesor Amerika itu dengan menggebu-gebu. Ketika profesor selesai bicara, si Meksiko bertanya, “Tetapi, Senor Profesor, apa yang bisa saya lakukan dengan berjuta-juta dolar itu?”</em><br />
<em> Yang mengejutkan, si profesor Amerika itu belum memikirkan rencana bisnisnya sejauh itu. Jadi, dengan segera dia mereka-reka apa yang bisa dilakukan jika seseorang dengan jutaan dolarnya.</em><br />
<em> “Amigo! Dengan semua duit itu, kamu bisa pensiun. Yeah! Pensiun seumur hidup. Kamu bisa membeli sebuah vila kecil di sebuah desa nelayan yang indah seperti ini, dan membeli sebuah perahu kecil untuk pergi memancing pada pagi hari. Setiap hari kamu bisa makan siang bersama istrimu, dan tidur siang sejenak setelahnya, tanpa perlu mengkhawatirkan apapun. Pada sore hari kamu dapat melewatkan saat-saat berkualitas bersama anak-anakmu dan, setelah makan malam, bermain gitar bersama teman-temanmu, meneguk tequila. Yeah, dengan semua uang itu, kawan, kamu bisa pensiun dan hidup senang!”</em><br />
<em> “Tetapi, Senor Profesor, kan sekarang ini saya sudah bisa begitu?”</em></p>
<p style="text-align:justify;">
Lalu di akhir cerita itu, Ajahn Brahm menambahkan, “<em>Mengapa kia percaya bahwa kita harus bekerja begitu keras dan menjadi kaya raya terlebih dahulu, barulah kita bisa merasa berkecukupan?</em>”</p>
<p style="text-align:justify;">
Saya tidak mengajak teman-teman untuk bermalas-malasan atau bergonta-ganti pekerjaan mencari pekerjaan yang enak. Saya tegaskan sekali lagi, kalau dengan pemikiran kita ingin mencari pekerjaan yang enak, di zaman sekarang ini saya rasa kemungkinan untuk memperoleh pekerjaan seperti itu hampir tidak ada. Saya ingin mengajak teman-teman untuk melihat kembali, apa sebenarnya yang menjadi prioritas utama dalam hidup Anda. Jika memang teman-teman ingin mengejar kesuksesan dalam karier, maka kejarlah! Tapi ingat, tidak dengan bekerja membabi buta. Kita harus ingat bahwa Tuhan tidak menciptakan kita hanya untuk bekerja. Bahkan Tuhan pun beristirahat setelah menciptakan alam semesta bukan? Karena itu bekerja dan berusaha pun hendaknya diimbangi dengan istirahat yang cukup. Jika memang merasa mampu untuk lembur, lembur pun tak masalah. Yang penting, kita melakukannya dengan penuh syukur. Kita memang ingin melakukannya, bukan harus melakukannya. Dengan mengubah cara pandang kita yang kelihatannya sepele ini, ternyata dampaknya akan sangat besar. Suatu kegiatan yang kita lakukan karena kita ingin akan dapat kita nikmati, sedangkan kegiatan yang hanya kita rasakan sebagai sebuah kewajiban atau keharusan, hanya akan mengekang diri kita dan seolah-olah menjadi penjara buat kita. Jika memang ingin sukses dalam karier, bekerjalah dengan rasa syukur senantiasa!</p>
<p style="text-align:justify;">
Namun, jika prioritas kita adalah kehidupan keluarga, tentu saja kita harus menjadikan keluarga kita sebagai prioritas dalam kehidupan kita. Jangan sampai pekerjaan kita akan membuat kita menelantarkan keluarga. Jangan sampai waktu kita habis hanya untuk mengejar materi, sementara keluarga kita tidak pernah mendapat kasih sayang yang mereka harapkan dari kita.</p>
<p style="text-align:justify;">
Jika Anda seperti saya, yang berpikir bahwa kedua hal itu harus sejalan (karier dan keluarga) maka carilah pekerjaan yang memungkinkan untuk itu dan berusahalah membagi waktu sebijaksana mungkin. Tidak selalu urusan pekerjaan harus diutamakan dan tidak selalu urusan keluarga yang harus dimenangkan. Setiap masalah dapat kita buat prioritasnya dan kita berikan perhatian lebih banyak pada prioritas kita. Memang, mencari pekerjaan yang sesuai, seperti yang sudah dua kali saya sebutkan di atas, adalah hal yang sulit. Maka, prinsip mensyukuri pekerjaan juga harus selalu kita terapkan. Jika ada pekerjaan yang menawarkan gaji tinggi dan fasilitas lengkap tapi mengharuskan kita untuk lembur setiap hari dan hampir tidak ada libur, mengapa kita tidak memilih pekerjaan lain yang menawarkan gaji—yang meskipun tidak tinggi, tetapi masih wajar dan cukup baik—tapi kita bisa memberi waktu dan perhatian yang cukup untuk keluarga kita?</p>
<p style="text-align:justify;">
Teman-teman, marilah mencoba menggali apa yang sebenarnya paling penting bagi kita. Apakah kita rela mengorbankan hidup kita dan waktu yang kita miliki hanya untuk bekerja keras demi mendapat materi? Ada satu hal yang harus kita ingat: Uang tidak bisa membeli segalanya. Bahkan kesehatan sekalipun—yang menurut sebagian orang dapat dibeli dengan uang, nyatanya tidak juga. Seseorang yang terkena sakit parah akibat terlalu keras memaksa dirinya untuk bekerja, belum tentu bisa mengembalikan kesehatannya dengan uang yang ia peroleh dari hasil kerjanya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">
Selamat bekerja sesuai dengan porsinya! GBU.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/makjoel.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/makjoel.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/makjoel.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/makjoel.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/makjoel.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/makjoel.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/makjoel.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/makjoel.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/makjoel.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/makjoel.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/makjoel.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/makjoel.wordpress.com/238/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/makjoel.wordpress.com/238/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/makjoel.wordpress.com/238/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=makjoel.wordpress.com&amp;blog=6950483&amp;post=238&amp;subd=makjoel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://makjoel.wordpress.com/2011/11/10/%e2%80%98hidup-untuk-bekerja%e2%80%99-atau-%e2%80%98bekerja-untuk-hidup%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e3e8dd37a469579c7d9915ce9ea4435f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">makjoel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memilih untuk Bahagia</title>
		<link>http://makjoel.wordpress.com/2011/10/29/memilih-untuk-bahagia-2/</link>
		<comments>http://makjoel.wordpress.com/2011/10/29/memilih-untuk-bahagia-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Oct 2011 05:24:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>makjoel</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://makjoel.wordpress.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Memilih untuk Bahagia.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=makjoel.wordpress.com&amp;blog=6950483&amp;post=233&amp;subd=makjoel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://wp.me/pta8z-3I">Memilih untuk Bahagia</a>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/makjoel.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/makjoel.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/makjoel.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/makjoel.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/makjoel.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/makjoel.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/makjoel.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/makjoel.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/makjoel.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/makjoel.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/makjoel.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/makjoel.wordpress.com/233/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/makjoel.wordpress.com/233/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/makjoel.wordpress.com/233/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=makjoel.wordpress.com&amp;blog=6950483&amp;post=233&amp;subd=makjoel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://makjoel.wordpress.com/2011/10/29/memilih-untuk-bahagia-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e3e8dd37a469579c7d9915ce9ea4435f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">makjoel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memilih untuk Bahagia</title>
		<link>http://makjoel.wordpress.com/2011/10/28/memilih-untuk-bahagia/</link>
		<comments>http://makjoel.wordpress.com/2011/10/28/memilih-untuk-bahagia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 14:59:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>makjoel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[ajahn brahm]]></category>
		<category><![CDATA[Anthony de mello]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://makjoel.wordpress.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[Siang ini di hari Jumat, tidak seperti yang biasanya saya lakukan—setidaknya selama kurang lebih setahun terakhir ini—saya menyempatkan diri membuat tulisan ini. Sudah hampir dua minggu saya ‘istirahat’ dari pekerjaan kantor dan di sela waktu saya mencari pekerjaan yang baru dan menunggu panggilan untuk tes, saya mengisi waktu saya dengan membaca beberapa buku. Beberapa hari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=makjoel.wordpress.com&amp;blog=6950483&amp;post=230&amp;subd=makjoel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siang ini di hari Jumat, tidak seperti yang biasanya saya lakukan—setidaknya selama kurang lebih setahun terakhir ini—saya menyempatkan diri membuat tulisan ini. Sudah hampir dua minggu saya ‘istirahat’ dari pekerjaan kantor dan di sela waktu saya mencari pekerjaan yang baru dan menunggu panggilan untuk tes, saya mengisi waktu saya dengan membaca beberapa buku. Beberapa hari yang lalu, salah seorang teman baik saya berkata kepada saya bahwa dengan mengungkapkan apa yang kita dapat dari sebuah buku maka kita akan lebih mudah menerapkannya. Maka di sinilah saya, mencoba membuat tulisan yang semoga dapat bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.</p>
<p>Beberapa bulan yang lalu, saya membaca sebuah buku yang sangat menarik. Buku yang tidak biasa, tidak seperti buku-buku inspirasi lainnya yang menawarkan cara-cara untuk sukses, cara-cara untuk bahagia, cara-cara untuk kaya, dan hal-hal duniawi lainnya. Mungkin agak terlambat bagi saya karena buku ini sebenarnya sudah cukup lama diterbitkan. Buku tersebut berjudul <em>Awareness</em>, kumpulan hasil perenungan Anthony de Mello yang dirangkai dengan apik dan diedit menjadi sebuah buku panduan spiritual.</p>
<p>Tulisan ini bukan resensi dari buku tersebut. Saya hanya ingin mengawali tulisan ini dengan sebuah buku yang mengubah cara pandang saya terhadap hidup pada umumnya, dan terhadap kebahagiaan khususnya.</p>
<p>Bagaimana kita memandang kebahagiaan selama ini? Banyak orang yang berkata ‘kalau saya memiliki barang itu saya pasti akan bahagia’, ‘kalau saya menikah dengan orang itu pasti saya akan bahagia’ atau ‘kalau saya bisa jadi seperti orang itu pasti saya akan bahagia’</p>
<p>Begitu banyak syarat yang kita ajukan untuk bahagia. Namun, sungguhkah kita akan bahagia dengan memenuhi semua syarat itu? Mungkin pada awalnya iya, tapi berapa lama kebahagiaan yang tercipta dari kepemilikian atas hal-hal duniawi itu bertahan? Seingat saya, tidak cukup lama.</p>
<p>Pada pokok bahasan ke-24 dalam <em>Awareness,</em> Anthony de Mello menyebutkan, “Kebahagiaan yang sejati adalah tanpa sebab.” dan “Kebahagiaan merupakan keadaan alami dari anak-anak kecil, yang memiliki kerajaan Allah, sampai suatu saat diri mereka dicemari dan dinodai oleh kebodohan masyarakat dan budaya.” Pernyataan ini mungkin terasa sangat menusuk hati. Namun, jika dengan jujur kita merenungkannya, pernyataan tersebut memang benar adanya.</p>
<p>Saya sering memberi syarat untuk merasa bahagia. Saya akan lebih bahagia jika saya bisa mencapai kesuksesan tertentu. Saya akan bahagia jika saya dapat memiliki barang tertentu. Namun, faktanya, setelah saya memiliki semuanya itu, kebahagiaannya tidak berlangsung lama. Saya segera menginginkan hal lain yang lebih lagi..dan akan seterusnya begitu. Jika kita tidak sadar akan makna kebahagiaan yang sejati, kita akan terus terjebak dalam pengertian kebahagiaan yang bersyarat dan jika demikian, sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa menemukan dan merasakan kebahagiaan sejati.</p>
<p>Merasa bahagia atau tidak, sesungguhnya adalah pilihan kita.  Dalam situasi seperti apapun, kita bisa memilih untuk merasa bahagia atau sebaliknya. Ketika seseorang membicarakan hal buruk tentang kita, kita bisa memilih untuk tetap tenang dan merasa bahagia, atau merusak kebahagiaan kita dengan marah dan membenci orang itu. Semuanya adalah pilihan kita sendiri. Sayangnya, kecenderungan dan pengaruh dari lingkungan di sekitar kita seringkali mendorong kita untuk memilih hal yang keliru. Ketika seseorang berbicara hal buruk tentang kita, bukankah kita punya pilihan untuk memaafkannya atau malah menghardiknya? Dalam situasi seperti itu, orang cenderung akan marah atau menyimpan dendam kepada orang yang telah menjelek-jelekkan dirinya. Bahkan teman-teman di sekitar kita pun mungkin mendorong kita untuk melakukan itu, dengan kata-kata seperti, “Masa’ kamu diam saja diperlakukan seperti itu?” atau  “Kamu harus membalas perbuatannya!”<span id="more-230"></span></p>
<p>Sangat sedikit di antara kita yang mungkin akan seketika memaafkan orang yang telah menjelek-jelekkan kita. Sangat sulit memang untuk berperilaku sebaliknya dari kebiasaan umum. Namun, sekali lagi, dalam situasi apapun sebenarnya kita punya pilihan untuk bahagia. Dengan memaafkan secara tulus, hati kita akan terasa damai dan tenang. Itulah kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati tidak akan kita dapatkan dengan menghardik atau membalas perbuatan orang yang telah menjelek-jelekkan kita. Mengklarifikasi adalah sesuatu yang wajib dilakukan, tetapi tidak harus disertai dengan emosi apalagi balas dendam.</p>
<p>Saya sempat menyaksikan sebuah acara di Metro TV yang dipandu oleh Desi Anwar. Kebetulan pada episode yang saya tonton, Desi Anwar melakukan wawancara dengan beberapa orang yang dianggap telah menemukan makna kebahagiaan sejati. Ketika mengamati dan mendengarkan jawaban orang-orang itu, saya merasa kagum. Dari wajah mereka tampak ketenangan dan kedamaian. Begitu pula yang tercermin dari jawaban-jawaban mereka. Inti dari apa yang mereka sampaikan sama: Kebahagiaan tidak muncul dari luar diri kita, tetapi dari dalam diri kita sendiri. Kitalah yang menentukan kebahagiaan kita.</p>
<p>Baru-baru ini saya membaca sebuah buku kumpulan cerita Ajahn Brahm. Seperti halnya yang saya rasakan ketika membaca buku kumpulan cerita Anthony de Mello, saya merasakan sesuatu yang berbeda. Saya merasa pintu-pintu yang terbuka dalam pikiran saya. Seolah selama ini saya hidup dalam pikiran yang tertutup dan cara pandang yang sangat sempit mengenai hidup. Namun, cara orang-orang istimewa ini memaknai kehidupan sungguh luar biasa. Mereka mungkin telah menemukan dan mempraktikkan kebahagiaan yang sejati dalam hidup mereka.</p>
<p>Menemukan kebahagiaan sejati bukan berarti kita tidak akan ditimpa masalah atau kesulitan. Masalah atau kesulitan pasti akan tetap ada. Semuanya sama seperti biasanya. Disibukkan dengan urusan pekerjaan, menghadapi klien kerja dan rekan kerja yang mungkin agak sulit diajak bekerja sama, menghadapi atasan yang keras, menghadapi pelanggan yang banyak komplain&#8230;semuanya sama. Namun, ada satu hal yang akan berbeda, yaitu cara pandang kita terhadap masalah atau kesulitan itu sendiri. Memilih untuk bahagia tidak berarti menghindari setiap masalah yang muncul. Justru dengan memilih untuk bahagia, kita akan mampu melewati setiap persoalan hidup dengan lebih tenang. Persoalan yang datang, janganlah kita anggap sebagai musuh. Percayalah setiap persoalan selalu disertai dengan pelajaran dan pasti ada jalan keluarnya. Terimalah masalah itu hadir dalam hidup kita dan bukalah diri kita untuk menerima masalah itu. Semakin kita menolak dan menghindari, maka masalah itu bukannya akan selesai melainkan malah akan semakin besar dan tak kunjung selesai.</p>
<p>Rick Warren, dalam  bukunya <em>God’s Answers to Life’s Difficult Questions</em>, memberikan arahan yang lebih praktis mengenai bagaimana kita sebaiknya menyikapi persoalan-persoalan yang terjadi dalam hidup. Salah satu bagian yang cukup menarik bagi saya adalah pembahasan mengenai bagaimana kita menangani persoalan-persoalan yang terjadi dalam hidup kita.</p>
<p>Ada enam prinsip yang dapat dipraktikkan untuk menangani persoalan yang terjadi menurut Rick Warren. Prinsip pertama adalah <em>Kenali musuh</em>. Kita sering salah mengira bahwa musuh kita adalah orang lain, padahal sebenarnya kerap kali musuh kita sebenarnya adalah sikap kita sendiri.  Peristiwa yang terjadi sering tidak cukup kuat untuk menjatuhkan kita, tetapi respon kita terhadap masalah yang terjadi. Prinsip kedua adalah <em>membawa persoalan kita kepada Tuhan</em>. Jika kita percaya bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang Mahakuasa, seharusnya kita tidak perlu khawatir dan dengan menyerahkan persoalan itu ke dalam tanganNya, percayalah Tuhan akan menolong kita pada saat yang tepat. Prinsip ketiga adalah <em>mengakui ketidakmampuan kita</em>. Seringkali kita merasa sombong dengan kemampuan kita sendiri, tetapi di saat ternyata persoalan terasa sangat berat, kita menjadi putus asa dan bingung harus berbuat apa. Ingatlah bahwa sebagai manusia, kita sangat terbatas, tetapi kekuatan Tuhan kita sangat tidak terbatas. Prinsip keempat adalah <em>bergantung kepada sumber-sumber Allah</em>. Kita sering memilih bergantung pada hal-hal lain atau ‘allah-allah lain dalam usaha memecahkan persoalan kita. Mengapa masih ragu akan kemampuan Tuhan? Percayalah kepadaNya dan bahwa kuasaNya jauh melebihi kuasa-kuasa lain yang ada. Prinsip kelima adalah <em>rileks di dalam iman</em>. Kita tidak menopang Allah; Dialah yang menopang kita. Rilekslah dalam iman dan biarkan Allah bekerja melalui diri kita menurut caraNya. Prinsip keenam adalah <em>bersyukur kepada Allah terlebih dahulu</em>—bahkan sebelum masalah yang kita hadapi selesai—karena kita percaya bahwa tidak ada situasi yang tidak dapat Ia tangani.</p>
<p>Ada sebuah kutipan puisi yang sangat indah yang ditampilkan dalam kumpulan buku Ajahn Brahm <em>Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya</em>:</p>
<p><em>Terlalu berlebihan berharap untuk hidup tanpa rasa sakit,</em></p>
<p><em>Adalah salah berharap untuk hidup tanpa rasa sakit,</em></p>
<p><em>Karena rasa sakit adalah pertahanan tubuh kita.</em></p>
<p><em>Tak pedulli seberapa tak sukanya kita,</em></p>
<p><em>Dan tak ada yang suka rasa sakit,</em></p>
<p><em>Rasa sakit itu penting,</em></p>
<p><em>Dan kepada rasa sakitlah kita harus berterima kasih.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Bagaimana lagi kita bisa tahu</em></p>
<p><em>Untuk menarik tangan kita dari api?</em></p>
<p><em>Jari kita dari belati?</em></p>
<p><em>Kaki kita dari duri?</em></p>
<p><em>Jadi rasa sakit itu penting</em></p>
<p><em>Dan kepada rasa sakitlah kita harus berterima kasih.</em></p>
<p>&#8230;.</p>
<p align="right"><em>Jonathan Wilson-Fuller</em></p>
<p>Sepenggal puisi di atas ditulis Jonathan saat ia berusia 9 tahun.</p>
<p>Betapa indahnya hidup ini jika kita mampu merasakan kebahagiaan sejati dalam diri kita. Berteman dengan setiap persoalan yang hadir dan menyikapinya dengan bijaksana, tetap merasa bahagia sekalipun berbagai persoalan datang menerpa.</p>
<p>Percayalah kita mampu. Semua itu hanya membutuhkan keberanian dari diri kita sendiri untuk memilih. Jadi, maukah Anda merasakan kebahagiaan sejati?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/makjoel.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/makjoel.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/makjoel.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/makjoel.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/makjoel.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/makjoel.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/makjoel.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/makjoel.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/makjoel.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/makjoel.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/makjoel.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/makjoel.wordpress.com/230/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/makjoel.wordpress.com/230/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/makjoel.wordpress.com/230/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=makjoel.wordpress.com&amp;blog=6950483&amp;post=230&amp;subd=makjoel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://makjoel.wordpress.com/2011/10/28/memilih-untuk-bahagia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e3e8dd37a469579c7d9915ce9ea4435f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">makjoel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hidupmu Berharga!</title>
		<link>http://makjoel.wordpress.com/2011/10/27/hidupmu-berharga/</link>
		<comments>http://makjoel.wordpress.com/2011/10/27/hidupmu-berharga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2011 14:52:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>makjoel</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://makjoel.wordpress.com/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[“Buluh yang terkulai takkan dipatahkanNya, Dia ‘kan jadikan indah, sungguh lebih berharga. Sumbu yang t’lah pudar takkan dipadamkanNya, Dia ‘kan jadikan terang untuk kemuliaanNya,” Sahabat-sahabat terkasih tentu ada yang sudah mengenal cuplikan lirik di atas. Saya pribadi baru mengetahui lirik itu ketika saya mengikuti sebuah KKR di Kudus. Tema KKR saat itu adalah “Life without [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=makjoel.wordpress.com&amp;blog=6950483&amp;post=228&amp;subd=makjoel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“<em>Buluh yang terkulai takkan dipatahkanNya, Dia ‘kan jadikan indah, sungguh lebih berharga. Sumbu yang t’lah pudar takkan dipadamkanNya, Dia ‘kan jadikan terang untuk kemuliaanNya,”</em></p>
<p>Sahabat-sahabat terkasih tentu ada yang sudah mengenal cuplikan lirik di atas. Saya pribadi baru mengetahui lirik itu ketika saya mengikuti sebuah KKR di Kudus. Tema KKR saat itu adalah “Life without Regrets” yang diadakan oleh Persekutuan Doa Disciples Kudus. Lagu itu dinyanyikan berulang kali. Ketika mendengar refren dari lagu “Hidupmu Berharga” itu hati saya langsung terharu. Saat itu saya merasa, saya seperti buluh yang terkulai dan sumbu yang telah pudar. Saya seperti nyaris tidak punya harapan. Saya tidak tahu apa yang dapat saya perbuat. Saya merasa apakah hidup saya berarti?</p>
<p>Namun, melalui pujian itu, Tuhan seperti menyadarkan saya. Dia menegur saya dan berkata, “Hidupmu berharga bagiKu,” dan bukan hanya berharga, bahkan Dia akan menjadikan diri kita yang rapuh ini jauh lebih indah daripada sebelumnya.</p>
<p>Sahabat-sahabat terkasih, saya yakin dewasa ini banyak di antara kita yang sering merasa putus asa, tertekan, merasa seolah tidak ada harapan dan merasa hidup kita tidak berarti.</p>
<p>Saya sering merasa masalah dan kesulitan datang tiada henti. Saya sering merasa tidak bisa berbuat banyak dalam pekerjaan saya, dan tidak jarang saya merasa menjadi beban bagi orang lain. Saat itu saya sungguh merasa putus asa dan kehilangan semangat. Saya yakin banyak teman yang juga merasakan hal itu. Beberapa teman saya juga menceritakan perasaan tertekan mereka, rasa frustasi, karena lingkungan kerja yang tidak nyaman, atasan yang seenaknya, sikap senior yang sulit diajak bekerja sama, dan lain-lain. Dan saya merasa cukup beruntung karena saya merasa diterima dengan baik di lingkungan kerja saya. Saya pun sadar, ternyata banyak teman saya yang jauh lebih tertekan daripada saya. Mungkin masalah mereka jauh lebih besar daripada yang saya hadapi.</p>
<p>Melalui tulisan ini, saya tidak bermaksud menggurui. Saya hanya akan menuliskan apa yang saya rasakan. Saya tidak mengatakan bahwa apa yang saya tulis di sini adalah kebenaran. Sekali lagi, yang saya tulis di sini adalah apa yang saya rasakan.</p>
<p>Saya sendiri merasakan menjadi sumbu yang telah pudar. Saya merasa tidak punya semangat lagi dalam pekerjaan saya. Saya merasa berangkat kerja seperti berangkat sekolah. Yang penting saya masuk, mengerjakan apa yang ditugaskan kepada saya, lalu saya pulang. Saya kehilangan sebagian besar semangat saya untuk mencoba hal-hal baru dan belajar hal-hal baru. Saya juga merasa keberadaan saya tidak berarti di tempat kerja saya. Toh tanpa adanya saya pun, pasti semuanya akan baik-baik saya. Keberadaan saya tidak membawa perbedaan apapun. Apa artinya saya di sini? Perasaan itu terus-menerus melingkupi hati saya pada masa-masa awal saya bekerja.</p>
<p>Namun, apa yang terjadi selanjutnya sungguh membuat saya terharu. Suatu ketika, saya mendapatkan sebuah proyek, proyek kecil, karena hanya membuat beberapa warna sampel. Namun, proyek itu saya kerjakan dengan tekun dan akhirnya proyek itu berbuah menjadi sebuah order, yang pada akhirnya membeirkan omzet untuk unit saya yang kala itu sedang dilanda krisis. Saya mulai merasa bangga, sekaipun saya sadar masih banyak kekurangan dan kesalahan yang saya lakukan. Hal yang membuat saya terkejut sesungguhnya bukanlah keberhasilan proyek kecil saya menjadi sebuah order, melainkan kata-kata dari teman sekantor saya. Beliau berkata, “Nanti seandainya saya pensiun, saya ingin Anda yang menggantikan saya di posisi ini, saya percaya Anda bisa,”</p>
<p>Ketika mendengar kata-kata itu hati saya sangat bergejolak. Di satu sisi saya merasa bangga, tapi di sisi lain saya juga takut akan tanggung jawab yang begitu besar jika saya harus menggantikan Beliau. Namun, lebih daripada itu, saya berpikir, siapakah saya? Saya hanya seorang sarjana yang baru saja lulus, belum lama bekerja, mengapa saya bisa mendengar kata-kata itu? saat merenungkan kembali peristiwa itu, saya baru mengerti arti dari kalimat lagu di atas.</p>
<p>“Sumbu yang t’lah pudar takkan dipadamkanNya, Dia ‘kan jadikan terang untuk kemuliaanNya” Ya, kita semua yang merasa seperti hampir kehilangan harapan, kita semua yang merasa tidak berarti, merasa seperti sumbu yang nyaris kehilangan nyalanya, ada satu hal yang harus kita ingat: Jangan hilang harapan! Sekecil apapun nyala api itu, pertahankan, jangan sampai padam! Jika nyala itu padam, akan sulit untuk menghidupkannya lagi, tetapi jika ada sedikit saja nyala di sumbu itu, dengan pertolonganNya, nyala itu akan mampu berubah menjadi terang yang bercahaya, menerangi sekitarnya.</p>
<p>Apapun hal yang membuat kita tertekan, yang membuat kita merasa putus asa dan merasa hidup kita tidak berarti, percayalah, hal itu tidak lebih besar daripada kuasa Tuhan!</p>
<p>Apapun yang dikatakan orang lain tentang kita, percayalah bahwa hidup kita berharga bagi Allah! Bukankah kita sudah ditebus dengan darah yang mahal? Kita, manusia yang penuh kekurangan ini, ditebus dengan pengorbanan darah Putra Allah sendiri. Bayangkan, Bapa mana yang rela mengorbankan puteranya untuk orang lain—jika orang lain itu tidak dikasihiNya?</p>
<p>Sahabat-sahabat terkasih, sesulit apapun kondisi kita saat ini, seberat apapun jalan hidup yang harus kita lalui, percayalah selalu kepadaNya. Pertahankan, dan selalu berharaplah kepadaNya! Dia tidak pernah mengingkari janjiNya. Dan ketika kita telah lemah seperti buluh yang terkulai, percayalah Ia tidak akan membuang kita. Ia tidak akan mematahkan semangat kita, malahan Ia akan menjadikan kita jauh lebih indah. Ketika kita merasa nyala semangat kita nyaris padam, tetaplah berharap padaNya, karena Ia akan menjadikan kita nyala-nyala terang yang mampu menerangi sekitar kita, sehingga hidup kita dapat menjadi kemuliaan bagi nama Allah.</p>
<p>Di kala hati kita sedih, ingatlah betapa berharganya hidup kita yang telah ditebus dengan darah Sang Anak Domba Allah. Jangan menyia-nyiakan hidup kita yang begitu berharga dengan tidak melakukan apapun. Berusaha, berharaplah, berdoalah, percayalah! Dan&#8230;sabarlah menanti berkatNya datang.</p>
<p>“Hidupmu berharga bagi Allah, tiada yang tak berkenan di hadapanNya</p>
<p>Diciptakan kau sturut gambarNya, sungguh terlalu indah kau bagi Dia.</p>
<p>Dia berikan kasihNya bagi kita, Dia t’lah relakan segala-galanya</p>
<p>Dia disalib tuk tebus dosa kita, karna hidupmu sangatlah berharga.</p>
<p>Buluh yang terkulai, takkan dipatahkanNya</p>
<p>Dia ‘kan jadikan indah sungguh lebih berharga</p>
<p>Sumbu yang t’lah pudar takkan dipadamkanNya</p>
<p>Dia ‘kan jadikan terang untuk kemuliaanNya”</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/makjoel.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/makjoel.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/makjoel.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/makjoel.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/makjoel.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/makjoel.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/makjoel.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/makjoel.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/makjoel.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/makjoel.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/makjoel.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/makjoel.wordpress.com/228/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/makjoel.wordpress.com/228/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/makjoel.wordpress.com/228/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=makjoel.wordpress.com&amp;blog=6950483&amp;post=228&amp;subd=makjoel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://makjoel.wordpress.com/2011/10/27/hidupmu-berharga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e3e8dd37a469579c7d9915ce9ea4435f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">makjoel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Green Grass</title>
		<link>http://makjoel.wordpress.com/2011/08/26/green-grass-2/</link>
		<comments>http://makjoel.wordpress.com/2011/08/26/green-grass-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Aug 2011 11:25:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>makjoel</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://makjoel.wordpress.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[Green Grass.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=makjoel.wordpress.com&amp;blog=6950483&amp;post=218&amp;subd=makjoel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://wp.me/pta8z-38">Green Grass</a>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/makjoel.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/makjoel.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/makjoel.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/makjoel.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/makjoel.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/makjoel.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/makjoel.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/makjoel.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/makjoel.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/makjoel.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/makjoel.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/makjoel.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/makjoel.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/makjoel.wordpress.com/218/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=makjoel.wordpress.com&amp;blog=6950483&amp;post=218&amp;subd=makjoel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://makjoel.wordpress.com/2011/08/26/green-grass-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e3e8dd37a469579c7d9915ce9ea4435f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">makjoel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>24.08.11</title>
		<link>http://makjoel.wordpress.com/2011/08/23/24-08-11/</link>
		<comments>http://makjoel.wordpress.com/2011/08/23/24-08-11/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Aug 2011 17:14:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>makjoel</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://makjoel.wordpress.com/?p=213</guid>
		<description><![CDATA[Today&#8230;what happened today? Beside I got my first &#8220;THR&#8221;, I spent this evening with my friends and had dinner together. Unfortunately, the lamp suddenly turned off so we had to go home (actually it&#8217;s already near the closing time of the restaurant too hahaha&#8230;) One thing that&#8217;s funny was, when we wanted to pay the [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=makjoel.wordpress.com&amp;blog=6950483&amp;post=213&amp;subd=makjoel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Today&#8230;what happened today? Beside I got my first &#8220;THR&#8221;, I spent this evening with my friends and had dinner together. Unfortunately, the lamp suddenly turned off so we had to go home (actually it&#8217;s already near the closing time of the restaurant too hahaha&#8230;)<br />
One thing that&#8217;s funny was, when we wanted to pay the bill, the employees prepared a lamp and tried to join the cable to another electricity station. They pulled the cable until it reached the limit. We&#8217;d already warned them that the lamp was going to fall, but they didn&#8217;t listen. As the result, the lamp was really fell and it&#8217;s broken. I think the employees did something unnecessary. Why didn&#8217;t they just give us some little light? I think it&#8217;s enough for us to see the bill. However, I think it&#8217;s unique.<br />
Not only the employee&#8217;s behavior, but also the taste of the drink. I&#8217;m not a chef or someone who are an expert on food and beverage, but I think the taste of the drink is a bit weird hahaha. This is my first time to try a soybean milk, mixed with some other flavorings (it&#8217;s written &#8216;rempah-rempah&#8217; on the menu, and I don&#8217;t know which one they mixed in my drink) However, the flavorings don&#8217;t give better flavor on the soybean milk. I even prefer an ordinary soybean milk to the one I drank tonight. However, the most fascinating is the place&#8217;s interior. I think it&#8217;s really comfortable. On the outside they have an ordinary restaurant: a hall (but not as large as hall exactly) with some tables and chairs, but inside they have some gazebos and playing yard for the children. There is also a pond and fountain. I think the plus point of this place is really, the interior design. Thanks to the designer and I think the chef must learn more to be able to make better beverages that&#8217;s not only good for health but also can be enjoyed by the customer ^^</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/makjoel.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/makjoel.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/makjoel.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/makjoel.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/makjoel.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/makjoel.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/makjoel.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/makjoel.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/makjoel.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/makjoel.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/makjoel.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/makjoel.wordpress.com/213/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/makjoel.wordpress.com/213/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/makjoel.wordpress.com/213/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=makjoel.wordpress.com&amp;blog=6950483&amp;post=213&amp;subd=makjoel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://makjoel.wordpress.com/2011/08/23/24-08-11/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e3e8dd37a469579c7d9915ce9ea4435f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">makjoel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membangun dan Menjaga Relasi</title>
		<link>http://makjoel.wordpress.com/2011/08/23/membangun-dan-menjaga-relasi-2/</link>
		<comments>http://makjoel.wordpress.com/2011/08/23/membangun-dan-menjaga-relasi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Aug 2011 16:52:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>makjoel</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://makjoel.wordpress.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Membangun dan Menjaga Relasi.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=makjoel.wordpress.com&amp;blog=6950483&amp;post=210&amp;subd=makjoel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://wp.me/pta8z-3h">Membangun dan Menjaga Relasi</a>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/makjoel.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/makjoel.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/makjoel.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/makjoel.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/makjoel.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/makjoel.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/makjoel.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/makjoel.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/makjoel.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/makjoel.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/makjoel.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/makjoel.wordpress.com/210/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/makjoel.wordpress.com/210/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/makjoel.wordpress.com/210/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=makjoel.wordpress.com&amp;blog=6950483&amp;post=210&amp;subd=makjoel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://makjoel.wordpress.com/2011/08/23/membangun-dan-menjaga-relasi-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e3e8dd37a469579c7d9915ce9ea4435f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">makjoel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Real Happiness</title>
		<link>http://makjoel.wordpress.com/2011/08/23/the-real-happiness-2/</link>
		<comments>http://makjoel.wordpress.com/2011/08/23/the-real-happiness-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Aug 2011 16:50:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>makjoel</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://makjoel.wordpress.com/?p=208</guid>
		<description><![CDATA[The Real Happiness.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=makjoel.wordpress.com&amp;blog=6950483&amp;post=208&amp;subd=makjoel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://wp.me/pta8z-3c">The Real Happiness</a>.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/makjoel.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/makjoel.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/makjoel.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/makjoel.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/makjoel.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/makjoel.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/makjoel.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/makjoel.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/makjoel.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/makjoel.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/makjoel.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/makjoel.wordpress.com/208/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/makjoel.wordpress.com/208/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/makjoel.wordpress.com/208/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=makjoel.wordpress.com&amp;blog=6950483&amp;post=208&amp;subd=makjoel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://makjoel.wordpress.com/2011/08/23/the-real-happiness-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e3e8dd37a469579c7d9915ce9ea4435f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">makjoel</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membangun dan Menjaga Relasi</title>
		<link>http://makjoel.wordpress.com/2011/08/21/membangun-dan-menjaga-relasi/</link>
		<comments>http://makjoel.wordpress.com/2011/08/21/membangun-dan-menjaga-relasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Aug 2011 10:57:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>makjoel</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://makjoel.wordpress.com/?p=203</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat-sahabat terkasih, pada kesempatan ini saya ingin berbagi pengalaman mengenai hubungan/relasi. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa pada awal masa sekolah, saya nyaris tidak memiliki teman. Saya memang termasuk anak yang pendiam dan tertutup, bahkan hingga saat ini pun saya masih termasuk pendiam dan tertutup. Pada awal masa sekolah, saya sungguh sangat kurang bersosialisasi. Saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=makjoel.wordpress.com&amp;blog=6950483&amp;post=203&amp;subd=makjoel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sahabat-sahabat terkasih, pada kesempatan ini saya ingin berbagi pengalaman mengenai hubungan/relasi. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa pada awal masa sekolah, saya nyaris tidak memiliki teman. Saya memang termasuk anak yang pendiam dan tertutup, bahkan hingga saat ini pun saya masih termasuk pendiam dan tertutup. Pada awal masa sekolah, saya sungguh sangat kurang bersosialisasi. Saya datang ke sekolah, belajar, lalu pulang. Saya jarang bermain dan bergaul dengan teman-teman. Hal itu terus berlanjut hingga saya memasuki usia 9 tahun. Saat itulah mungkin Tuhan mulai ‘memoles’ saya. Tuhan memberikan teman-teman kepada saya, bukan lewat permainan atau hobi, namun lewat prestasi akademik. Bukan maksud saya untuk menyombongkan diri, tetapi saya merasa bahwa teman-teman mulai memperhatikan saya ketika prestasi akademik saya cukup menonjol di kelas. Bahkan akhirnya, saya memiliki beberapa sahabat dan tidak lagi menjadi ‘seorang diri’ di sekolah. Ketika SMP, saya mulai memiliki sahabat yang lebih akrab. Saya pun sering menjadi tempat curhat teman-teman dan sahabat-sahabat saya.<span id="more-203"></span><br />
Sebenarnya saya merasa bahwa saya tidak berbuat banyak. Seringkali saya tidak bisa memberikan solusi untuk persoalan yang dihadapi teman-teman saya, tetapi mereka tidak pernah bosan menceritakan isi hatinya untuk saya.<br />
Ketika saya beranjak dewasa, saya mulai menekuni hobi yang hingga saat ini masih saya lakukan, yaitu membaca buku-buku psikologi. Dari situ saya mendapat banyak masukan, terutama masukan untuk mengembangkan diri dan hidup dengan harmonis. Dari salah satu buku yang pernah saya baca, dikatakan bahwa: Hal terbaik yang bisa Anda lakukan ketika sahabat Anda menceritakan masalahnya kepada Anda adalah mendengarkannya dengan sepenuh hati.<br />
Tidak perlu banyak berkomentar, tidak perlu banyak memberi nasihat. Dengarkan dengan baik, maka hal itu akan menjadi sangat berarti untuk sahabat Anda. Saat itu saya mulai mengerti, mengapa banyak teman yang senang bercerita kepada saya. Mungkin hal itu karena saya selalu mendengarkan cerita mereka dengan sungguh-sungguh. Sekalipun mungkin saya tidak terlalu memahami cerita mereka, saya tetap mendengarkan. Dan seiring dengan berjalannya waktu, saya pun menyadari kebahagiaan yang diperoleh ketika cerita kita didengarkan dengan sungguh-sungguh oleh orang lain. Kita merasa diperhatikan, kita merasa berarti. Bayangkan jika saat kita bercerita dengan sungguh-sungguh, orang yang mendengar cerita kita malah sibuk berkutat dengan handphonenya. Pasti hal itu sangat tidak menyenangkan, dan itu akan membuat kita malas untuk bercerita kepada orang itu.<br />
Di dunia ini memang tidak banyak orang yang bisa menjadi pendengar yang baik, bahkan lebih sulit lagi jika Anda ingin mencari orang yang mau meluangkan waktunya hanya untuk mendengar cerita Anda. Namun, ketika Anda menemukannya, peliharalah hubungan yang baik dengan orang itu—selain karena ia akan tahu rahasia Anda—mereka adalah satu dari beberapa pendengar yang baik.<br />
Namun, perlu saya ingatkan bahwa kita tidak perlu juga menyerahkan seluruh waktu kita hanya untuk mendengarkan curhat orang lain. Kita hanya punya 24 jam sehari, dan kita harus mempergunakan waktu itu dengan sebaik-baiknya. Jadi, pandai-pandailah mengatur waktu itu, agar kehidupan kita seimbang, artinya kita dapat berkembang, dan juga dapat berguna bagi orang lain.<br />
Lalu bagaimana menjalin relasi yang baik dengan orang lain? Sebenarnya kuncinya hanya satu: membuka hati. Ya, membangun relasi yang baik diawali dengan kesediaan kita untuk membuka hati terhadap orang lain. Artinya, kita mau menerima orang itu dan mau berbagi pengalaman dengan orang lain. Relasi yang dibangun tanpa ada kesediaan untuk saling membuka hati tidak akan bertahan menjadi relasi yang baik. Yang kedua, tidak perlu takut membangun relasi dengan orang lain. Saya beberapa kali ditegur oleh sahabat-sahabat saya yang merasa saya membangun relasi dengan orang yang salah. Namun, saya selalu berpendapat bahwa penilaian seseorang terhadap yang lain tidak mungkin sama. Saya pun memiliki penilaian sendiri terhadap seseorang. Memang, penilaian dari orang lain akan menjadi referensi bagi saya juga, tetapi pada akhirnya, yang memutuskan adalah diri saya sendiri. Dengan siapa saya berteman pun adalah hak saya. Hingga saat ini, ada beberapa teman yang mulai bisa menerima pemikiran saya itu, meski mungkin beberapa masih belum bisa menerima.<br />
Salah satu hal unik yang pernah terjadi waktu saya sekolah, saya bersahabat dengan dua orang teman, dan tanpa sepengetahuan saya, rupanya dua orang ini sebenarnya tidak cocok satu sama lain. Namun, ketika menghabiskan waktu bersama saya, mereka tampak baik-baik saja. Mungkin mereka ingin menjaga perasaan satu sama lain dan merasa sungkan dengan saya, tetapi saya merasa itu adalah sebuah langkah awal untuk memperbaiki hubungan. Mungkin orang yang selama ini hanya kita kenal 5%nya saja sudah kita anggap atau kita beri cap yang kurang baik, padahal jika kita mengenal 95% sisanya, mungkin kita baru akan mengetahui bahwa ternyata orang itu baik. Percayalah, tidak ada hubungan yang akan sia-sia jika kita membangunnya. Meskipun mungkin akan ada banyak masalah dan persoalan yang terjadi, hingga akhirnya mungkin kita akan memutuskan hubungan itu, tapi tetaplah percaya bahwa dalam proses menjalani relasi itu, kita juga telah mendapat banyak pengalaman dan pelajaran untuk kita, terutama dalam hal membangun relasi. Kesalahan yang pernah kita lakukan pada relasi kita sebelumnya, jangan sampai kembali terulang di relasi kita yang lain.<br />
Sejauh ini, saya tidak pernah menyesal membangun relasi, terutama dengan orang-orang yang menjadi sahabat-sahabat saya. Meski dalam relasi tidak ada yang abadi, dan mungkin relasi kita dengan seserong hanya akan berlangsung untuk waktu yang singkat, semua itu tetaplah berarti. Baik atau buruk, semuanya itu akan memperkaya pengalaman kita dalam membangun relasi dengan orang lain.<br />
Sahabat-sahabat terkasih, semoga kita pun tidak takut untuk membangun relasi dengan orang lain, sekalipun orang itu tersingkir dan dikucilkan dalam masyarakat. Justru dengan membangun relasi dengan orang-orang yang tersingkir itu, kita akan mampu menunjukkan identitas diri kita sebagai anak-anak Terang dan sebagai pembawa damai bagi orang-orang di sekitar kita.<br />
Semoga Tuhan selalu menganugerahkan hati yang terbuka dan kemauan yang kuat bagi kita untuk membangun relasi yang baik dengan orang lain. Dan semoga setiap relasi yang kita bangun, akan dapat mengembangkan diri kita, bermanfaat bagi orang lain, dan akan semakin memuliakan nama Allah. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/makjoel.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/makjoel.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/makjoel.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/makjoel.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/makjoel.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/makjoel.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/makjoel.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/makjoel.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/makjoel.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/makjoel.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/makjoel.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/makjoel.wordpress.com/203/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/makjoel.wordpress.com/203/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/makjoel.wordpress.com/203/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=makjoel.wordpress.com&amp;blog=6950483&amp;post=203&amp;subd=makjoel&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://makjoel.wordpress.com/2011/08/21/membangun-dan-menjaga-relasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e3e8dd37a469579c7d9915ce9ea4435f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">makjoel</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
